
Setibanya di rumah. Dirga meminta beberapa orang suruhannya untuk membersihkan bungalow yang akan Kana tempati. Ia juga mempekerjakan dua orang asisten rumah tangga untuk Kana dan Dhatu. Dhatu sempat menolak keinginan suaminya itu, namun Dirga memaksanya. Rasanya ganjal bila dirinya memfasilitasi wanita yang tak memiliki hubungan apa pun padanya, sementara istrinya sendiri harus bekerja keras membersihkan rumah mereka yang bisa dibilang cukup besar. Dhatu harus bangun pagi-pagi sekali, membersihkan rumah, dan juga menyiapkan makanan untuknya. Wanita itu dinikahinya bukan hanya untuk mengurus pekerjaan rumah, namun juga keluarga mereka.
Kini keduanya tengah duduk bersantai di halaman belakang rumah sembari memperhatikan para pekerja yang tengah merapikan bungalow yang jarang ditempati itu. Kebersamaan keduanya ditemani dengan teh hijau dan juga bolu marmer buatan tangan Dhatu.
"Tu ... aku khawatir," ucap Dirga setelah meletakkan kembali cangkirnya ke meja.
Dhatu tersenyum dan menggenggam tangan Dirga. Sejujurnya, Dhatu merasakan hal yang sama. Walau bagaimanapun Dhatu hanyalah seorang manusia biasa. Yang bisa marah dan juga sedih, ia bukan malaikat yang penuh dengan kebaikan. Akan tetapi, Dhatu percaya jika bersama Dirga, semuanya akan baik-baik saja. Walau badai menghadang, mereka akan terus bersama.
"Aku merasakan hal yang sama, Mas." Dhatu menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan, "tapi aku nggak bisa mengabaikan bayi yang tengah dikandungnya."
"Aku yakin, itu bukan anakku, Tu. Dia hanya berusaha menjebakku. Aku nggak pernah menyentuhnya." Dirga mengacak rambut gusar.
Dhatu mengeratkan genggaman tangannya dan tersenyum menenangkan. "Aku percaya penuh padamu, Mas. Kenapa kamu nggak mulai menyelidiki siapa yang ditemuinya sebelum kita menikah. Walau bagaimanapun, anak uang dikandung Kana perlu memiliki keluarga lengkap."
Dirga merasa beruntung memiliki Dhatu di sisinya. Wanita itu sungguh lah anugerah terindah yang pernah ia miliki. Andai saja, mereka lebih dulu bertemu, maka dirinya tak 'kan pernah terjebak bersama Kana, menjalani hubungan yang tak seharusnya mereka jalani. Kepura-puraan yang hanya meninggalkan luka di dalam hati.
"Aku akan meminta Drew menyelidikinya."
Keduanya bertukar senyum. "Apa kamu nggak masalah karna sampai saat ini aku belum hamil, Mas? Sebenarnya, kabar kehamilan Kana membuat martabatku sebagai wanita tersakiti. Aku yang mengharapkan semua itu, tapi dia yang lebih dulu mengandung." Dhatu tersenyum miris sembari menatap lurus ke balik punggung Dirga.
__ADS_1
"Kalau memang belum dikasuh sama Tuhan, apa hak ku yang tidak lain hanyalah umat untuk marah dan nggak terima?" Dirga mengusap lembut wajah Dhatu, "bersamamu aku bahagia. Ada atau tidak adany anak, aku akan selalu bahagia bersamamu, Tu."
Perkataan Dirga membuat hati Dhatu berdesir hangat. Ya, apa hak nya untuk merasa rendah jika Tuhan belum memberikan rejeki itu pada mereka. Yang terpenting mereka berusaha dan tak pernah lelah meminta pada Yang Maha Kuasa.
"Makasih banyak, Mas. Kata orang, wanita belum lengkap kalau belum menjadi ibu, jadi aku sedikit kepikiran."
Dirga berdiri, lalu berlutut di hadapan Dhatu, menatap ke dalam netra wanita itu. "Kamu nggak perlu menjadi ibu untuk merasa lengkap, karna kebersamaan kita saja sudah membuatku merasa demikian. Apa kamu nggak merasakan hal yang sama, Tu? Merasa lengkap saat bersamaku?" Dirga menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya.
Senyum Dhatu mengembang. Ia memeluk erat lelakinya. "Tentu aja, Mas. Kamu lah yang melengkapiku," ucap Dhatu mempertipis jarak di antara wajah mereka, kening keduanya saling menempel.
"Aneh, Tu. Aku merasa sudah mengenalmu cukup lama. Apa mungkin, sebelum pernikahan yang diatur itu, kita pernah bertemu?"
Dirga menjauhkan wajah mereka dan mencubit gemas wajah istrinya. "Aku mengatakan hal sebenarnya, kamu malah berpikir kalau aku sedang gombal."
"Bukankah biasanya, lelaki memang suka menggombal?"
Dirga menggeleng. "Tidak berlaku untukku."
Pandangan keduanya saling terkunci dan senyum menghiasi wajah mereka. Walau ada kekhawatiran yang menyelimuti hati, akan tetapi mereka tak merasa gentar. Selama bersama, maka mereka bisa melewati apa pun. Selama ada Dirga di sisinya, Dhatu tak 'ka mungkin menyerah. Dirinya akan terus maju ke depan dan bersama mereka bisa menemukan kebahagiaan.
__ADS_1
***
Rencana kepindahan Kana ke rumah mereka harus diundur sampa minggu depan karna wanita itu memiliki beberapa urusan yang harus diselesaikannya terlebih dahulu. Entah apa, Dirga tak ingin mencari tahu. Ada kelegaan di hati Dirga saat mendengarkan permintaan wanita itu. Dirinya merasa belum siap atau tak 'kan mungkin pernah siap untuk kembali berurusan dengan Kana.
Setelah seharian bekerja. Dhatu mengajak Dirga untuk berkunjung ke pusat oerbelanjaan untuk membeli beberapa pakaian dan juga peralatan bayi. Usia kandungan Kana memang baru memasuki bulan keempat, namun baju-baju bayi yang lucu membuat Dhatu gemas dan tak sabar ingin membelinya. Ia tak 'kan membeli banyak barang. Hanya sebagian kecil untuk memuaskan keinginannya berbelanja perlengkapan bayi. Dhatu merasa jika dirinya yang tengah mengandung. Ketika berjalan-jalan, matanya selalu mencari toko perlengkapan bayi, ia pun tak mampu menghentikan kaki yang hendak berkunjung ke sana dan memilih-milih pakaian yang menggemaskan itu.
Dhatu merasa bagai tengah mempersiapkan kelahiran bayinya sendiri. Tak dipungkiri, jika nantinya kenyataan menyatakan bayi yang dikandung Kana adalah darah daging Dirga, akan ada kesedihan di hatinya. Dirinya bukan malaikat dan pasti merasa kecewa karna bukan dirinya lah yang bisa memberikan anak untuk Dirga. Akan tetapi, memikirkan bayi kecil itu di dalam pelukannya, membuat semua kesedihan Dhatu sirna. Walau bukan dirinya yang mengandung, namun ia akan mencintai anak itu dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Itu janji Dhatu pada dirinya.
Dhatu tersenyum mengamati begitu banyaknya pakaian bayi yang tampak menggemaskan. Ia tak tahu bayi itu akan berjenis kelamin apa, hingga Dhatu memilih beberapa warna netral seperti biru muda, kuning muda, dan warna-warna lainnya untuk bayi itu. Hatinya dipenuhu kebahagiaan, sedang Dirga yang mengamati Dhatu tampak begitu bersemangat mulai menyukai keadaan itu. Mungkin memang ada rencana lain yang telah Tuhan siapkan untuknya, untuk mereka. Mungkin dengan kehadiran bayi itu, keluarga mereka akan menjadi lebih lengkap.
Getaran pada ponsel meyadarkan Dirga dari keterpakuannya. Nama Drew terpampang di sana. Dirga menyentuh lengan Dhatu dan permisi untuk menjawab panggilan. Dhatu tersenyum, lalu mengangguk sekilas, membiarkan lelaki itu meninggalkannya.
Tak lama seorang wanita menghampirinya, staff toko itu bertanya ramah. "Mau cari pakaian untuk bayi berapa bulan, Bu? Mungkin bisa saya bantu carikan."
"Bayi belum lahir sih, Mbak. Masih mau mempersiapkan aja."
Wanita itu terkejut dan menatap perut rata Dhatu. "Tampaknya kandungan Ibu belum begitu besar. Apa nggak terlalu cepat mempersiapkan pakaian bayi?"
Pertanyaan wanita itu membuat jantung Dhatu seakan diiris, ia menatap perutnya yang rata. Ia mencoba menolak rasa sedih yang mulai menjalar perlahan, namun tak mampu. Dirinya bukan mau mempersiapkan kelengkapan bayi yang berada di kandungannya, namun milik wanita lain.
__ADS_1