
Valeno dan juga Fillea yang baru masuk ke dalam rumah langsung nyengir kuda. Saat ada dua pasangan paruh baya yang menatap tajam keduanya.
"Anak macam apa kamu? Tega sekali tidak memberitahu kabar bahagia ini kepada mommy. Kamu anggap kita sebagai apa?" tanya mommy Valeno sambil bertolak pinggang.
"Betul sekali dasar anak nakal," sambung bibi Sabila sambil memukul lengan Valeno dan langsung menggandeng tangan Fillea untuk menuju sofa yang berada di ruang tamu, disusul oleh mommy Valeno sambil membantu Fillea untuk duduk.
"Ini salah aku. Aku yang melarang Leno untuk memberitahu kalian. Karena aku tidak ingin mommy dan juga daddy kelelahan harus mondar-mandir. Maafkan kami mom," jelas Fillea karena memang dirinya yang menyuruh suaminya untuk tidak memberi tahu kabar gembira ini kepada semuanya.
"Tidak masalah sayang. Yang terpenting kamu baik-baik saja," sambung bibi Sabila sambil mengelus rambut Fillea dan memberikan ciuman singkat di keningnya.
"Tapi nanti dulu. Kamu tadi bilang apa? Leno?" tanya mommy Valeno membuat Fillea langsung mengangguk. "Mulai sekarang mommy tidak ingin mendengar kamu memanggil suami kamu dengan sebutan nama. Itu sangatlah tidak romantis. Mommy punya saran. Kamu harus memanggil Leno dengan sebutan…"
"Hatiku gitu? Jangan mau. Bibi tidak masalah kamu memanggil suami kamu dengan sebutan nama. Jangan dengarkan perkataan mommy kamu. Karena apa yang keluar dari mulutnya penuh dengan ke lebay an," sambung bibi Sabila memotong perkataan mommy Valeno sambil memegang dagu Fillea untuk menghadapnya.
"Tapi itu unik dan romantis Sabila dan tentu saja tidak pasaran. Mataku hatiku kalau disambung jadi mata hatiku iya kan?"
__ADS_1
"Idih romantis dari mana. Kalau tiba-tiba salah menyebut jadi matamu gimana? Itu kan bahasa kasar dasar nenek-nenek,"
"Kamu juga nenek-nenek," sambung mommy Valeno membuat Fillea hanya tersenyum sambil menggeleng geleng kan kepalanya. Begitupun ketiga pria yang sudah duduk jauh dari ketiga wanita tersebut.
"Begitulah istri kita kalau sudah bertemu," ujar daddy Valeno.
"Betul giliran tidak bertemu ingin bertemu. Giliran sudah bertemu heboh seperti itu," Sambung paman Malik yang masih menatap ketiga wanita yang sekarang menarik tangan Fillea menuju meja makan.
"Untuk apa nenek-nenek itu menarik tangan istriku. Ini tidak bisa dibiarkan," ujar Valeno sambil beranjak dari duduknya tapi tangan daddy nya langsung mencekal tangan Valeno.
"Biarkan saja. Kamu duduk kembali ada yang ingin daddy tanyakan kepadamu,"
"Kamu duduklah dulu,"
"Tapi dad lihatlah istriku," keluh Valeno sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Saat melihat istrinya terus dipaksa memakan makanan yang kedua wanita paruh baya bawa.
__ADS_1
"Bagus bukan. Agar istrimu tidak kurus lagi. Seperti kamu tidak pernah memberinya makan,"
"Enak saja kalau bicara. Aku selalu memberi makan yang penuh nutrisi dad bukan hanya dari mulut atas mulut bawah juga aku berikan nutrisi kalau tidak. Tidak mungkin perutnya bisa tumbuh subur seperti ini,"
"Mulut mengandung dua puluh satu plus nih. Ha ha ha," sambung paman Malik sambil tertawa membuat daddy Valeno hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa yang ingin daddy katakan?" tanya Valeno yang sekarang sudah duduk kembali di tempatnya.
"Apa benar Jessi mantan pacar kamu mencoba mengusik kamu dan juga istri kamu?"
"Sudah basi dad. Dan tenang saja semua sudah aman dan tidak ada lagi yang akan mengusik aku dan juga Lea oke,"
"Tapi…"
"Sudah dad tidak ada yang perlu di khawatir kan," sambung Valeno memotong perkataan daddy nya lalu beranjak dari duduknya menuju dimana istrinya berada.
__ADS_1
"Ada apa kenapa kamu begitu kuatir?" tanya paman Malik pada daddy Valeno ketika melihat ekspresi wajah saudaranya tersebut penuh dengan kekuatiran.
*Like*Komen*Bersambung.............