
Dhatu meneremas jemari, merasa cemas untuk keluar dari mobil. Ia tak tahu apa yang akan orang-orang katakan. Memang seharusnya ia tak memikirkan tentang perkataan orang. Apalagi Dirga mau mengenalkannya pada semua orang. Akan tetapi, ada ketakutan yang tak bisa ia enyahkan. Dirinya memang tak mau menanggapi apa kata orang, hal yang ia lakukan saat memutuskan berteman dengan Krisna, namun kali ini terasa berbeda. Dirinya akan menjadi Cinderella, gadis miskin yang mampu menarik hati Sang pangeran.
Dirga yang melihat kegelisahan wanita itu, segera menggenggam tangan Dhatu, wanita itu menoleh ke arahnya dan menemukan senyum menenangkan yang lelaki itu pamerkan, senyum yang sedetik kemudian ikut menular pada wajah cantiknya.
"Semua akan baik-baik aja, Tu. Yang terpenting adalah, kita saling mencintai. Nggak perlu mendengarkan apa kata orang. Kamu hanya perlu menulikan telinga dan menatap ke dalam manik mataku. Hanya ada kamu dan aku di dunia ini. Jangan pikirkan yang lain," lelaki itu mengusap lembut wajah Dhatu, "aku mencintaimu," lanjut Dirga seraya mempertipis jarak di antara wajah mereka. Dikecupnya lembut bibir wanita itu.
"Aku juga mencintaimu, Mas." ketakutan Dhatu perlahan sirna. Dirga mengacak puncak kepala Dhatu. Dirinya keluar mobil dan meminta Dhatu menunggu seperti biasa, Dirga lalu mengitari bagian depan mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
Dirga sedikit membungkukkan tubuhnya dan mempersilahkan Dhatu keluar dengan gerakan dramatisir. "Silahkan Ratuku," ucapnya Dirga. Dhatu menggeleng-geleng dan tertawa kecil melihat sikap suaminya.
Dhatu tahu, lelaki itu bersikap sok manis yang terkesan norak untuk menghiburnya. Lelaki ingin membuat rasa cemas Dhatu sirna. Dhatu keluar dan Dirga segera menutup kembali pintu mobilnya. Lelaki itu mengukurkan tangan pada Dhatu, sedang Dhatu menatap kosong uluran tangan lelaki itu, ragu untuk menyambutnya. Biasanya, mereka akan berpisah di mini market, berjalan terpisah, dan bersikap layaknya sepasang asing, namun hari ini, lelaki itu ingin mempertegas hubungan mereka. Tak bisa dipungkiri, jika Dhatu takut dengan perubahan yang besar di antara mereka. Dirga yang tak sabar segera menarik tangan Dhatu dan menggenggamnya erat. Dhatu menatap Dirga nanar.
"Mas ... sebaiknya kita masuk ke dalamnya sendiri-sendiri aja." Dhatu tak tahu bagaimana cara menghapus kekhawatirannya.
Banyak mata yang akan menatapnya benci dan juga iri. Dhatu tak suka menjadi pusat perhatian. Ia menyukai peran di belakang layar yang tak mengharuskannya menerima perhatian berlebih dari banyak orang. Sungguh, Dhatu lebih takut bila terlalu di sorot daripada dibenci banyak orang karna kebahagiannya bersama Dirga.
Dirga mengarahkan tubuh Dhatu menghadapnya, mengusap wajah wanita itu lembut, lalu menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya. Ia menatap ke dalam netra Dhatu dan tersenyum menenangkan, Dirga dapat melihat kekhawatiran Dhatu yang tak bisa ia sembunyikan darinya.
__ADS_1
"Tu ... nggak ada yang perlu kamu takutkan, Sayang. Kamu adalah istriku, apa pun kata orang nanti, kamu yang utama."
"Tapi ... orang-orang akan kaget. Mereka akan ..."
Belum sempat Dhatu melanjutkan perkataannya, bibir Dirga sudah membungkam bibirnya dengan mempertemukan bibir mereka, hanya pertemuan dua bibir tanpa pergerakan. Dirga membuka mata dan tersenyum, lalu menjauhkan wajah mereka.
"Jika kamu terus mengatakan hal nggak masuk akal dan negatif, aku akan terus menciummu. Walau di tengah keramaian, aku nggak akan segan-segan mengecupmu, Tu. Jadi pilih aja, mau ikut maju atau terus-terusan khawatir?" senyum Dirga tampak mengerikan, membuat bulu kuduk Dhatu berdiri karnanya.
Dhatu segera menutup mulut dengan tangannya. Tak mau Dirga melakukan hal yang akan membuatnya makin menjadi bahan perbincangan seluruh kantor. Bukan hanya membuat banyak orang terkejut, tapi akan ada beberapa yang akan muntah di tempat, jika Dirga nekad melakukan aksinya itu di depan banyak orang. Dhatu tak menginginkan hal itu.
"Ayok, kita masuk kalau begitu;"
Dirga menghentikan langkah sekilas, lalu mengapit dagu Dhatu dengan jemarinya, mengarahkan wajah wanita itu untuk melihat ke arahnya. Sejenak, Dhatu melupakan banyak mata yang menatap mereka sinis begitu melihat kelembutan dan juga tatapan penuh cinta yang terlihat jelas pada sepasang mata milik Dirga. Senyum tak bisa ia cegah menyaksikan cinta yang begitu besar dalam kedua mata Dirga.
"Kamu cantik kalau tersenyum," ucap Dirga membuat kedua pipi Dhatu terasa panas. Dhatu yakin, jika rona merah jambu telah menghiasi kedua pipinya. Lelaki itu paling tahu cara menghibur dan menyenangkan hatinya.
"Kamu nggak pernah gagal membuatku tersenyum, Mas."
__ADS_1
Dirga tersenyum bangga. "Tentu saja. Itu adalah salah satu keahlianku, membuat istri yang kucintai selalu tersenyum bahagia," ucapnya sembar mencubit gemas hidung mancung Dhatu.
Seperti yang Dirga minta. Dhatu tak lagi mempeduli tatapan orang-orang, keduanya berpandangan sesekali, canda tawa menemani perjalan menuju ruanga masing-masing, membuat Dhatu sejenak melupakan fakta di mana banyak orang yang merasa heran dengan hubungan keduanya. Dhatu merasa, jika hany ada mereka di dunia ini. Yang lain, tak terlihat lagi.
Dhatu dapat mendengar bisik-bisik tentang dirinya, begitu ia masuk ke dalam ruanga dan duduk di kursinya. Dhatu tersenyum pada Krisna yang memang selalu tiba lebih awal darinya.
"Kamu terkenal, Tu," goda Krisna.
Dhatu tergelak. "Nggak pa-pa sesekali buat sensasi kan, Mas. Toh ... kalau aku udah nggak ada di sini, akan ada cerita tentangku yang terus akan diturunkan dari zaman ke zaman."
Kriana tertawa mendengarkan perkataan Dhatu. Ia tak menyangka Dhatu bisa setegar itu, padahal, dalam pembicaraan kemarjn di restoran, Krisna masih dapat melihat keresahan yang sesekali menghiasi wajah cantik Dhatu. Seharusnya, ia bisa menebak, karna selama ini pun Dhatu kerap mengangkat wajah bangga walau banyak yang tak menyukainya. Ia tetap menjadi dirinya sendiri. Konyol karna Krisna sempat berpikir, jika Dhatu akan takut karna pilihanya. Ia memang konyol saat berpikir, cinta sederhananya jauh lebih baik ketika melihat wajah cemas Dhatu. Memang sehebat itu cinta, membuat pengecut menjadi Si pemberani. Si lemah menjadi kuat, dan Si malang merasa beruntung.
Harusnya cinta seperti itu yang Krisna temukan, bukan terus tenggelam dalam cinta sepihak yang tak mungkin bisa ia dapatkan lagi.
"Semangat, Tu. Aku dan Rina akan selalu mendukungmu," ucap Krisna pada akhirnya. Lelaki itu menepuk pelan lengan Dhatu, berusaha menyalurkan sedikit kekuatan yang ia miliki.
Dhatu tersenyum dan mengangguk. "Makasih banyak ya, Mas. Mas Krisna memang yang terbaik."
__ADS_1
Krisna mengangguk sekilas dan tersenyum tipis. Jika terbaik tak pernah dipilih, untuk apa seseorang menginginkan untuk jadi yang terbaik?