
"Lea, aku istri Leno," ujar Fillea dengan senyum yang begitu manis dari kedua sudut bibirnya sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Jessi yang sedang duduk bersandar di sandaran ranjang, saat Fillea dan juga Valeno sudah masuk kedalam ruang perawatan Jessi.
"Jessi," jawab Jessi singkat yang langsung menjabat tangan Fillea dan membalas senyum Fillea. "Maaf aku sudah merepotkan suamimu,"
"Tidak masalah. Aku senang ternyata suamiku punya sisi positif aku kira…"
"Kamu kira apa pus?" sambung Valeno memotong perkataan Fillea.
"Tidak suamiku. Aku tahu kamu mempunyai hati bak malaikat, dan tentu saja kamu akan membantu sesama," jelas Fillea sambil menatap Valeno yang berdiri di sampingnya.
"Terima kasih pus, atas sanjunganmu," ujar Valeno yang langsung memeluk tubuh Fillea dan memberikan ciuman singkat di bibir Fillea.
"Malu ada Jessi dan juga Mario," Fillea mendorong tubuh Valeno.
"Tidak masalah. Aku sudah terbiasa melihat seperti itu di depan mataku. Saat mantan suamiku dulu juga sering melakukan di depan mataku dengan wanita lain, bukan sekedar berciuman, berhubungan badan di depanku juga sering dia lakukan," sambung Jessi sambil meneteskan air matanya mengingat masa lalunya.
"Maafkan aku," ucap Fillea yang sekarang beralih duduk di tepi ranjang perawatan Jessi dan menghapus air mata Jessi. "Aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada masa lalu kamu Jes, sekali lagi aku minta maaf,"
"Tidak perlu minta maaf. Aku hanya terbawa perasaan melihat kemesraan kalian. Karena selama ini aku tidak pernah mendapatkan perhatian sedikitpun dari mantan suamiku. Tapi itu sudah berlalu. Aku tidak ingin terpuruk dan aku akan bangkit,"
"Bagus. Jadilah wanita yang kuat jangan pernah mau di tindas oleh laki-laki," sambung Fillea beralih menggenggam tangan Jessi. "Kalau aku jadi kamu sudah aku potong tuh talas bogor suamiku dan aku jadikan keripik,"
__ADS_1
"Talas bogor?" tanya Jessi penasaran.
"Iya, kamu rasa kamu tidak akan tahu,"
"Aku rasa punya pak Leno tidak seperti talas bogor. Orang punya dia seperti burung emprit," sambung Mario.
"Enak saja punya kamu yang seperti burung emprit Mario sialanruang!" sahut Valeno sambil mengejar Mario yang keluar dari ruang perawatan Jessi meninggalkan Fillea dan juga Jessi berdua.
"Aku turut prihatin dengan apa yang kamu alami Jes. Setelah Valeno menceritakan semuanya padaku semalam,"
"Terima kasih Lea, kamu sangat peduli padahal kita baru saja kita mengenal. Pantas saja Leno sangat mencintaimu. Selain kamu cantik kamu juga baik. Aku kira Leno tidak akan pernah mencintai seseorang saat aku dulu pernah menyakiti hatinya hingga dia terpuruk. Tapi aku salah ternyata dia sangat mencintaimu,"
"Maksud kamu?"
"Tentu saja dia sudah mengatakan semuanya kepadaku," jawab Fillea dengan senyum manis.
"Dan satu lagi, maaf kalau nanti aku merepotkan suamimu untuk membantu diriku menjebloskan mantan suamiku kedalam penjara,"
"Iya tidak apa,"
"Kalian sudah lama menikah?"
__ADS_1
"Kita menikah baru saja satu bulan kurang," jelas Fillea.
"Aku jadi ingin tahu bagaimana Leno menyatakan cinta padamu. Aku tahu dia orangnya tidak romantis,"
"Dia sangat romantis siapa bilang dia tidak romantis. Setiap orang pasti akan berubah dengan berjalannya waktu, mungkin dulu dia tidak romantis tapi sekarang dia sangat lah romantis. Asal kamu tahu dulu dan sekarang berbeda Jes dan tidak bisa disamakan. Seperti halnya rasa cinta. Mungkin dulu dia mencintaimu tapi sekarang dia sangat mencintaiku!" jelas Fillea menekankan kalau Valeno sudah melupakan Jessi dan hanya mencintai dirinya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Berkata apa?" tanya Fillea balik tanpa menjawab pertanyaan Jessi.
"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi," jawab Jessi dan keduanya langsung mencari topik lain sebelum Valeno kembali kedalam kamar.
"Baiklah karena Leno sudah kembali aku dan juga Leno pamit pulang dulu. Cepat sembuh," ujar Fillea sambil menggandeng tangan Valeno.
"Terima kasih. Tapi sebelumnya bisa tinggalnya aku dan Leno berduaan saja. Ada yang ingin aku bicarakan hanya berdua dengan Leno," pinta Jessi pada Fillea.
*
like
*
__ADS_1
Komen
Bersambung...........