Istri Arogan Sang Cassanova

Istri Arogan Sang Cassanova
BAB 88 Merindukan


__ADS_3

Seorang gadis kecil berumur kurang lebih tujuh tahun, di dorong menggunakan kursi roda oleh wanita paruh baya, menghentikan tangan Berto yang akan memukul Jessi. 


"Papi jangan lakukan itu pada mami. Berlin sudah memaafkan mami," ucap gadis kecil tersebut yang menghampiri Berto. 


"Berlin kenapa kamu berada di sini?" tanya Berto terkejut pasalnya dia ke Indonesia hanya sendiri setelah keluar dari penjara. 


"Berlin merindukan mami," jawab singkat Berlin dan Berjalan menghampiri Jessi. Membuat Jessi dan juga Berto langsung terkejut pasalnya dari kecil Berlin tidak bisa berjalan karena mengalami kelainan. "Lihat mami Berlin sudah bisa berjalan. Pasti mami senang bukan melihat Berlin berjalan. Mami selalu mengatakan malu jika jalan-jalan dengan Berlin. Karena Berlin tidak bisa berjalan. Dan sekarang Berlin bisa berjalan. Berlin ingin jalan-jalan dengan mami," ucap Berlin yang sekarang berjongkok sambil mengelus pipi Jessi yang masih bersimpuh di lantai. Kemudian Jessi langsung memeluk anaknya tersebut sambil menangis. 


"Maafkan mami. Sekali lagi maafkan mami," hanya itu yang bisa Jessi katakan mengingat begitu kejamnya dirinya kepada anaknya sendiri dan selalu merendahkan anaknya tersebut. 


"Mami tidak pernah salah. Berlin yang salah karena lahir tidak sempurna sesuai dengan keinginan mami," balas Berlin membuat Jessi menangis lebih kencang menyesali perbuatan kepada anaknya. 

__ADS_1


"Lepaskan tanganmu dari cucuku!" tegas wanita paruh baya yang tadi mendorong kursi roda Berlin. Dan melepas tangan Jessi yang masih memeluk tubuh Berlin. 


"Mama,"


"Aku bukan mama kamu. Aku malu telah melahirkan anak sepertimu Jes. Aku malu!" tegas wanita paruh baya tersebut yang sekarang menarik tangan Berlin dan memeluk nya dalam dekapannya. 


"Nenek. Apa yang nenek katakan? Seorang ibu tidak boleh berbicara kasar seperti itu pada anaknya,"


"Maaf sayang nenek keceplosan. Mari kita keluar dari ruangan ini. Nenek merasa sesak nafas kalau masih berada di sini,"


"Nanti mami akan menyusul Berlin. Sekarang Berlin keluar lah dengan nenek. Anak pintar harus mematuhi perintah papi oke sayang," sambung Berto sambil mencium kening Berlin. 

__ADS_1


"Tapi pi. Berlin tidak tega melihat mami yang begitu lusuh. Berlin ingin mengajak mami ke rumah. Dan Berlin ingin mandi bersama mami. Yang selama ini tidak pernah Berlin lakukan," ucap Berlin membuat Valeno yang sedari dari mendengarkan ucapan anak kecil tersebut. Langsung memeluk pinggang istrinya. Tahu kalau istrinya begitu tersentuh dengan perkataan Berlin. 


"Oke. Tapi papi mohon Berlin keluar dulu dari ruangan ini sayang. Anak pintar papi," ucap Berto sambil tersenyum ke arah Berlin. 


"Baik tapi Berlin ingin mencium mami dulu," ucap Berlin yang langsung mencium pipi Jessi dan menghapus air matanya. "Mami Berlin tunggu diluar. Karena Berlin tahu ini urusan orang dewasa seperti yang dulu sering mami katakan pada Berlin. Saat banyak teman mami datang kerumah. I love you mami," ucap Berlin sambil tersenyum dan mencium pipi Jessi kembali kemudian wanita paruh baya mama kandung dari Jessi menggandeng tangan Berlin keluar dari ruangan tersebut. 


"Kamu lihat anak kecil yang keluar dari rahim kau sendiri. Yang selalu kamu hina dan selalu kamu salahkan dan rendahkan dengan kekurangannya. Begitu tulus menyayangimu. Apa kamu tidak malu?"


"Berto maafkan aku. Maaf,"


"Sekarang maaf tidak cukup. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu. Setelah apa yang kamu lakukan pada papah dari istri Leno. Dan satu lagi aku ingin menceraikan kamu,"

__ADS_1


"Berto aku mohon jangan. Aku ingin bersama dengan Berlin. Aku akan menebus semua kesalahan aku pada Berlin." pinta Jessi dengan tulus sambil memeluk kaki Berto. 


*Like*Komen*Bersambung................


__ADS_2