
"Iya Leno benar di situ hati-hati masih sedikit sakit. Di Pinggang sebelah kanan juga ada," ucap Jessi dan menurunkan kembali dress yang digunakannya. "Oh iya Leno apa boleh aku bekerja di perusahaan kamu? Aku bosan hanya diam tanpa melakukan apapun. Aku ingin menemuimu. Mario selalu melarang. Boleh yah?" tanya Jessi yang masih memunggungi Valeno. "Leno kenapa kamu hanya diam saja. Jawab pertanyaanku? Oh aku tahu pasti kamu sedang mengagumi punggung mulus ku bukan? Kamu boleh memegangnya aku tidak keberatan. Kita dulu sering melakukan itu bukan? Melakukan lebih juga boleh. Sebagai tanda terima kasihku kepadamu Leno. Aku akan memberikan kenikmatan dan juga kepuasan padamu. Aku tahu pasti istrimu tidak pandai memuaskan dirimu bukan? Aku yakin itu,"
"Siapa bilang?" tanya Fillea sambil mendorong tubuh Jessi hingga jatuh tersungkur di atas sofa. Kemudian Fillea langsung melempar cream yang berada di tangannya tepat mengenai tubuh Jessi. Membuat Jessi terkejut sambil mengedarkan pandangannya dan tidak mendapati ada Valeno tapi hanya ada Fillea. "Siapa yang kamu cari Leno? Leno suamiku dan jangan sekali kali kamu menggoda suamiku ingat itu. Sejak awal aku melihatmu aku sudah curiga ternyata memang benar ada udang di balik bakwan seperti apa kata pembaca novel ini. Menjijikan sekali merayu suami orang dengan tubuh bekasmu itu. Dasar wanita murahan!"
"Apa kamu mengataiku?" tanya Jessi sambil beranjak dari sofa dan menaikkan dress yang dikenakannya.
"Tentu saja siapa lagi!"
"Aku hanya merasa kasihan dengan Leno. Pasti dia tidak puas dilayani olehmu. Aku tahu sendiri bagaimana staminanya di atas ranjang. Dan wanita sepertimu pasti tidak akan kuat melakukannya. Jujur saja dan kalau kamu tidak kuat bilang saja. Biar aku yang memuaskannya,"
Plak
Fillea menampar pipi Jessi dengan kencang membuat Jessi langsung memegangi pipinya sambil tersenyum sinis ke arah Fillea.
"Kenapa kamu marah. Harusnya kamu tahu Leno seorang pemain yang handal. Dan tidak akan puas dengan satu wanita. Apa lagi wanita seperti dirimu. Yang tidak termasuk dalam kriteria wanita idamannya. Dan kamu lihat tubuhku ini. Seperti inilah yang menjadi kriteria Leno,"
"Cih dasar wanita murahan. Bukannya berterima kasih karena sudah ditolong. Malah menunjukan kalau kamu perempuan murahan dan juga menjijikan. Aku yakin kamu sedang bersandiwara, dengan menjual kisah sedihmu kepada Leno. Dan aku juga yakin kamu tidak benar-benar mendapat perlakuan kekerasan rumah tangga dari mantan suamimu,"
__ADS_1
"Hebat sekali," sambung Jessi sambil bertepuk tangan. "Aku ternyata salah menilai kamu. Kalau lemah. Tapi aku punya cara sendiri untuk merebut kembali Leno dari mu," ujar Jessi sambil menunjuk Fillea dengan jari telunjuknya.
"Dan aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" tegas Fillea sambil menampik tangan Jessi dan membalik tubuhnya untuk meninggalkan Jessi.
"Sialan kau!" teriak Jessi sambil menarik rambut Fillea dengan kencang.
"Kamu yang sialan. Wanita ular tidak tahu terima kasih!" teriak Fillea yang juga ikut balas menjambak rambut Jessi dan keduanya terlibat jambak menjambak.
"Ya ampun!"
"Jessi!"
Valeno langsung memeluk tubuh Fillea dari belakang begitupun dengan Mario yang langsung menarik tangan Jessi agar keduanya berhenti dari aksinya.
"Apa yang kamu lakukan pus?" tanya Valeno setelah berhasil melerai keduanya. "Ya ampun pipi kamu pus," ucap Valeno sambil meraup wajah Fillea dan mendapati pipi istrinya terkena cakaran dari Jessi dan mengeluarkan darah. "Mario! Ambil kotak p3k sekarang!" perintah Valeno. Kemudian Valeno mengobati luka di pipi Fillea saat Mario sudah mengambil kotak p3k. "Pus jelaskan padaku kenapa bisa seperti ini? Dan kenapa kalian bertengkar?"
"Itu semua…"
__ADS_1
"Aku tidak bertanya padamu Jes. Aku bertanya kepada istriku," sambung Valeno memotong perkataan Jessi yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya menatap Valeno yang begitu telaten mengobati luka di pipi Fillea yang sedang duduk di sofa. "Sakit pus?" tanya Valeno membuat Fillea langsung mengangguk. "Katakan apa yang terjadi?"
"Aku ingin pulang dan aku tidak ingin melihat wanita itu lagi!" tunjuk fillea pada Jessi dan Valeno langsung menatap Jessi.
"Leno jangan menatapku begitu. Ini semua salah istrimu,"
"Kamu bilang ini salahku. Sungguh kamu memang wanita ular tidak tahu diri!" sambung Fillea sambil beranjak dari duduknya. "Leno aku ingin pulang,"
"Baiklah," sambung Valeno yang langsung beranjak brati duduknya mengikuti Fillea dari belakang menuju pintu.
"Apa kamu takut kalau Leno akan meninggalkan dirimu. Saat dia tahu apa yang membuat kita berkelahi?" tanya Jessi dengan kencang membuat Fillea langsung menghentikan langkahnya begitu pun dengan Valeno.
*
Like
*
__ADS_1
Komen
Bersambung............