
Dian dan Lestari saling berpandangan, mencoba menimbang apakah perlu menceritakan kisah masa lalu itu di saat seperti ini, sementara Dhatu menatap keduanya secara bergantian.
"Apa dulu aku pernah membuat Mas Dirga terluka dan merasa bersalah seperti sekarang?"
"Bagaimana keadaan Dirga?" tanya Darma begitu berdiri di samping Dhatu.
Rina dan Krisna mengusap lengan Dhatu dan tersenyum menenangkan. Dian dan Lestari bernapas lega karna semua orang sudah ada di antara mereka, hingga ada pangalihan pembicaraan yang bisa menunda apa yang memang seharusnya mereka beritahukan pada Dhatu sebelum hari pernikahan mereka. Mungkin saja, keduanya tak merasa asing lagi.
"Mas Dirga masih berjuang di dalam, Pa. Mohon bantuan doanya," ucap Dhatu berusaha tegar. Darma dan Sanjaya memeluk Dhatu secara bergantian, mengucapkan kata-kata menguatkan untuk wanita itu.
Setelah saling bertukar kabar dan cerita, meteka semua duduk menempati bangku-bangku yang ada di depan ruang operasi. Lestar dan Dian duduk mengapit Dhatu, sedang yang lainnya berusaha memberi ruang pada wanita itu.
Dian bercerita jika saat mendengar kabar mengejutkan itu dari Lestari, ia langsung menghubungi Rina dan meminta pertolongan untuk diantarkan ke rumah sakit. Sebenarnya, ia tak ingin merepotkan sahabat anaknya, akan tetapi pikiran Dian kacau dan tak mungkin suaminya bisa membawa mobil sendiri dari Jakarta ke Bogor. Beruntung Rina mau membantu mereka dan mengajak Krisna ikut serta untuk menjadi supir mereka. Sungguh Dhatu sangat beruntung memiliki begitu banyak orang yang menyayanginya.
"Tu ... kamu udah makan?" tanya Lestari mengusap-usap tangan Dhatu. Dhatu menggeleng lemah. Ia tak mau meninggalkan suaminya yang tengah berjuang seorang diri.
"Kamu gimana sih, Tu? Kamu itu lagi hamil, jangan mikirin diri sendiri. Kasihan dikit sama bayi kamu, Tu." Dian menasehati. Ia menggeleng-geleng melihat anak perempuannya yang selalu bersikap keras kepala.
"Kita makan dulu. Ada papamu yang bisa menjaga sebentar di sini," ucap Lestari seraya berdiri.
__ADS_1
Dhatu menggeleng. "Aku mau tetap di sini, Ma."
Dian berdecak sebal. "Tu ... sekarang bukan saatnya untuk menjadi keras kepala. Ingat anakmu. Kamu mau membuat Dirga semakin sedih kalau melihatmu seperti ini?"
Air mata Dhatu kembali jatuh. Padahal, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap kuat dan tak menangis di hadapan keluarganya, akan tetapi dirinya gagal. Membayangkan perjuangan Dirga membuta hatinya pedih bukan main.
Lestari tersenyum dan mengusap lembut wajah Dhatu. "Kita makan di kantin rumah sakit. Setelah itu langsung kembali ke sini. Mama dan mamamu akan menemani. Mama mohon ya?" Lestari menatap Dhatu dengan tatapan memohon.
Dhatu tak lagi mau bersikap keras kepala. Ia harus memikirkan bayinya karna kini bukan hanya dirinya sendiri yang ia siksa, namun ia turut menyiksa calon bayi mereka. Dhatu mengangguk, membuat Dian dan Lestari tersenyum lega. Kedua wanita itu menggenggam erat tangan Dhatu dan berpamitan pada semua yang menunggu di sana. Keduanya menuntun tubuh Dhatu yang lemah menuju kantin rumah sakit.
Lestari menemani Dhatu duduk, sementara Dian membelikan makanan untuk anaknya. Lestari merasakan kekhawatiran yang sama. Anaknya tengah berjuang, sedang menantu dan juga calon cucunya tengah menyiksa diri..Sungguh, bathinnya terasa pilu menyaksikan pemandangan itu.
"Ma ... apa yang dikatakan Mama tadi? Ada kejadian apa di masa lalu kami? Apa sebelum menikah, kami memang udah saling bertemu?" Dhatu menatap ibu mertuanya dengan tatapan penuh tanya, menuntut untuk mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya.
"Kamu yang lebih muda di antara mereka. Kamu tahu, Dirga yang dulu memintamu menjadi pengantinya, oleh karna itu mama dan mamamu membuat kesepakatan untuk menikahkan kalian setelah dewasa nanti," ucap Lestari sembari mengusap lembut wajah menantunya. Ia dapat melihat keterkejutan pada wajah Dhatu.
"Aku benar-benar nggak ingat kalau kami pernah berteman di masa lalu."
"Wajar karna mamamu meminta psikiater untuk menghapus ingatanmu tentang Dirga." Lestari menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, "dulu saat bermain denganmu, Dirga jatuh ke sungai dan kepalanya terbentung batu. Dirga koma dan kamu menangis terus-menerus, merasa bersalah karna merasa membuat Dirga kecelakaan. Padahal kami semua sudah memberitahumu jika semua itu adalah kecelakaan saja."
__ADS_1
Dhatu masih merasa terkejut dengan cerita yang baru didengarnya hari ini. Itulah mengapa ingatannya tentang masa kanak-kanak begitu minim?
"Mamamu terpaksa meminta seorang psikiater untuk menghipnotismu. Untuk melupakan Dirga yang ternyata karna kecelakaan itu pun menjadi lupa padamu. Kami pikir, jika kalian saling melupakan adalah hal yang baik. Walau sempat bermimpi untuk berbesan, namun kami nggak mau memaksakan kalian yang trauma karna kecelakaan itu."
"Aku memang selalu menyusahkannya," Dhatu mulai terisak, "maafkan aku, Ma."
Lestari memeluk Dhatu, lalu mengusap-usap punggung wanita itu. "Inilah mengapa mama nggak mau kamu mengetahui hal ini. Sebenarnya, beberapa hari setelah pernikahan kalian, mama menceritakan semuanya pada Dirga dan berharap dia nggak memperlakukanmu dengan buruk lagi. Dia sama terkejutnya denganmu dan menganggap mama mengada-ada, akan tetapi mama yakin dia jika perlahan dia akan mengingat semua kejadian di masa lalu dan kembali menerimamu," Lestari tersenyum seraya melepaskan pelukan.
"Setelah kecelakaan itu, Kakak Dirga divonis kanker oleh dokter, Dirga masih terlalu kecil dan dia harus menghadapi semua itu setelah terbangun dari koma. Oleh karna itu, kami menjauhkan kalian."
"Apa Kak Delia ...."
"Dia meninggal di usia muda. Kepergiaannya membuat Dirga trauma dan takut jika melihat seseorang jatuh sakit. Delia sering mengeluhkan sakit perut dan meremehkan penyakitnya, yang ternyata adalah penyakit kritis yang sulit disembuhkan."
Kini Dhatu mulai mengerti mengapa Dirga begitu ketakutan saat ia terlihat tidak enak badan. Penyebabnya adalah Delia. Kakak lelaki itu yang pergi dan meninggalka trauma yang begitu dalam. Air mata Dhatu mengalir semakin deras. Ia sungguh tak tahu, jika di masa kecil, mereka telah melewati begitu banyak masa sulit. Dhatu pun tak pernah menyangka jika ada cerita seperti itu di antara mereka. Cerita yang telah dihapuskan dari benaknya.
"Jadi ... kamu harus kuat dan nggak lagi merasa bersalah. Jangan mengulang kesalahan sama yang akan menjauhkan kalian. Berdoa dan tetaplah kuat, minta pada Tuhan untuk mengembalikan Dirga pada kita semua," Lestari mengenggam tangan Dhatu erat-erat dan tersenyum lembut, senyum itu menular pada Dhatu. Dhatu mengangguk penuh keyakinan.
Ya, dirinya tak boleh melakukan kesalahan yang sama, ia tak mau lagi berpisah, apalagi melupakan satu-satunya lelaki pemilik hatinya. Dhatu tak mungkin sanggup berjauhan dari Dirga. Ia menginginkan lelaki itu untuk selalu berada di hidupnya. Menemani hari-harinya dan menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Kali ini, aku yang akan kuat untuk Mas Dirga, Ma. Aku akan selalu ada di sisinya."
Keduanya saling berbagi senyum. Ya, kali ini, Dhatu kuat untuk keluarga kecilnya.