Istri Arogan Sang Cassanova

Istri Arogan Sang Cassanova
BAB 56 Bilang Saja


__ADS_3

"Biar aku saja pak,"


"Tidak perlu. Kenapa kamu tidak memberitahu kalau Jessi terluka?" tanya Valeno pada Mario yang tiba-tiba datang. 


"Kemarin aku sudah memberi tahu pak Leno, tapi pak Leno…"


"Diam jangan kamu jelaskan apapun. Antarkan kami ke rumah sakit terdekat," ujar Valeno memotong perkataan Mario. "Bagaimana dengan Lery? Kenapa kamu berada disini? Aku sudah memerintahkan kamu bukan? Untuk mengawasi Lery?"


" Tenang pak. Lery sudah berada dirumah sekarang,"


"Baguslah." sambung Valeno yang langsung masuk kedalam mobilnya dan mendudukan Jessi dengan hati-hati. 


"Jes. Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Valeno pada Jessi saat keduanya sudah berada didalam mobil. Tapi tidak dijawab oleh Jessi yang tiba-tiba menangis, membuat Valeno langsung menepuk punggung Jessi dan membawa dalam dekapan nya. Tidak tega melihat wanita yang dulu pernah mengisi seluruh hidupnya terpuruk seperti ini. 


"Apa ini semua karena Berto?" tanya Valeno membuat Jessi langsung mengangguk. 


"Apa dia tahu kalau kamu ke Indonesia?"


"Tidak dia tidak mengetahui Leno. Aku mohon bantu aku Leno. Jangan sampai Berto tahu di mana aku sekarang berada,"


"Kamu tidak perlu kuatir. Kamu bisa tinggal di apartemen milikku tadi," ujar Valeno sambil melepas pelukannya dan beralih menghapus air mata yang masih membasahi pipi mulus Jessi. 


Mario yang menyaksikan pemandangan di jok belakang dari kaca spion, langsung menghembuskan nafasnya kasar sambil menggelengkan kepalanya. 


"Aku sudah menduga ini akan terjadi. Tapi aku harap pak Leno tidak lagi menyimpan rasa untuk Jessi. Aku tidak ingin melihat kebahagian pak Leno dan juga bu Lea hancur karena pak Leno masih menyimpan rasa," gumam Mario dan dirinya fokus kembali mengendarai mobil yang dibawanya. 


*

__ADS_1


*


*


"Terima kasih Leno. Aku tidak tahu kalau tidak ada dirimu mungkin aku sudah…"


"Jangan katakan apapun Jessi," sambung Valeno memotong perkataan Jessi saat Jessi sudah berada di ruang perawatan. "Kamu beristirahatlah. Agar kamu cepat sembuh,"


"Leno,"


"Hemm,"


"Apa yang dikatakan oleh Mario benar kalau kamu sudah menikah?"


"Benar Jes," jawab Valeno sambil menatap Jessi saat dirinya sedang duduk di pinggiran ranjang di mana Jessi sedang berbaring. 


"Itu masa lalu Jes. Lupakan saja aku tidak ingin membahas nya lagi. Kita sudah menemukan pasangan kita masing-masing Jes,"


"Aku sudah bercerai dengan Berto,"


"Bercerai?"


"Iya. Satu bulan lalu. Dan Berto melakukan ini karena dia tidak ingin kita bercerai. Tapi aku sudah memutuskan bercerai dengannya saat pengadilan agama membenarkan Berto melakukan kekerasan dalam rumah tangga padaku. Tidak hanya sekali tapi berkali kali," jelas Jessi membuat Valeno langsung menautkan kedua alisnya menatap Jessi. 


"Beberapa bulan yang lalu aku melihat kamu dan juga Berto sangat harmoni?"


"Itu jika di luar rumah. Untuk menutupi semua nya dan dia selalu mengancamku. Jika aku tidak menunjukan kemesraan kita di luar rumah, dia tidak akan melunasi semua hutang kedua orang tuaku. Asal kamu tahu saja aku menikah dengan Berto untuk melunasi semua hutang orang tuaku Leno,"

__ADS_1


"Apa?"


"Dan aku menggugat cerai Berto karena dia selalu memperlakukan aku tidak layaknya istri, tapi bagaikan budaknya," jelas Jessi sambil meneteskan air matanya. 


"Jangan menangis, aku akan ada untukmu. Meskipun Berto orang terpandang di London. Aku pastikan dia akan mendapatkan hukuman atas apa yang telah dia lakukan padamu Jes," Valeno menenangkan Jessi sambil menghapus air matanya. 


"Terima kasih Leno. Sebenarnya aku malu telah merepotkan dirimu seperti ini. Mengingat kembali apa yang dulu pernah aku lakukan. Meskipun aku melakukannya dengan terpaksa,"


"Jangan katakan itu aku sudah melupakannya Jes. Dan aku akan selalu membantu siapa saja yang memerlukan bantuan seperti dirimu," jelas Valeno sambil tersenyum kemudian dirinya langsung mengangkat ponselnya yang berdering dan menjauh dari Jessi. 


"Kus. Kamu dimana aku sendirian bibi sudah pulang dan ayah belum datang. Kamu cepat kemari ya?" suara Fillea begitu nyaring di telinga Valeno membuat Valeno langsung tersenyum. 


"Bilang saja kamu merindukan aku pus. Aku segera datang pus,"


"Cepat dan tidak pake lama," ucap Fillea yang langsung menutup sambungan ponselnya membuat Valeno langsung tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. 


"Jes. Aku tinggal dulu. Tapi tenang saja Mario akan berada disini untuk menemanimu," ujar Valeno setelah kembali mendekat ke arah Jessi. 


"Tunggu!" Jessi langsung mencekal tangan Valeno saat dirinya akan meninggalkan Jessi. 


*


Like


*


Komen

__ADS_1


Bersambung............


__ADS_2