
Plak
Fillea menampar pipi Valeno membuat Veleno langsung mengaduh kesakitan sambil memegangi pipi kanan nya yang mendapat tamparan dari Fillea.
"Sial. Apa yang kamu lakukan Lea?"
"Harusnya aku yang bertanya apa yang kamu lakukan? Main nyosor aja. Kamu bilang kamu tidak selera tapi apa? Kamu mau menciumku,"
"Siapa juga yang mau menciummu, pede sekali. Aku tidak berselera, melihatmu saja aku sudah pengen muntah,"
"Barusan apa? Wajahmu sudah berada tepat di depan wajahmu?"
"Aku hanya ingin melepas seatbelt milikmu, saat kamu di bangunkan tapi tidak ada respon sama sekali, kamu tidur apa modar? Kita sudah sampai di rumahmu,"
"Ya maaf aku kira kamu ingin menciumku," ujar Fillea sambil nyengir kuda dan melepas seatbelt yang masih melingkar di tubuhnya kemudian keluar dari mobil. "Apa ini," ujar Fillea saat sudah ingin masuk ke dalam rumahnya dan baru menyadari di lehernya masih terdapat bantal leher membuat Fillea langsung melepas bantal leher tersebut dan kembali lagi ke arah mobil Valeno yang masih terparkir di halaman rumahnya.
"Ini bantalmu," ucap Fillea sambil menyodorkan bantal leher ke arah Valeno yang baru keluar dari dalam mobilnya.
"Ambil saja, aku tidak terbiasa menggunakan barang bekas orang," ucap Valeno membuat Fillea langsung tertawa kencang.
"Perkataanmu membuatku ingin muntah Leno, bagaimana dengan wanita yang…" ucapan Fillea berhenti saat tiba-tiba Valeno memeluk tubuh Fillea dengan erat hingga Fillea tidak bisa memberontak. dan terdengar suara deheman dari papah Fillea yang mendekat ke arah keduanya membuat Valeno langsung melepas pelukannya.
__ADS_1
"Kalian sudah pulang? Dan kamu kemana saja sampai Leno harus bersusah payah mencarimu?"
"Pah aku…"
"Tadi Lea ada dirumah sakit om, menemani temannya yang sakit," sambung Valeno memotong perkataan Fillea.
"Iya pah, benar apa yang dikatakan Leno. Aku masuk dulu pah. Untuk bersiap-siap menghadiri acara makan malam dirumah Leno dadah papah," ujar Fillea yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
Valeno yang sedang asyik berbincang dengan papah Fillea di ruang tamu langsung menghentikan percakapannya saat menatap Fillea yang akan menuruni tangga. Pasalnya penampilan Fillea berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pakaian yang Fillea kenakan sebelumnya. Apalagi dengan polesan di wajah Fillea yang membuat Fillea menjadi semakin berbeda.
"Leno!" teriak Fillea untuk yang kesekian kalinya saat Fillea sudah mendekat kearah Valeno yang masih terus menatap dirinya.
"Kamu sedang menatap apa? Dari tadi aku panggil masih bengong aja seperti ayam terkena flu burung,"
"Oh tidak. Baiklah kalau kamu sudah siap ayo kita berangkat mommy sudah menelepon," ujar Valeno sambil beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada papah Fillea kemudian tangan Valeno langsung reflek menggandeng tangan Fillea.
"Leno! Sudah lepaskan tanganmu. Papah sudah tidak melihat kita lagi," ujar Fillea saat keduanya sudah berada di luar rumah Fillea, dan Fillea tahu kalau Valeno tadi menggandeng tangannya untuk berakting di depan papah Fillea.
"Oh iya maaf lupa, gimana akting ku mumpuni bukan?"
"Ok lah," ujar Fillea singkat sambil tersenyum dan berjalan ke arah mobil Valeno dan Valeno langsung membuka pintu mobil untuk Fillea masuk membuat Fillea langsung menatap Valeno.
__ADS_1
"Tidak usah menatapku, aku juga sedang berakting siapa tahu papah kamu sedang mengintip kita dari jendela," ujar Valeno membuat Fillea mengiyakan apa yang dikatakan oleh Valeno dan masuk ke dalam mobil membuat Valeno langsung tersenyum.
"Lea," panggil Valeno saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Apa?"
"Nanti, sesampainya dirumah ku kita juga harus berakting semesra mungkin ya. Agar kedua orang tuaku tidak curiga,"
"Apa kamu sedang mencari kesempatan dalam kesempitan Leno?" tanya Fillea sambil menatap tajam ke arah Valeno yang sedang mengendarai mobilnya.
"Untuk apa, aku sudah bilang kamu itu bukan seleraku Lea,"
"Baiklah kalau begitu," ujar Fillea membuat Valeno langsung menahan senyum di bibirnya. "Leno berhenti!"
*
*
*
Bersambung..............
__ADS_1