
Seharian ini Dhatu bekerja dengan tidak tenang, banyak mata dan juga suara-suara menyakitkan telinga yang tak bisa ditolaknya. Banyak orang divisi lain yang tiba-tiba masuk ke ruangan hanya untuk melihatnya, menanyakan apa hubungan antara Dhatu dan juga Dirga, Krisna telah menjadi mesin penjawab otomatis yang bertugas menjawab semua pertanyaan orang-orang. Tunggu aja, hari ini semua rasa penasaran kalian akan segera terjawab-- begitulah yang Krisna katakan pada mereka semua.
Krisna mengelus lengan Dhatu. "Yang sabar ya, Bu Bos."
Dhatu tergelak. "Mas ... stop manggil aku Bu bos," ucap Dhatu memutar mata jengah, sedang Krisn tertawa mendengarkan kekesalan wanita itu.
"Itu kenyataannya, Tu. Kamu kan istrinya bos."
Dhatu berdecak sebal untuk yang kesekian kalinya. "Kamu nyebelin banget sih, Mas!"
Krisna tertawa, lalu mereka kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Hati Dhatu berdebar menantikan jam makan siang, bukan ingin memamerkan suaminya pada semua orang, namun kebahagiaan yang tercipta karna kini dirinya bukan lagi bayangan. Lelaki itu memintanya berjalan bersama, bersisian, dan bergenggaman tangan dengan erat. Lelaki itu tak lagi menginginkan dirinya berjalan di belakang dan tak terlihat. Bagi Dhatu, perubahan itulah yang terpenting. Bukan karna status sosial yang beranjak naik, namun cinta lelaki itu yang paling disukainya.
Menit demi menit telah berlalu. Jam makan siang yang ditunggu banyak orang telah tiba. Semua orang berkumpul di aula yang sudah dihias sederhana dan beragam makanan yang tersaji di sana. Dari makanan barat, hingga timur. Semua ini Dirga yang menyiapkan. Jauh-jauh hari seteka Dhatu mengajukan surat pengunduran dirinya, Dirga sudan memesan makanan dan membicarakan tentang rencananya pada pihak HR yang bertanggungjawab dalam mengorganisir semua karyawan agar bisa hadir dan menikmati makan siang bersama. Begitu banyak yang harus disyukuri Dirga, pertemuan dengan Dhatu, pernikahan, bahkan bayi yang menanti untuk segera dilahirkan ke dunia ini. Anggap juga sebagai perkenalannya sebaga CEO dalam suasana lebih santai. Ya, walau memang sudah terlambat, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?
__ADS_1
Acara dibuka dengan pihak HR yang memberi kata sambutan dan menyampaikan jika acara ini dibuat sebagai syukuran atas kabar hamilnya istri Dirga. Semua orang tentu saja terkejut dengan info yang mereka terima, serentak semua orang mengarahkan pandangan pada Dhatu yang berdiri di antara karyawan. Rina yang berdiri di samping Dhatu menggenggam erat tanga wanita itu.
"Seperti yang kalian tahu, saya baru bekerja di sini dan pastinya sebagian dari kalian nggak mengetahui kehidupan pribadi saya," ucapan Dirga membuat semua mata kembali mengarah padanya, "sebenarnya, sebelum ditempatkan di sini. Saya sudah menikah dan karna istri saya adalah salah satu karyawan di sini, maka kami memang nggak menggebor-gemborkan kabar ini. Toh, pesta pernikahan sudah berlangsung dan nggak mungkin saya masuk ke sini, lalu memberitahu kepada semuanya siapa istri saya. Jadi, saya harap, kalian juga mulai berpikir positif. Sudah cukup semua gosip yang beredar. Kini semua rasa penasaran kalian sudah terjawab," lanjut Dirga tegas. Aura kepemimpinan lelaki itu begitu terlihat.
Sesungguhnya, sebagai seorang atasan ia tak perlu menjelaskan kehidupan pribadinya pada semua karyawan yang bekerja di bawahnya. Jika saja bukan karna gosip yang semakin parah, maka Dirga tak kan merencanakan semua ini. Harusnya juga, bukan tugasnya mengurus gosip yang beredar, namun dirinya tak bisa mencegah keinginan untuk memperbaiki nama Dhatu yang telah tercemar karna semua pemikiran buruk tentang mereka.
Banyak orang menatap Dhatu, lalu sengaja menjaga jarak, sebagian lagi tersenyum. Orang yang dulu membencinya bahkan terlihat begitu baik dengan menyunggingkan senyum yang tak pernah Dhatu lihat selama ini. Ya, begitulah manusia pada dasarnya. Mudah mengubah pendirian dan bermuka dua hanya demi mencari muka.
"Ayok, makan." Dirga menggenggam tangan Dhatu dan menuntunnya untuk ikut bergabung dengan meja yang disiapkan khusus untuknya.
Di sana, Dhatu diperkenalkan pada jajaran manager yang selama ini kerap tak menyadari kehadirannya. Semua orang tampak segan. Dhatu seakan baru bertemu dengan orang-orang baru. Meja yang ditempati para petinggi perusahaan itu terasa asing. Dhatu baru sadar, jika memang kehidupan mereka sangat berbeda. Biasanya, ia suka bersantap sambil melemparka canda tawa, namun di meja ini, ia seakan peserta yang harus berpenampilan baik di depan juri. Tak bisa mencegah pandangan menilai yang mereka tujukan padannya. Ternyata inilah yang adanya perbedaan yang begitu kental antara Si kaya dan Si miskin. Stereotip yang tercipta di masyarakat bahwa orang-orang kaya harus bersikap anggun dan tak tergapai, menyebabkan Si miskin terlihat tak cocok bersanding dengan Si kaya.
Dirga yang menyadari kecanggungan Dhatu, menggenggam tangan wanita itu yang disembunyikannya di balik meja.
__ADS_1
"Kamu tahu, mereka semua nggak nyata. Hanya sekumpulan manusai yang penuh dengan kepura-puraan. Nyata adalah kamu, jadi jangan dipikirkan," bisik Dirga pelan pada telinga Dhatu.
Begitulah Dirga, dengan mudah menaikkan tingkat kepercayaan dirinya hanya dengan untaian kata-kata penuh ketenangan yang terucap dari mulutnya. Membuat hal yang mustahil menjadi mungkin. Walau tak ada masalah dengan keluarga mereka yang status sosialnya begitu berbeda, namun masuk ke dunia lelaki itu, membuatnya sadar jika perbedaan memang tak bisa dihindari.
"Aku baik-baik aja, Mas," bisik Dhatu seraya tersenyum tipis, "aku mau ambil minuman dulu," lanjut Dhatu hendak berdiri, namun Dirga dengan cepat meraih pergelangan tangan Dhatu, mencegah aksi wanita itu.
"Aku ambilin ya, Sayang. Kamu duduk aja."
Dhatu tersenyum untuk yang kesekian kalinya dan menggeleng lemah. "Nggak usah, Mas. Aku ambil sendir. Pleasee ..." Dhatu menatap lelaki itu memohon.
Dirga menghela napas panjang dan melepaskan genggaman tangannya. Dhatu segera berdiri dan menuju ke saung di mana banyak berbagai macam minuman tersaji di sana. Dhatu lebih memilih menjauh, daripada harus berada di meja yang sama dengan orang-orang yang tak begitu akrab dengannya. Memasang senyum palsu dan pura-pura menikmati keberaamaan mereka. Dhatu tak menyukai kepura-puraan, hingga merasa tak pantas berada di sana. Ia pun tak mau jika orang banyak bertanya mengenai mereka sepeninggalan Dirga nanti. Oleh karna itu, lebih baik dirinya pergi dan mencoba mencerna kehidupan Dirga yang mengharuskannya untuk membiasakan diri ke depannya.
Dhatu membawa jus melon yang diambilnya dari tempat itu, lalu melirik pada Dirga yang sudah terlihat begitu cepat membaur dengan orang-orang yang dikatakannya penuh kepura-puraan. Dhatu tersenyum miris. Begitukah kehidupan kalangan atas? Penuh sandiwara?
__ADS_1