Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Kejutan Mama


__ADS_3

Dhatu duduk di tepi tempat tidur, menatap nanar amplop berisikan tiket dan juga voucher hotel yang diberikan ibu mertuanya tadi. Wanita itu benar-benar mampu membuat mereka berdua tak berkutik. Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Dhatu, ia menoleh pada Dirga yang berjalan masuk melewatinya. Dhatu dapat melihat wajah kesal lelaki itu dengan jelas. Pergi dua hari bersamanya pasti tidaklah mudah.


"Kamu mau mandi, Mas?" tanya Dhatu begitu melihat Dirga mengambil handuk dari jemuran yang berada di balkon kamar.


"Ya," jawab lelaki itu singkat sambil berjalan ke arah kamar mandi, ia membanting pintu keras, membuat Dhatu terkejut.


Dhatu meringis. Harusnya, lelaki itu tak perlu marah padanya. Toh, dirinya sendiri tak mengetahui rencana ibu mertuanya. Mereka sama-sama korban, namun lelaki itu kerap menganggapnya sebagai pelaku, sama dengan apa yang lelaki itu rasakan dengan pernikahan terpaksa mereka. Menuduh Dhatu yang bersekongkol demi harta, padahal dirinya pun memiliki kehidupnya sendiri, dan tak menyukai ide penuh keterpaksaan itu.


Dhatu mengeluarkan isi amplop, mencoba mengalihkan pikirannya dari Dirga yang selalu egois. Mata Dhatu terbelalak kaget saat melihat ada jarak satu minggu dari tiket berangkat dan pulang mereka. Lalu ia mengecek voucher hotel dan menemukan keganjilan yang sama.


Ya, Tuhan ... kok, bisa seminggu?


Dhatu menoleh begitu Dirga membuka pintu kamar mandi. Ia mengamati lelaki yang keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada, dalam seketika pemikirannya tentang waktu berlibur yang tak sesuai itu sirna. Pemikirannya dipenuhi dengan bagaimana rasanya berada di dalam dekapan lelaki itu? Tak sia-sia Dirga rajin berolahraga, jika hasilnya dapat membuat tubuhnya terlihat begitu menggiurkan.

__ADS_1


"Ngelihatin apa?"


Pertanyaan Dirga membawa Dhatu kembali ke alam nyata. Cepat-cepat Dhatu mengalihkan pandangan. Kedua pipinya terasa panas, malu bukan main. Harusnya ia tetap fokus.


"Anu ... itu ...." Dhatu tak mampu mencari alasan yang tepat untuk membenarkan sikapnya yang lazim.


Semenit kemudian Dirga menyusul Dhatu duduk di tepi tempat tidur. Dhatu menoleh dan lelaki itu sudah berpakaian lengkap, membuat Dhatu bisa bernapas lega. Kini, ia tak harus membagi pikirannya.


Dhatu menggeleng cepat. "Nggak, aku nggak begitu, kok."


Dirga tertawa kecil. Kekesalannya menguap melihat sikap polos Dhatu, terlalu menggemaskan. Jelas-jelas sedari tadi wanita itu memperhatikannya, namun tak berani mengaku. Mungkin memang Dhatu tak mengetahui apa pun tentang rencana ibunya.


"Aku sempat melihatmu meneteskan liur." Dirga menunjuk sudut bibir Dhatu, reflek wanita itu segera mengusap sudut bibirnya dan tak merasakan apa pun di sana. Ia mengerucut saat sadar Dirga tengah mempermainkannya, sedang Dirga tergelak pelan.

__ADS_1


"Aku baru tahu kalau Tuan Dirga yang terhormat bisa bersikap begitu menyebalkan."


Dirga menghentikan tawanya. "Oleh karna itu, kamu harus lebih mengenalku."


Jantung Dhatu berhenti berdetak dalam hitungan detik, tanpa sadar menahan napas, lalu jantungnya berpacu kencang. Terlalu keras, hingga ia takut Dirga dapat mendengarkan irama jantungnya.


"Aku akan belajar mengenalmu," ucap Dhatu pada akhirnya.


Dhatu teringat akan amplopnya, ia mengulurkan amplop itu pada Dirga. "Lihat, Mas. Ada jeda seminggu di tiket berangkat dan pulang kita, begitu juga dengan hotel."


Dirga terperanjat dan segera menyambar amplop yang Dhatu ulurkan. Ia mengeraskan rahang saat melihat apa yang tertulis di sana.


"Ya Tuhan, Mama ...." teriaknya frustrasi.

__ADS_1


__ADS_2