
"Oke Leno. Naik ke atas lagi rasanya sungguh nikmat,"
"Yang sebelah sini?"
"Iya itu. Oh nikmat sekali tekan lebih kencang Leno,"
"Oke. Bagaimana rasanya?"
"Enak. Leno jangan kurang ajar. Kamu bilang ingin memijat kakiku,"
"Aku memang sedang memijat kakimu,"
"Tapi tangan kondisikan," ujar Fillea saat tangan Valeno mencoba melepas kancing celana yang Fillea kenakan.
"Aku hanya tidak ingin si kecil merasa kesakitan di dalam sini saat kamu menggunakan celana ini,"
"Tenang saja celana ini dirancang untuk wanita hamil,"
"Tidak bisa. Lepaskan sekarang atau aku yang akan memaksamu?"
"Kamu itu punya otak atau tidak sih? Kalau aku tidak pakai celana aku harus telanjang begitu? Bisa bisanya aku menikah dengan orang gila sepertimu,"
"Apa kamu mengataiku?"
"Iya karena kamu sudah gila,"
__ADS_1
"Aku gila karena kamu," sambung Valeno yang langsung mengungkung tubuh istrinya.
"Leno jangan macam-macam ini di kantor,"
"Dan ini kantorku. Terserah padaku," ucap Valeno tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya merayu Fillea dan langsung mencium bibir istrinya.
"Oh maaf pak. Sekali lagi maaf. Saya kira tidak ada ibu Lea," ucap sekretaris Valeno yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja Valeno. Membuat Valeno langsung melepas tautan bibirnya dan menatap kesal ke arah sekretarisnya.
"Bejo! Aku sudah bilang padamu kalau ingin masuk ke ruanganku ketuk pintu dulu. Sudah berapa kali aku katakan ke padamu!"
"Maaf pak. Saya masih teringat dengan pekerjaanku yang lama," sambung Bejo membuat Valeno langsung menghembuskan nafasnya kasar.
"Dan aku juga pernah bilang. Jangan pernah membalas perkataanku kalau aku tidak menyuruh kamu untuk menjawab. Kamu mengerti!"
"Bagus, kalau kamu masih lupa lagi. Aku potong gaji kamu,"
"Jangan dong pak. Nanti istri saya tidak bisa beli skincare. Katanya skincare di rumah habis. Meskipun aku juga tidak akan membelikan skincare untuk nya kalau aku sudah gajian. Mendingan uangnya aku tabung buat kawin lagi,"
"Bejo!" teriak Valeno membuat Bejo langsung menutup mulutnya. "Belum lama aku memberitahu kamu tapi kamu sudah lupa,"
"Ma…"
"Diam jangan berkata lagi," ucap Valeno memotong perkataan Bejo. "Untuk apa kamu ruanganku?" tanya Valeno tapi Bejo hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Valeno. "Bejo! Jawab pertanyaanku kenapa kamu hanya diam saja!"
"Baik pak. Saya akan menjawab sesuai perintah dari pak Leno. Saya kemari ingin memberikan laporan yang harus pak Leno tanda tangani,"
__ADS_1
"Oke. Sekarang kamu pergilah!" perintah Valeno sambil mengambil map yang berada ditangan Bejo. "Dan jangan mengatakan apapun lagi!" ujar Valeno saat Bejo akan mengatakan sesuatu. Membuat Bejo mengurungkan niatnya dan keluar dari ruangan. "Lihat sekretaris pilihan kamu pus. Membuat aku naik darah," ucap Valeno sambil melempar map ke atas meja dan berjalan menuju ke arah istrinya kembali.
"Tapi dia kerjanya bagus!"
"Iya aku juga tahu,"
"Terus apa yang kamu permasalahkan?"
"Ya begitu tadi,"
"Tapi aku rasa dia sungguh menghibur," sambung Fillea sambil menahan senyum.
"Terhibur dari mananya? Yang ada aku bisa jatuh stroke karena darah tinggi,"
"Kamunya saja yang terlalu serius,"
"Harus dong apalagi kalau untuk yang satu ini aku akan serius," sambung Valeno yang langsung memeluk tubuh istrinya yang masih berada di atas sofa bed,"
"Leno aku tidak bisa bernafas. Lepaskan,"
"Baik aku akan melepaskan. Tapi aku butuh imun untuk mengawali hari ini," ucap Valeno yang langsung mencium bibir istrinya dan merebahkan tubuh istrinya pelan-pelan.
"Bejo!" teriak Valeno sambil melepas tautan bibirnya saat ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan nya.
*Like*Komen*Bersambung................
__ADS_1