
Dirga dan Dhatu ke tempat yang pembelia martabak yang dimaksudkan oleh Kana. Sebenarnya, mereka bisa saja memesan via online, akan tetapi Dirga suka mengajak Dhatu berjalan-jalan menikmati jalanan Jakarta. Dhatu pun suka berkendara bersama lelaki itu, menceritakan banyak hal dalam perjalanan, dan bercanda tawa. Hal yang mulai menjadi hobby keduanya.
Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di tempat tujuan. Antrian panjang membuat Dirga berdecak sebal. Dirinya meminta Dhatu menunggu, sementara dirinya memesan dan mengantri. Dalam diam Dhatu memperharikan Dirga. Dalam hati ia bertanya, apakah jika dirinya mengandung nanti, lelaki itu akan melakukan hal yang sama? Mengantri panjang demi dirinya dan bayi mereka? Dhatu mengusap perut ratanya dan tersenyum miris. Dirinya hanyalah manusia biasa yang tentu saja bisa merasa iri.
Kehadiran Kana dan bayinya sesungguhnya membuat Dhatu merasa takut. Sebisanya ia menekan rasa demi bayi yang dikandung wanita itu. Walau bagaimanapun dirinya juga seorang wanita. Ia yakin, jika suatu saat nanti, ia akan mengalami apa yang Kana tengah alami saat ini.
Menit demi menit telah berlalu, Dirga sudah datang dengan membawa martabak telur pesanan Kana dan martabak manis untuk Dhatu.
"Capek nunggunya, Sayang?" ucap Dirga seraya duduk di hadapan Dhatu, "kita dudum bentar, mau? pegel nih," lanjut menatap Dhatu memohon.
Dhatu tergelak. "Nggak kasihan sama yang lagi ngidam?"
"Lebih kasihan sama kamu," ucap Dirga seraya mengusap lembut wajah Dirga, "maaf, Tu. Aku udah nyusahin kamu," lanjutnya sedih.
Dhatu menggenggam tangan Dirga yang berada di wajahnya dan tersenyum menenangkan. "Aku baik-baik aja, Mas. Selama kita bersama, aku akan kuat menghadapi apa pun."
"Aku benar-benar beruntung menemukanmu di antara milyaran manusia."
__ADS_1
Keduanya berbagi senyum. "Kita pulang sekarang yuk, Mas!"
Dirga mengangguk seraya berdiri, digenggamnya erat tangan wanita itu dan keduanya bercerita sembari berjalan kembali ke parkiran mobil.
Menit demi menit telah berlalu, mereka tiba di rumah segera mengunjungi bungalow tempat Kana tinggal. Wanita itu tersenyum mencium aroma yang mengugah selera. Ia terlihat riang, sejenak membut Dirga terkesima, tak seperti Kana yang selama ini ia kenal Berwajah cantik dan juga sedikit sombong, tak seperti sekarang yang lebih terlihat seperti seorang bocah yang denanh ketika dibelikan permen. Ia menggeleng, mencoba mengusir pemikirannya barusan. Kana tetaplah Kana, wanita yang tak mungkin bisa berubah.
"Boleh aku membuka kotaknya?" tanya Kana menatap Dirga dengan matanya yang berbinar.
Dhatu yang melihat kebahagiaan di wajah wanita itu ikut tersenyum. Ia mengenggam tangan Kana dan menuntunnya berjalan ke arah sofa. "Biarkan Mas Dirga yang membawakannya untukmu."
Kana mengangguk pasrah dan berjalan ke sofa. Semuanya duduk di sana dan Kana tampak tak sabar. Dhatu yang melihat wanita itu tertawa kecil. Dibukanya kotak martabak yang dibawakan oleh suaminya dan seketika senyum Kaa mengembang. Dhatu baru kali ini melihat kepolosan pada wajah wanita yang biasanya selalu ditutupi dengan senyum sinis dan juga make up tebal, membuat wajahnya tampak lebih tua dari usia sebenarnya.
"Makasih." tanpa menunggu lagi, Kana segera menyantap martabak di hadapannya dengan lahap, sedang Dirga dan Dhatu hanya menatap wanita itu kagum. Ia terlihat seperti dirinya sendiru, seakan tak ada yang mau ditutup-tutupinya.
"Ayo kita kembali ke rumah, Tu. Martabakmu juga mau dimakan, kan." Dirga mengulurkan tangannya pada Dhatu. Dhatu menggeleng dan membuka kotak martabak manis miliknya.
"Aku mau makan di sini menemani Kana. Mana tahu, dia mau nyobain yang manis," ucap Dhatu melirik pada Kana.
__ADS_1
Kana dengan cepat menggeleng. "Nggak mau, Tu. Kamu bawa aja ke rumahmu."
Dhatu menggenggam tangan Dirga. "Kita makan di sini aja, Mas. Kasihan Kana sendirian."
Dirg menatap Dhatu nanar. Dirinya hanya ingin berduaan saja dengan wanita itu, namun Dhatu menggagalkan rencananya. Tatapan memohon dan senyum Dhatu membuat Dirga tak lagi bisa berkutik. Ia mengangguk. Dhatu yang duduk di samping Dirga tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih, sedang Kana menatap keduanya sendu. Hal yang paling ingin dihindarinya adalah melihat kebersamaan keduanya.
Dhatu menyuapi Dirga dengan mesra dan keduanya tampak serasi. Lagi-lagi, Kana lah yang harus tersiksa sendiri dengan ketidaktahuan keduanya. Awalnya, ia memang berpikir untuk mendapatkan lelaki itu kembali, namun semua itu hanya angan sesaat.
"Apa rencanamu setelah melahirka lagi, Kana?" tanya Dhatu di sela kegiatan makan mereka.
Kana terpaku sesaat. Sungguh, ia belum memilik rencana apa pun. Dirinya tak mampu memikirkn bagaimana masa depan yang ingin dijalaninya setelah semua ini berakhir. Apakah menetap di kota yang telah mengubahnya menjadi seorang monster atau memilih pergi jauh dan berusaha membuka lembaran baru untuk dirinya sendiri. Dulu, ia pikir, uang akan mampu membuatnya melakukan apa pun, namun kini uang yang banyak pun tak bisa membuatnya merencanakan masa depan. Jalan di hadapannya seakan kosong, sehampa jiwanya.
Jika saja, ia dilahirkan di keluarga yang bahagia, lengkap, dan penuh cinta. Mungkin dirinya tak ka mungkin salah mengartikan rasa dan membuatnya tenggelam dalam penyesalan. Jika saja, ia tahu rasanya mencintai dan dicintai, maka ia tak ka menjadi wanita yang mengerikan seperti sekarang. Sayang, kita tak bisa memilih memalui rahim dan dari keluarga mana kita akan lahir. Tuhan telah mengatur semuanya, dirinya yang tidak lain hanyalah seorang manusia biasa, tak memiliki kuasa apa pun untuk menentang rencana Tuhan. Akan tetapi, melihat kebaikan Dhatu dan kebencian Dirga membuatnya sadar, inilah rencana Tuhan untuknya. Mempertemukannya dengan orang baik, mengajarkannya arti sesungguhnya dari kata menghargai dan mensyukuri apanyang kita miliki saat ini.
Senyum Kana mengembang. "Aku mau melanjutkan kuliah, mengejar S2, dan mulai menata hidupku. Ini saatnya untuk melangkah maju. Aku hanya ingin menjadi orang yang baru."
Dirga terpaku melihat kesungguhan pada netra Kana. Hal yang selama ini tak pernah ia temukan pada wanita itu adala kebaikan dan juga mimpi. Kesungguhan dan keinginan, hari ini ia melihat semuanya pada diri wanita itu. Apa ini artinya Kana telah berubah? Apa wanita itu benar-benar telah menyadari semua kesalahan dan ingin menjad sosok yang lebih baik? Bisakah ia mempercayai apa yang dilihatnya saat ini?
__ADS_1
Dirga menggeleng. Rasamya tak mungkin Kaa bisa berubah secepat itu. Hanya dalam hitungan hari. Apa hang dapat mengubah hati yang penuh dengan kedengkihan? Apa karna wanita itu tengah mengandung, hingga aura keibuannya terpancar begitu saja atau semua ini karna kebaikan Dhatu yang berusaha ikhlas menerima wanita itu pada hidup mereka. Entahlah, Dirga tak ingin terjatuh pada perangkap wanita itu lagi. Manusia tak mungkin bisa secepat itu berubah, bukan? Tak mungkin Kana bisa berubah dalam sejekap mata. Tidak, wanita tak bisa membodohinya.