
"Kus bangun sudah jam tujuh dan cepat mandi kamu bilang kamu ada rapat jam sepuluh," ujar Fillea sambil menarik y selimut buang menutupi tubuh Valeno. "Kus bangun tidak!"
"Pus kamu bukan saja membangunkan aku, tapi juga ini," ucap Valeno sambil menunjuk adik jumbo nya yang sudah berdiri tegak di saat dirinya hanya mengenakan boxer pendek. Dan Valeno langsung memeluk tubuh Fillea dalam dekapan nya.
"Kus jangan macam-macam. Papah sudah menunggu kita untuk sarapan," ujar Fillea saat keduanya bersepakat untuk tinggal sementara di rumah Fillea.
"Papah pasti akan memahami nya kus, aku hanya membutuhkan energi dan energi ku kamu kus," ujar Valeno yang langsung membalik tubuh Fillea dan mengungkung di bawahnya.
"Apa kamu sudah siap menerima tusukan maut?" tanya Valeno dan Fillea langsung menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"
"Minggirlah, aku tidak tahan," ucap Fillea yang langsung menyingkirkan tubuh Valeno iya lalu dirinya berlari ke dalam kamar mandi.
Wek… wek… wek
Suara Fillea dari dalam kamar mandi membuat Valeno langsung beranjak dari tempat tidur kemudian dirinya langsung berlari dengan terburu buru masuk kedalam kamar mandi.
"Kus. Ada apa denganmu kenapa kamu muntah-muntah seperti ini?" tanya Valeno yang sudah berada di kamar mandi sambil memijat belakang leher Fillea. "Atau jangan-jangan sedang ada…"
"Jangan mengada-ada aku sedang police line," sambung Fillea memotong perkataan Valeno.
"Police line?"
"Iya aku sedang datang bulan. Dan setiap datang bulan aku selalu mengalami mual seperti ini di awal,"
"Kapan kamu police line kemarin saja kita masih kikuk-kikuk?"
"Tadi pagi saat aku bangun tidur kus,"
"Aku tidak percaya," ujar Valeno sambil memeriksa sarang miliknya. Kemudian dirinya langsung menepuk jidatnya saat ada roti tawar yang menyangkut di sarangnya. "Oh tidak aku harus menunggu satu minggu, oh tidak pus. Aku tak tahan,"
__ADS_1
"Awas saja kalau…"
"Iya pus aku bisa menahannya," sambung Valeno memotong perkataan Fillea. Dan langsung memeluk tubuh Fillea dan memberikan ciuman singkat di bibir Fillea.
"Sekarang kamu mandi aku dan papah menunggu di meja makan.
"Ok pus,"
"Jangan main milkshake sendiri. Awas saja,"
"Oke pus," ujar Valeno sambil menggaruk garuk kepalanya sendiri yang tidak gatal dan tersenyum ke arah Fillea.
"Sayang apa kamu tidak ingin pergi ke dokter. Papah lihat kamu terlihat pucat?" tanya papah Fillea saat Fillea baru masuk kedalam rumah ketika sebelumnya dirinya mengantarkan Valeno sampai depan pintu saat Valeno akan berangkat ke kantor.
"Tidak pah, aku baik-baik saja. Setelah aku beristirahat aku akan baikkan. Aku ke kamar dulu ya pah," ujar Fillea lemah sambil berjalan menuju kamarnya.
*
"Kerja bagus Mario. kamu memang dapat diandalkan. Dan rapat pertama kali ini berjalan dengan lancar," ujar Valeno saat dirinya dan juga Mario baru saja kembali dari ruang rapat.
"Terima kasih pak. Hari ini aku gajian pak,"
"Terus?"
"Aku ingin menagih janji yang pak Leno katakan kepadaku kemarin.
"Dasar mata duitan,"
"Harus pak, walaupun adikku seperti burung emprit, yang penting cuan ku banyak dan wanita pasti akan ngantri,"
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Enak-enak lah pak apa lagi,"
"Berdiri juga tidak bisa jangan belagu,"
"Jangan salah pak, kalo lagi tidur memang seperti burung emprit. Tapi kalau sudah bangun sudah seperti burung unta,"
"Jangan mimpi,"
"Apa pak Leno butuh bukti. Baik aku buktikan dan pak Leno jangan terkejut melihatnya yah," ucap Mario membuat Valeno langsung melempar pulpen yang berada di hadapannya ke arah Mario dan dengan sigap Mario langsung menangkap pulpen tersebut.
"Sekarang antarkan aku," ujar Valeno sambil beranjak dari duduknya.
"Apa pak Leno yakin ingin menemuinya?"
"Yakin, kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Tidak pak, silahkan aku akan mengantar pak Leno," ucap Mario yang langsung membuka pintu ruang kerja Valeno saat Valeno ingin keluar dan Mario langsung mengikutinya dari belakang.
*
Like
*
Komen
Bersambung............
__ADS_1