Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Siapakah Aku Bagimu?


__ADS_3

Dhatu menyesali keputusannya yang ingin menghibur hati dengan menyantap makanan enak di restoran favoritnya. Siapa sangka, ia akan melihat pemandangan yang menyesakkan dada di sana. Semua orang yang melihat sepasang anak manusia yang tampak mesra itu, pastilah bisa menyimpulkan jika mereka adalah sepasang kekasih. Keduanya tampak mesra dan serasi, tak bisa dibandingkan dengan dirinya yang biasa-biasa saja.


Sekelebat pedih menjalar dan memenuhi setiap relung hati Dhatu saat melihat tatapan lembut yang lelaki itu berikan untuk wanita di hadapannya, sementara dirinya kerap menerima kebencian dari lelaki itu. Tidak adil rasanya, bagaimana bisa lelaki itu memperlakukanya berbeda? Padahal, dirinya adalah istri resmi yang diakui oleh keluarga, hukum, dan juga agama. Statusnya memang menang dari wanita asing itu, namun, nyatanya dirinya bukan siapa-siapa bagi lelaki itu.


Ia tak mengharapkan cinta, karna memang hal itu terlalu sulit bagi pasangan yang menikah terpaksa seperti mereka. Akan tetapi haruskah lelaki itu mengkhianati janji yang mereka ucapkan di hadapan Tuhan? Apa kebencian lelaki itu tak cukup menyiksa bathinnya, hingga dirinya tega menyiksa Dhatu lebih kejam lagi? Mungkin memang, inilah salah satu alasan kebencian lelaki itu padanya.


Dhatu segera membawa langkahnya menjauh. Hatinya tak setegar itu, pedih yang menyayat hati, membuatnya seakan tak mampu bertahan lagi. Jika saja tak mengingat kedua orang tua mereka, maka Dhatu lebih memilih pergi. Memberikan kebebasan yang lelaki itu butuhkan. Memang ia akui, jika pernikahan mereka tak seharusnya terjadi, namun semua itu tak dapat membenarkan sikap lelaki itu padanya.


Dhatu menghentikan langkah saat merasa sudah jauh dari restoran tadi. Ia menyandarkan punggung pada bangunan di dekatnya. Ia meraba dadanya yang terasa sesak. Dirinya pernah jatuh cinta dan patah hati, namun tak pernah sesakit ini? Padahal, dulu ia pun mengalami hal yang sama, dikhianati oleh lelaki yang begitu dicintainya. Apa semua lelaki di muka bumi ini sama saja? Kerap menghancurkan hati dan menjadikan cinta sebagai permainan yang bisa ditinggalkan begitu bosen.


Dhatu mengadahkan wajah, menatap sendu langit malam yang tak bersahabat padanya. Angkasa terlihat indah dengan beberapa benda langit yang menghiasinya, bertolak belakang dengan perasaannya saat ini. Air mata jatuh dan membasahi pipi Dhatu.


"Apa yang harus ku lakukan?"


Dhatu berjongkok dan memeluk lututnya. Ia menenggelamkan wajahnya di sana dan menangis tersedu-sedu. Anehnya sesak yang menguasai dada tak kunjung reda. Masih terasa begitu menyakitkan.


***


Dhatu menyapu sekeliling ruangan saat tiba di rumah dan keadaan ruang tamu sudah tak segelap ketika ia kembali tadi sore. Jarum pendek pada jam tangannya sudah menunjuk ke angka sebelas. Mungkin lelaki itu baru pulang setelah berkencan, begitu pikir Dhatu. Wanita itu mengendap-endap, tak ingin diketahui keberadaannya oleh Dirga yang saat ini entah berada di mana. Jujur, ia mulai belajar tak peduli.


"Dari mana aja kamu?"


Suara lelaki itu menghentikan langkah Dhatu. Ia terlihat bagai seorang pencuri yang ketauan oleh Si tuan rumah. Dhatu membeku di tempatnya. Ia memang salah tak meminta izin terlebih dahulu, namun apa semua itu perlu saat lelaki itu menuntutnya tak terlihat? Dhatu pikir, lelaki itu tak mau mengetahui keberadaan, maupun melihat raganya.

__ADS_1


"Ditanya malah diem aja. Kamu tuli, ya?" Dhatu dapat mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya.


Dhatu membalikkan tubuh dan berusaha tersenyum semanis yang ia bisa. "Bukannya Tuan Dirga yang terhormat memintaku menjadi bayangan? Harusnya, Tuan juga memperlakukanku seperti itu. Nggak terlihat."


Lelaki itu tersenyum mengejek. "Aku bukan bermaksud melihatmu. Kamu membanggakan status istrimu, tapi nggak tau bagaimana caranya menjadi istri seseorang."


Cih! Apa dia pikir, dirinya juga tau bagaimana harus bersikap sebagai seorang suami? Konyol sekali!


"Tenang saja, Tuan. Aku tau benar batasanku sebagai istri seseorang, sehingga bisa menjaga diriku dengan baik."


Lelaki itu terbahak. "Dengan cara membiarkan dirimu berada di dalam pelukan lelaki lain?"


Dhatu terperanjat mendengarkan perkataan lelaki itu. Lelaki lain?


"Jadi pura-pura lupa. Aku tau benar bagaimana kelakuan wanita sejenismu. Menjijikkan!" Lelaki itu menatap Dhatu dengan tatapan merendahkannya yang tak Dhatu sukai.


"Tadi siang, di rooftop tepatnya"


Dhatu membesarkan kedua mata. Lelaki itu melihatnya dengan Krisna tadi siang? Ya Tuhan ... lelaki itu hanya mencoba menenangkannya. Dirga lah alasan dibalik tangisnya, hingga ia meminjam bahu Krisna untuk menangis. Jika bukan karna lelaki itu, maka Dhatu tak 'kan menangis di tempat kerja. Hal yang selalu dihindarinya. Bahkan dulu saat diputuskan melalui sebuah pesan singkat, Dhatu tak menangis sama sekali.


"Dia hanya seorang teman."


"Ya ... ya ... teman yang berpelukan."

__ADS_1


Dhatu mengepalkan tangannya kuat-kut di samping tubuhnya. Jelas-jelas lelaki itu yang berselingkuh di belakangnya, mengapa dirinya yang dituduh? Ah ... mungkin ini cara lelaki itu untuk mencari kesalahannya agar bisa membebaskan diri dari beban pernikahan yang tengah mereka jalani bersama.


"Daripada teman, tapi mesra?" Sindir Dhatu. Lelaki itu berhasil memancing emosinya.


Lelaki itu mencengkram kedua lengan Dhatu dan menatapnya tajam. "Maksudmu apa?"


Dhatu melepaskan cengkraman tangan Dirga dari lengannya dan tersenyum polos. "Mau mu apa?"


"Kamu resign dari pekerjaanmu."


"Nggak akan pernah!" Dhatu tau jika perdebatan ini tak 'kan berakhir baik.


"Baiklah kalau itu mau mu. Bersiap-siap merasakan neraka di rumah, maupun di tempat kerja."


Dhatu tak gentar mendengarkan pengancaman lelaki itu. Toh hidupnya sudah bagaikan di neraka, apa bedanya jika disiksa lebih parah lagi.


"Terserah aja," ucap Dhatu seraya hendak berjalan meninggalkan Dirga, namun lelaki itu mencengkram lengannya, menghentikan langkah wanita itu. Dirga membalik kasar tubuh Dhatu ke arahnya.


"Jangan mempersulitku. Aku akan segera menceraikanmu begitu papa dan mamaku tenang dan yakin kalau hubungan kita nggak bisa dipaksakan, jadi aku harap kamu nggak menghalangi jalanku."


Dhatu tersenyum walau hatinya pedih. "Aku akan membantumu mencapai tujuanmu dengan tetap menjadi istri bayangan, jadi aku juga harap kamu memperlakukanku demikian." Dhatu melepaskan tangan lelaki itu dari kengannya, "Jangan melihat, jangan menyadari kehadiranku, dan bersikaplah bagai orang asing saat kita bertemu. Selamanya ... aku adalah bayanganmu. Dengan begitu kamu nggak akan merasa disulitkan dengan keberadaanku."


Ya, seharusnya itulah yang mereka lakukan demi menjaga hati masing-masing. Bukan hanya Dhatu yang harus tak terlihat, namun lelaki itu pun harus mengabaikannya di manapun mereka bertemu. Dengan begitu, mereka akan tetap menjadi sepasang orang asing yang tinggal bersama. Dengan begitu, mungkin saja, Dhatu bisa menyembunyikan semua rasa sakitnya sendiri.

__ADS_1


"Gimana aku bisa pura-pura nggak melihatmu, kalau kamu terus-terusan muncul di depanku?"


Dhatu dapat mendengar kemarahan pada nada suara lelaki itu. Mengapa lelaki itu baru sadar, jika memang semua ini akan sulit bagi mereka berdua.


__ADS_2