
Jam menunjukan pukul sebelas malam saat Valeno baru sampai rumah. Dirinya sudah menyadari pasti istrinya akan marah ke padanya. Apalagi saat Fillea menghubunginya dia tidak mengangkat ponselnya.
"Selamat malam pus," ucap Valeno saat sudah masuk ke dalam kamar tapi tidak ada sahutan dari istrinya yang sudah berada di atas tempat tidur. Kemudian dirinya mencium kening istrinya yang sudah memejamkan matanya dan dirinya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Valeno langsung naik ke atas tempat tidur setelah dirinya membersihkan diri. Kemudian dirinya langsung memeluk tubuh istrinya.
"Kamu sudah makan?" tanya Fillea dengan mata yang masih terpejam.
"Kamu belum tidur pus. Aku kira kamu sudah tidur,"
"Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?"
"Belum pus. Aku belum makan,"
"Sana makan dulu. Aku sudah menyiapkan makanan untuk kamu,"
"Aku tidak ingin makan itu. Tapi aku ingin makan dirimu pus," sambung Valeno sambil mengeratkan pelukan nya.
"Apa kamu belum puas bermain di luar?"
"Apa maksud kamu pus. Aku sama sekali tidak mengerti?" tanya balik Valeno sambil melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya yang penuh kemarahan.
"Apa kamu sudah bosan denganku? Karena aku sekarang sudah membengkak dan sedang hamil,"
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan Lea?"
"Jangan pura-pura aku tahu siapa kamu. Sudah seminggu ini kamu tidak mengajakku bermain di atas ranjang. Dan akhir-akhir ini kamu juga selalu pulang terlambat. Aku menghubungi ponselmu juga tidak diangkat. Aku yakin kamu ada main di luar,"
"Kenapa kamu berpikir sejauh itu pus?"
"Tentu saja. Karena aku tahu siapa kamu,"
"Sungguh pus. Apa yang kamu pikirkan itu sangat jauh. Aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan kepadaku. Kamu boleh bertanya pada Mario. Dia yang selalu bersamaku,"
"Kalaupun aku bertanya padat Mario jawabannya juga sama dengan apa yang kamu katakan,"
"Ya jelas sama karena apa yang kamu tuduhkan itu tidak benar,"
"Jangan sentuh aku. Aku tidak ingin kamu menyentuhku Leno! Tinggalkan aku sendiri. Aku tidak ingin melihat wajahmu,"
"Baik aku akan menjelaskan semuanya padamu kenapa aku akhir-akhir pulang telat,"
"Tidak perlu aku sudah tahu jawabannya,"
"Yakin kamu tidak ingin mengetahuinya. Ini ada hubungannya dengan Jessi dan…"
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kurang ajar sekali kamu masih menyebut nama pelakor itu di depanku," ucap kesal Fillea memotong perkataan suaminya.
__ADS_1
"Dengarkan aku dulu pus,"
"Aku tidak ingin mendengarkan lagi. Harusnya aku sadar kalau kamu tidak mungkin bisa melupakan pelakor itu. Apalagi dia yang telah memberikan kehormatan nya padamu,"
"Itu tidak benar,"
"Aku belum tuli. Aku mendengar percakapan antara kamu dan juga dia tempo hari. Pergi dari sini. Atau aku yang akan pergi!" tegas Fillea yang langsung beranjak dari tempat tidur membuat Valeno langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Dengarkan aku dulu Lea istriku. Aku belum selesai bicara,"
"Leno lepaskan!"
"Tidak. Sebelum kita mengakhiri kesalah pahaman ini. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini. Kamu harus ingat dengan dokter sialan itu. Kalau emosi apapun yang ada pada kamu akan berpengaruh pada anak kita," ucap Valeno mengingat kembali dokter kandungan istrinya masih tetap dokter Boy saat Fillea tidak ingin ganti dengan dokter kandungan yang lain.
"Oke aku akan mendengarkan penjelasanmu. Cepat katakan dan cepat keluar kamar ini,"
"Baik aku akan mengatakan pus. Ini ada kaitannya dengan papah," jelas Valeno membuat Fillea langsung menatap suaminya. Dan Valeno langsung menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Sebenarnya dirinya tidak ingin mengatakan semuanya kepada istrinya saat bukti yang utama untuk menjebloskan Jessi belum dirinya temui.
Valeno langsung memeluk erat tubuh sang istri saat Fillea kehilangan keseimbangan ketika mengetahui kebenaran tentang kematian papanya.
"Leno,"
*Like*Komen*Bersambung..................
__ADS_1