
"Tidak jadi pus,"
"Kenapa?"
"Ponselku kehabisan baterai,"
"Isi dulu sana ponselnya. Aku bawa casan ponsel di dalam laci,"
"Tidak usah aku sudah nyaman seperti ini." jawab Valeno sambil mengeratkan pelukannya. "Aku yang kehabisan baterai pus. Mana colokan nya sedang sakit lagi,"
"Ngomong apa sih?" tanya Fillea yang sekarang mendongakan kepalanya menatap Valeno.
"Tidak ada. Barusan ada iklan lewat. Sudah tidurlah,"
"Aku tidak yakin kamu akan terus memelukku seperti ini. Kalau kamu sudah terlelap pasti kamu akan melepaskan pelukanmu dan aku akan jatuh ke bawah. Kita pindah saja tidur di atas ranjang,"
"Siap," jawab singkat Valeno yang langsung melepas pelukannya dan beralih membopong tubuh Fillea menuju ranjang.
"Leno apa yang kamu lakukan?" tanya Fillea saat Valeno menaikkan baju tidurnya sambil melepas pengait kacamata pembungkus gunung kembar. Dan Valeno langsung menyesap Choco chip merah muda yang terdapat di atas gunung kembar Fillea.
"Aku butuh baterai pus. Jangan sampai aku telap seperti ponselku yang kehabisan baterai,"
"Ngomong apaan sih?"
"Tak tahu. Sudah kamu diam saja,"
"Tapi aku geli!"
"Dan aku tegang pus,"
__ADS_1
"Apa nya?"
"Jangan memancing. Aku tidak ada lawan," ujar Valeno dan kembali lagi menghisap Choco chip merah muda. Sambil memeluk erat tubuh Fillea. Membuat Fillea tahu apa yang harus dirinya lakukan.
Pagi hari Fillea sudah rapi dan siap pulang kerumah, hanya tinggal menunggu dokter datang. Saat dirinya sudah sehat seperti sedia kala.
Valeno yang baru keluar dari dalam kamar mandi langsung tersenyum senang sambil menghampiri Fillea yang sedang duduk di atas ranjang.
"Terima kasih pus untuk servis nya. Aku tidak menyangka kamu pandai juga memuaskan ku tanpa harus masuk kedalam lobang kenikmatan. Aku harus berterima kasih pada gunung kembar jumbo kamu," ujar Valeno sambil mencium pipi Fillea. "Kamu belajar dari mana pus?"
"Tidak usah bertanya aku belajar dari mana. Yang terpenting kamu puas,"
"Puas sih pus. Tapi akan lebih puas lagi bila masuk lubang kenikmatan. Kapan police line kamu berhenti?"
"Masih…"
"Selamat pagi ibu Lea," Sapa dokter yang menangani Fillea ketika masuk ke dalam ruang perawatan Fillea dan menghentikan obrolan suami istri yang absurd.
"Hari ini sudah boleh pulang ya. Ingat selalu batasi aktivitas yang bisa memicu kelelahan,"
"Baik dok,"
"Tapi kalau lelahnya di atas tempat tidur tidak apa kan dok? Kan lelahnya nikmat?" sambung Valeno membuat Fillea langsung menatap tajam ke arah Valeno.
"Kalau itu bisa dimaklumi pak," jawab dokter tersebut sambil menahan senyum.
"Ada satu pertanyaan dok. Police line dapat dicegah dengan minum obat apa dok?"
"Police line?"
__ADS_1
"Maksud aku datang bulan dok,"
"Oh itu, datang bulan memang bisa ditunda, tapi kalau sudah datang bulan lebih bagus dibiarkan saja sampai datang bulan tersebut selesai dengan sendirinya, tidak akan lama pak, rata-rata hanya satu minggu dan tergantung dari hormon setiap wanita ada yang kurang dari seminggu dan ada yang lebih dari seminggu,"
"Waduh aku…"
"Maaf dok," sambung Fillea sambil membekap mulut Valeno agar tidak bicara lagi. Membuat dokter tersebut langsung tersenyum dan berpamitan setelah memeriksa kembali keadaan Fillea sebelum Fillea pulang.
"Pus kamu tega sekali membekap mulutku?"
"Kamu itu banyak bertanya,"
"Aku bertanya karena aku tidak tahu pus. kalau aku sudah tahu aku juga tidak akan bertanya pus. Bukannya pepatah berkata malu bertanya sesat di jalan?"
"Kan kamu bisa bertanya pada Mbah budel,"
"Siapa lagi itu Mbah budel?"
"Ampun deh kamu Leno. Kamu Sultan macam apa. Ini tidak tahu, itu tidak tahu, ampun!"
Valeno dan juga Fillea saling menautkan jari-jarinya satu dengan yang lainnya. Dan sesekali Valeno mencium punggung tangan Fillea saat keduanya sudah keluar dari ruang perawatan Fillea. Dan sekarang menuju ruang perawatan Jessi yang jaraknya lumayan jauh dari ruang perawatan Fillea. Saat Fillea ingin tahu siapa teman Valeno yang sudah Valeno tolong.
*
Like
*
Komen
__ADS_1
Bersambung............