
Dhatu segera keluar dari persembunyiannya begitu melihat mobil Dirga mendekat, bagai pencuri yang takut ketahuan tertangkap. Ia lelah menjawab pertanyaan orang-orang yang mengenalnya dan secara kebetulan berpapasan dengannya. Banyaknya orang yang berlalu lalang, membuat Dhatu harus memberitahukan hal ini pada Dirga dan mengubah tempatnya menunggu. Lebih baik ia menumpang angkutan umum sampai depan komplek dan menunggu Dirga di sana, daripada harus mengambil resiko besar seperti sekarang. Ia segera masuk ke mobil begitu Dirga menghentikan mobilnya.
"Nggak lama nunggunya, kan?"
Dhatu tersenyum tipis sembari menggeleng, Dirga kembali mengarahkan pandangan pada jalanan di depan dan melanjutkan perjalanan.
"Maaf, tadi ada meeting dadakan," ucap Dirga tanpa menoleh ke arah Dhatu, sedang wanita itu mengamatinya dalam diam.
Percakapan dan sikap Dirga terlalu normal, semua perubahan yang secara mendadak ini membuat Dhatu ketakutan. Apa dirinya berbuat salah? Atau ada makna tersembunyi di balik sikap lelaki itu padanya.
"Tu ... kenapa melamun mulu?" tanya Dirga menoleh sekilas ke arahnya.
__ADS_1
Dhatu tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Aku penasaran."
Biasanya, lelaki itu tak mau mendengar suaranya, tak mau melihat dirinya, lalu mengapa kini lelaki itu mengajaknya berbicara lebih dulu? Ia sungguh penasaran.
"Tentang apa?"
"Perubahan sikapmu."
Dirga tertawa kecil. "Kamu nggak menyukainya?"
"Suka. Hanya saja, terlalu tiba-tiba."
__ADS_1
Dirga mengangguk-angguk pelan, seakan mengerti kecemasan Dhatu. "Aku sadar, lebih baik kita saling bekerjasama, daripada saling membenci," ucap Dirga, "kamu memang bersalah karna membuat hidupku kacau, tapi semua ini bukan salahmu aja. Seharusnya, aku juga bisa lebih meyakinkan Mama untuk menerima Kana menjadi istriku."
Entah kenapa perkataan lelaki itu membuat hati Dhatu teriris pedih. Kebaikan yang ditunjukannya, membuat Dhatu hampir melupakan fakta bahwa lelaki itu bukanlah miliknya. Ada wanita lain yang mengisi benak dan hati lelaki di sampingnya. Kana yang cantik dan juga modis, dirinya tak bisa disandingkan dengan wanita yang hampir sempurna itu. Ia hanyalah butiran debu, yang akan menghilang begitu angin meniupnya.
"Jadi ... apa rencanamu?"
Dirga tampak berpikir sesaat. "Menceraikanmu begitu aku bisa meyakinkan Mama jika Kana adalah yang terbaik untukku. Kamu akan kembali mendapatkan kebebesanmu, begitupun aku. Aku tahu, pernikahan ini pasti membebanimu juga."
Sakit teramat yang Dhatu rasakan, bagai diiris sembilu. Aneh, karna perlahan Dhatu tak lagi merasa terbebani dengan pernikahan mereka yang awalnya penuh dengan keterpaksaan. Ia mulai menikmati peran sebagai istri Dirga yang diam-diam menyiapkan segala keperluan lelaki itu dan mengamati dari jauh. Sayang, lelaki itu tak merasakan hal yang sama. Begitu mudah lelaki itu mengucapkan kata cerai, bagai ingin mengakhiri permainan rumah-rumahan sepasang bocah kecil.
"Aku akan memberikan kompensasi yang besar untuk perceraian kita nanti. Kamu nggak usah takut," ucap Dirga lagi saat tak menerima respon apa pun dari wanita di sampingnya.
__ADS_1
Dhatu tersenyum tipis, lalu mengarahkan pandangan keluar jendela. Ia menertawai dirinya dalam hati, mengejek kebodohan dirinya yang hampir saja terjebak oleh kesemuan yang Dirga ciptakan di antara mereka. Untuk apa berdamai dengan memberikannya hak sebagai istri? Bila pada akhirnya dirinya tetaplah istri bayangan yang tak begitu penting dan tak perlu dianggap ada. Bisa dibuang begitu tujuannya tercapai. Dirinya tak lain hanya alat bagi lelaki itu.
Dasar bodoh!