
Valeno hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ketika dirinya mengantar sang istri ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Padahal jadwal periksa kandungan sang istri masih lama.
Hanya karena menuruti kemauan kedua pasangan paruh baya yang sudah satu minggu tinggal bersama nya. Dan membuat hidupnya benar-benar berantakan. Bagaimana tidak. Karena dirinya tidak bisa bersama dengan sang istri.
"Ayolah ada apa dengan mommy dan juga bibi, Lea istriku. Seharusnya aku yang menggandeng tangan Lea bukan kalian," ujar Valeno kesal sambil mengikuti istrinya dari belakang yang sedang digandeng oleh mommy nya dan juga bibi Sabila di tangan kanan dan juga tangan kirinya. Tapi tidak dihiraukan oleh ketiga wanita yang berjalan tepat di depannya.
"Biarkan saja kamu tahu mommy dan bibi kamu sangat menginginkan cucu," sambung daddy Valeno sambil menepuk punggung putranya dan langsung merangkulnya.
"Tapi dad. Tidak begitu juga kali. Setiap hari mereka selalu berada di samping istriku. Aku ingin memberi nutrisi kepada ketiga anakku dad,"
"Puasa dulu seminggu," sambung paman Malik yang juga menepuk punggung Valeno. "Jangan seperti daddy kamu. Yang setiap hari memberi pupuk. Jadi osteoporosis kan sekarang ha ha ha," ujar paman Malik sambil tertawa kencang.
"Enak saja kalau bicara. Siapa bilang osteoporosis. Aku masih kuat lima ronde," sambung daddy Valeno sambil menyingkirkan tangan paman Malik yang masih berada di pundak putranya tersebut.
"Pret aku tidak percaya dasar kambing,"
"Ya sudah kalau tidak percaya,"
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Valeno penasaran.
__ADS_1
"Jangan sok polos," sambung daddy Valeno dan juga paman Malik bersamaan sambil menoyor kepala Valeno.
"Aku memang polos,"
"Terserah," sambung daddy Valeno dan juga paman Malik bergantian.
"Stop! Daddy dan juga paman ingin kemana?" tanya Valeno sambil menahan bahu kedua pria paruh baya tersebut yang ingin masuk kedalam ruang pemeriksaan Fillea. Saat sebelumnya Fillea, mommy Valeno dan juga bibi Sabila sudah masuk kedalam.
"Daddy ingin melihat menantu daddy lah,"
"Enak saja. Tidak bisa. Tidak ada pria lain yang boleh melihat istriku diperiksa. Kalian tunggu saja di bangku tunggu,"
"Biarin," sambung Valeno yang langsung masuk ke dalam. Membuat kedua pria paruh baya tersebut langsung menggelengkan kepalanya dan tersenyum menuju bangku tunggu yang berada tepat di ruang pemeriksaan.
"Lihatlah anakmu tidak jauh kelakuannya dengan kamu dulu,"
"Tentu siapa dulu bibitnya," sambung daddy Valeno sambil tertawa.
"Et tunggu dulu dokter Boy ingin kemana?" tanya Valeno saat sudah berada di ruang pemeriksaan istrinya. Saat melihat dokter Boy menuju ranjang di mana Fillea sudah berada untuk melakukan pemeriksaaan. "Apa dokter Boy lupa. Dokter tidak boleh memeriksa istri aku. Dan hanya asisten dokter Boy yang boleh," ujar Valeno mengingatkan kembali. Syarat yang diajukan dirinya kepada Fillea. Jika dirinya tidak melarang dokter Boy menjadi dokter kandungannya. Asal asisten pribadi dokter Boy yang perempuan yang boleh menyentuh istrinya.
__ADS_1
"Iya saya tahu pak. Tapi ibu Lea yang menyuruh saya untuk memeriksa nya," jelas dokter Boy sambil tersenyum.
"Tidak bisa!" tegas Valeno yang langsung menghampiri istrinya yang sudah berbaring di ranjang. "Istriku. Aku sudah pernah bilang…"
"Iya aku tahu. Tapi kamu lihat sendiri asisten dokter Boy tidak ada. Karena dia sedang sakit," sambung Fillea memotong perkataan suaminya.
"Ya sudah. Kita pulang saja,"
"Enak saja kalau bicara. Mommy ingin mengetahui keadaan cucu mommy dan juga jenis kelaminnya," ujar mommy Valeno yang langsung menarik tangan putranya tersebut menuju pintu. "Kamu tunggu di luar saja. Jangan jadi pria yang posesif. Karena di posesifin itu tidak enak," ujar mommy Valeno yang langsung mendorong tubuh anaknya untuk keluar dari ruangan tersebut. Membuat Valeno langsung menghembuskan nafasnya kasar.
"Sabar," ujar daddy Valeno sambil menepuk punggung putranya. Saat Valeno sudah duduk di bangku tunggu.
Hampir satu jam mereka semua berada dirumah sakit dan semuanya sekarang sudah berada di lobby rumah sakit untuk pulang. Sebelum Fillea menunjuk penjual es cincau keliling yang berada di depan rumah sakit dan menginginkan nya. Membuat Valeno dengan semangat menuju penjual es cincau tersebut karena sebelumnya istrinya tidak pernah menginginkan sesuatu, dan Valeno tidak menyadari ada mobil yang melaju kencang.
"Leno!"
"Awas!"
*Like*Komen*Bersambung...............
__ADS_1