
"Kenapa kamu baru mengatakan sekarang?"
"Karena aku belum cukup bukti untuk menjebloskan Jessi kedalam penjara. Tenangkan dirimu ingat anak kita," nasehat Valeno saat Fillea menangis dalam pelukan nya.
"Maafkan aku karena sudah menuduhmu yang tidak-tidak,"
"Aku tidak masalah. Apapun perlakuanmu terhadapku aku akan senang hati menerimanya pus. Dan sekarang jangan menangis lagi," ujar Valeno sambil melepas pelukan istrinya beralih memegang wajah istrinya dan menghapus air matanya. "Jangan kamu menangis seperti ini,"
"Aku hanya teringat dengan papah,"
"Itu yang tidak boleh. Biarkan papah hidup tenang di alam sana jangan pernah kamu tangisi lagi oke. Ada yang lebih penting yang harus kamu pikirkan yaitu calon anak kita mengerti," ujar Valeno membuat Fillea langsung mengangguk. "Dan sekarang temenin aku makan. Aku sangat lapar. Dan aku tidak bisa makan kalau bukan masakan dari istriku ini," ujar Valeno lagi sambil mencium singkat bibir istrinya kemudian merangkul bahu Fillea keluar dari kamar.
*
*
*
Fillea terus menatap rumah kosong yang berada tepat di hadapannya. Saat Fillea memaksa Valeno untuk bertemu dengan Jessi yang selama ini disembunyikan oleh Mario.
"Kamu tidak salah?" tanya Fillea penasaran saat Valeno menggandeng tangannya untuk masuk kedalam rumah kosong tersebut diikuti oleh Mario dari belakang.
"Tidak. Ini yang pantas dia dapatkan,"
__ADS_1
"Kamu sama saja menyiksa seseorang Leno!"
"Aku tidak merasa seperti itu,"
"Terserah padamu,"
"Bagus," jawab singkat Valeno beralih memeluk pinggang istrinya saat sudah masuk kedalam rumah tersebut.
Fillea langsung menutup hidupnya merasakan bau yang sungguh menyengat hidungnya. Saat Valeno mengajak menuruni tangga rumah kosong tersebut menuju basement dimana Jessi berada.
"Leno kamu bisa membuat aku tidak bernafas kalau harus berlama lama di dalam sini,"
"Aku sudah melarangmu. Tapi kamu tetap bersikukuh untuk menemuinya. Kalau kamu berubah pikiran kita keluar saja dari tempat ini,"
Mata Fillea tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya di tembok penjara bawah tanah.
"Leno apa dia…?"
"Dia Jessi," jawab Valeno memotong pertanyaan istrinya. Ketika Fillea tidak mengenali wanita yang berada di dalam penjara bawah tanah tersebut. Saat penampilan Jessi begitu lusuh dan berbeda seratus delapan puluh derajat seperti Jessi yang dulu.
"Mario buka gemboknya aku ingin masuk," perintah Fillea tapi Mario tidak menjawab matanya tertuju pada Valeno yang tidak mengijinkannya. "Ada apa?"
"Aku tidak ingin kamu masuk kedalam sana. Aku tidak ingin istriku terkontaminasi,"
__ADS_1
"Leno. Percaya aku akan baik-baik saja. Tolong buka ya aku mohon," pinta Fillea membuat Valeno langsung menyuruh Mario untuk membuka penjara bawah tanah.
Senyum sinis tersungging dari sebelah sudut bibir Jessi saat Fillea sudah masuk kedalam penjara dan mendekatinya.
"Bagaimana perasaanmu melihat ku begini. Senang bukan?"
"Tentu saja aku senang," jawab Fillea yang sekarang berdiri tepat di hadapan Jessi sambil melipat kedua tangannya saat Jessi masih duduk di lantai. "Tapi aku lebih senang jika kamu lenyap dari dunia ini. Seperti apa yang kamu lakukan kepada papah!" tegas Fillea membuat Jessi langsung tertawa kencang.
"Tidak semudah itu kamu ingin melenyapkan diriku Lea. Sebelum aku lenyap. Kamu dulu yang akan lenyap. Karena kamu sudah merebut Leno diriku!"
"Lea awas!" teriak Valeno sambil berlari menuju istrinya saat tiba-tiba Jessi menyerang Fillea.
*Like*Komen*Bersambung.........
SESUAI JANJI KEMARIN AKU UP TAPI TIDAK SEBANYAK KEMARIN. KARENA APA? KARENA YANG MENGGENAPI KOMEN KEMARIN MENJADI 50 YA ORANG YANG SAMA.
KALIAN TAHU TIDAK AKU SANGAT SEDIH 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PADAHAL NIATNYA HARI INI MAU UP BANYAK. TAPI TIDAK JADI.
R: sedih emotnya ko ketawa say
A: ya jelas karena kalian sudah membuat aku kecewa dan juga bahagia secara bersamaan.
__ADS_1
SEKIAN DAN TERIMA KASIH CURCOL DARI EIKE BAY.