
"Tapi aku menyayangimu, karena cinta tanpa kasih sayang, bagai sayur tanpa garam kurang sedap kurang enak. Kamu punya cinta aku punya sayang jadi hubungan kita sempurna," ujar Fillea yang sekarang menatap wajah Valeno begitu pun Valeno yang langsung mencium bibir Fillea dan langsung mendapat tepuk tangan dari pera pengunjung cafe tersebut.
"Lepaskan, aku malu dilihat banyak orang kus," ujar Fillea sambil melepas ciuman Valeno.
"Untuk apa malu, kita melakukan kikuk kikuk disini mereka juga bodo amat,"
"Kamu stres kus? Yang melakukan kikuk kikuk ditempat umum itu hanya orang stres kalau tidak dia keturunan wedus," ujar Fillea yang langsung turun dari panggung menuju tempat duduk nya diikuti Valeno. Dan Valeno langsung memeluk Fillea dari belakang sebelum Fillea duduk di kursinya.
"Kus, aku lapar lepaskan pelukanmu,"
"Tidak akan," ujar Valeno yang langsung melepas pelukannya dan membalik tubuh Fillea untuk menghadap ke arahnya. "Jadilah ibu dari anak-anakku dan istri untukku selamanya, jangan pernah tinggalkan aku, dan tegurlah aku bila aku melakukan kesalahan aku mencintaimu Fillea Abraham," ujar Valeno sambil bersimpuh dengan satu lututnya di depan Fillea dan memasangkan cincin di jari manis Fillea yang baru saja dirinya ambil dari kantong celana nya.
"Buktikan saja dengan perbuatan kus jangan banyak cing cong, aku sudah sangat lapar," ujar Fillea sambil membantu Valeno berdiri.
"Kamu tidak ada romantisnya sama sekali pus. Harusnya kamu mengatakan terima kasih sayang, aku akan menjadi ibu dari anak-anakmu dan istrimu yang selalu berada disampingmu dikala senang dan sedih. Begitu kan enak didengar pus," ucap Valeno sambil duduk di kursinya.
"Aku tidak butuh perkataan kus, yang aku butuh perlakuan dan kenyataan. Omongan itu hanya di mulut," ucap Fillea yang langsung menyantap makan malam yang sudah tersaji di hadapannya.
"Ok aku akan buktikan padamu,"
__ADS_1
"Bagus," ujar Fillea singkat sambil menyuapi makanan yang berada di sendoknya ke mulut Valeno saat Valeno ingin mengatakan sesuatu.
"Makanlah kus, jangan bicara lagi,"
"Tapi suapin ya? gantian ok," ujar Valeno dan Fillea langsung menyuapi Valeno bergantian dengan dirinya.
"Aku sudah kenyang, sekarang aku yang akan menyuapimu, karena kamu butuh tenaga untuk kita menghabiskan malam terakhir kita di sini," ujar Valeno sambil mengambil alih sendok yang berada di tangan Fillea.
"Aku juga sudah kenyang kus,"
"Tidak bisa kamu harus makan yang banyak, agar di pertengahan jalan kamu tidak menghentikan perjalanan ku pus, seperti tadi siang,"
"Tapi kamu menikmatinya kan pus?"
"Tentu saja, yuk kita pulang sekarang aku ingin menikmati nya lagi,"
"Ayuk," ucap Valeno antusias sambil beranjak dari duduknya. "Akan aku berikan tusukan maut yang luar biasa nikmatnya, hingga kamu tidak dapat membedakan siang dan juga malam karena begitu menikmati nya,"
"Lebay, kamu kira aku pikun tidak bisa membedakan siang dan juga malam, itu ponsel kamu berbunyi angkat dulu," ucap Fillea saat mendapati ponsel milik Valeno tidak berhenti berdering di dalam kantong celananya.
__ADS_1
"Dari Mario biarkan saja," sambung Valeno saat melihat layar ponsel nya dan mendapati Mario yang menghubunginya.
"Kus siapa tahu penting,"
"Tidak ada yang lebih penting dari tusukan maut," ujar Valeno yang langsung menggandeng tangan Fillea dan sesekali menciumi punggung tangan Fillea keluar dari cafe tersebut.
*
Valeno dan juga Fillea yang sudah sampai di bandara Sukarno Hatta terus bergandengan keluar dari pintu kedatangan. Dan Fillea menyadarkan kepalanya di bahu Valeno saat dirinya begitu lelah setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh meskipun dirinya tidak mengalami jet lag lagi.
Membuat Valeno beralih merangkul bahu Fillea dan memberikan ciuman singkat di pucuk kepala Fillea. Kemudian Valeno menghentikan langkahnya sambil menatap seseorang yang tidak jauh darinya yang juga sedang menatapnya.
*
Like
*
komen
__ADS_1
Bersambung.........