
"Lea!" teriak seseorang yang baru masuk kedalam ruang perawatan Fillea sambil melipat kedua tangannya dengan bibir yang dimajukan. "Lea kamu tega sekali. Menikahi secara diam-diam. Aku sahabatmu kamu masih ingat bukan? Atau jangan-jangan kamu tek dung duluan. Jelaskan kepadaku Lea," ujar Adel yang langsung mendekat ke arah ranjang Fillea. Membuat Fillea dan juga Valeno beranjak dari tidurnya. "Ya ampun kenapa niki betmen ada di sini Lea?"
"Bukan niki betmen tapi Nikc Ba…"
"Iya aku juga tahu," sambung Adel memotong perkataan Fillea yang akan membenarkan perkataan dirinya.
"Apa aku tidak salah sempurna sekali, apa dia suamimu?" tanya Adel sambil mengagumi Valeno dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Perkenalkan aku Leno suami Lea," ajar Valeno yang sekarang sudah berdiri disamping ranjang Fillea sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Adel.
"Adel," ucap singkat Adel yang langsung menjabat tangan Valeno. "Roti sobeknya ya ampun sungguh menggoda, pintar sekali kamu Lea mencari yang seperti ini. Apalagi itunya pasti kokoh dan perkasa. Kuat berapa jam Lea? Sebesar apa?" tanya Adel pada Fillea tanpa menatap Fillea karena matanya masih sibuk menelusuri setiap jengkal tubuh Valeno. "Aku rasa anu nya pasti sebesar talas bogor,"
"Jangan menghayal, kapan otakmu jernih,"
"Kalau sudah merasakan talas bogor, selama ini yang aku rasakan hanya pisang uli. Lea masih ada stok talas bogor tidak,"
"Mulai kemana mana, pikiran kalau sudah di penuhi video biru begini nih. Tidak ada beresnya," sambung Fillea sambil menarik tangan Adel yang masih menjabat tangan Valeno. "Kamu ada apa kesini?"
"Ingin mengunjungi sahabatku yang sedang sakit. Untuk apa lagi,"
"Mata kondisikan. Dia suami ku," ucap Fillea saat mata Adel masih terus menatap Valeno yang sekarang sedang duduk di atas sofa.
"Apa kamu sedang hamil?"
"Tidak,"
"Terus kenapa kamu menikah dengan terburu buru?"
"Panjang ceritanya,"
"Sepanjang anu nya suami kamu?"
__ADS_1
" Apaan sih dari tadi bicara anu, anu otakku tidak sampai,"
"Talas bogor,"
"Gatel dong,"
"Itu yang bikin enak gatel-gatel gurih," gimana rasanya? Gatel-gatel gurih kan? Bikin merem melek,"
"Otak jangan mesum," ujar Fillea sambil menoyor kepala Adel.
"Maaf. Masih ada stok yang seperti suamimu?"
"Tidak ada dia limited edition,"
"Boleh tidak nyicip?"
"Adel!"
"Hem,"
"Bio ada di sini. Maksud aku dia ada di Indonesia." bisik Adel di telinga Fillea takut Valeno mendengar Apa yang dirinya katakan. "Apa dia sudah tahu kalau kamu sudah menikah?"
"Sudah," jawab Fillea singkat dan langsung menjelaskan semuanya kepada Adel apa yang dilakukan Fabio kepadanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
"Apa kamu menikah secepat ini untuk melupakan Bio?"
"Tidak. Aku sudah melupakannya,"
"Secepat ini?"
"Iya,"
__ADS_1
"Lea katakan sejujurnya. Aku tidak bisa dibohongi saat melihat matamu,"
"Sudah lah aku tidak ingin membahas dia lagi,"
"Awas saja kalau kamu masih memikirkannya. Kalau itu sampai terjadi aku akan jadi pelakor dan merebut talas bogor dari mu,"
"Mana ada orang mau jadi pelakor ngomong dulu,"
"Agar kamu tidak memikirkan orang lain dan fokus pada suamimu,"
"Jelas saja aku akan fokus pada suamiku. Hingga pelakor tidak dapat masuk kedalam rumah tanggaku,"
"Bagus itu baru sahabatku," ujar Adel yang langsung memeluk tubuh Fillea dan keduanya terlibat obrolan antara dua sahabat yang lama tidak bertemu tidak menyadari jika Valeno sudah terlelap di atas sofa.
"Maafkan aku kus," ucap Fillea sambil menatap intens wajah Valeno yang sedang terlelap di sofa saat dirinya menghampiri Valeno ketika Adel sudah pulang. "Aku akan…"
"Akan apa? Akan mengangkat tubuhku? Kamu tidak akan kuat pus," sambung Valeno yang tiba-tiba membuka matanya dan memotong perkataan Fillea. Kemudian Valeno langsung menarik tangan Fillea dan mengangkat tubuh Fillea untuk tidur di atas tubuhnya. "Tidurlah dalam dekapanku pus,"
"Baiklah,"
"Sebentar pus. Sepertinya ponselku berdering," ujar Valeno yang langsung mengambil ponsel miliknya di atas meja.
*
Like
*
Komen
Bersambung..........
__ADS_1