Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Dimensi Masa Lalu


__ADS_3

Dhatu segera menghambur ke dalam pelukan Dirga begitu masuk ke ruangan lelaki itu dan menemukan Dirga tengah berdiri di samping jendela dan membuka lebar tangannya, menyambut wanita itu ke dalam pelukannya. Dirga memeluk erat tubuh Dhatu dan mengecup kening wanita itu penuh dengan kasih sayang.


"Gimana harimu, Tu?"


Dhatu mendesah pelan. "Ketemu dua konsumen yang ngamuk besar karna lama nggak dikunjungi. Andai aja mereka mau ngerti, kalau job service itu banyak banget dan nggak nyalahin call center yang kerjaannya cuma nerima panggikan dan mendata aja," ucap Dhatu memelas.


Dirga mengusap-usap puncak kepala Dhatu, "yang sabar ya, Sayang. Sebentar lagi nggak bakalan ada yang marah-marahin kamu lagi, kok."


Dhatu melepaskan pelukannya. "Kamu nggak akan pernah marahin aku, kan?"


Dirga terkekeh pelan. "Ya nggak, dong. Memangnya kenapa aku harus marah sama kamu?"


"Walaupun aku melakukan kesalahan?" Dhatu menatap Dirga sendu, membuat lelaki itu mengernyitkan dahinya.


"Kamu kenapa, Sayang?"


Dhatu tersenyum dan menggeleng. "Nggak pa-pa."


Dirga mengusap lembut wajah wanita itu, lalu ia membungkuk dan mengecup perut Dhatu yang masih terlihat rata. "Kamu apa kabarnya anak Papa? Mama nggak nakal, kan?" lelaki itu medongak untuk melihat Dhatu dan tersenyum pada wanitanya, sedang Dhatu mengerucutkan bibir.


"Papanya yang nakal. Sibuk mulu," Dhatu mengembungkan kedua sisi pipinya. Entah mengapa semakin lama, ia semakin ingin dimanja dan tak bisa jauh dari Dirga. Terkadang, ia terbangun di malam hari dan merengek minta dipeluk oleh lelaki itu. Beruntungnya, Dirga selalu menuruti semua kemauan peliknya.


"Maafin, Papa. Bilangin sama Mama nanti Papa traktir es krim kalau mama mau maafin Papa yang lagi super duper sibuk ini," bisik Dirga pada perut Dhatu. Dhatu tersenyum dan membelai lembut puncak kepala lelaki itu.

__ADS_1


"Es krim coklat ya. Maunya dua," rengek Dhatu. Dirga mensejajarkan tubuhnya dengan Dhatu dan memeluk wanita itu erat.


"Satu karung juga boleh kalau kamu sanggup makannya."


Dhatu tertawa di dalam pelukan Dirga. "Makasih untuk semuanya, Mas."


"Kamu tahu nggak. Kata makasih itu haram hukumnya bagi orang yang saling mencintai. Karna saat mencintai seseorang, kita memang lebih suka memberi tanpa mengharapkan balasan."


Dirga melepaskan pelukan mereka. "Mau jalan sekarang?"


Dhatu mengerutkan kening. "Jalan?"


Dirga tergelak sembari menggeleng-geleng pelan. "Kamu lupa kalau kita mau menemui Pak Alvin sepulang kerja hari ini."


Dhatu menggeleng. Ia sempat melupakan fakta jika har ini, dirinya harus kembali berhadapan dengan Alvin. Ia tak mampu menebak, bagaimana reaksi Alvin saat merek kembali bertemu. Dirinya pun tak tahu, harus dengan mimik wajah seperti apa ia menemui lelaki yang hingga saat ini belum bisa menerima kenyataan tentang hubungan mereka yang telah lama retak.


"Aku baik-baik aja, Mas. Sebaiknya kita pergi sekarang, biar nggak kemaleman," ucap Dhatu menggenggam tangan Dirga. Keduanya bergenggaman tangan meninggalkan ruang kerja lelaki itu.


Sepanjang perjalanan, Dhatu berusaha menenangkan diri dan berdoa agar Alvin tak lagi berulah. Mereka berbicara seperti biasa, akan tetapi sesekali Dhatu akan larut dalam lamunannya. Ia pun sesekali berusaha membuka mulut dan menceritakan semuanya pada Dirga, namun entah mengapa bibirnya terasa begitu berat. Dhatu tak mengerti dengan dirinya sendiri.


Menit demi menit telah berlalu, mereka tiba di sebuah restoran keluarga yang cukup besar. Bangunan itu bahkan memiliki aula sendiri yang dari cerita Dirga sering disewa untuk acara-acara tertentu seperti pernikahan atau apa pun. Taman luas di samping aula pun kerap dipilih orang-orang untuk mengadakan pesta kebun. Dhatu tersenyum tipis menyaksikan keberhasilan lelaki itu. Atau mungkin semua ini terjadi berkat bantuan keluarganya yang kaya? Dhatu menggeleng, ia tak lagi peduli pada lelaki itu dan semua yang ia capai tak mungkin bisa mempengaruhi Dhatu.


Genggaman tangan Dirga menyadarkan Dhatu dari keterpakuannya. Dhatu tersenyum sekilas. "Yuk, Sayang. Kita udah nyampe," ucap Dirga seraya melepaskan sabuk pengaman Dhatu.

__ADS_1


Lelaki itu turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Dhatu. Dirga mengulurkan tangannya yang langsung digenggam oleh Dhatu. Ia menguatkn hatinya. Setelah semua ini, ia akan membagi kisah lamanya pada Dirga, ia tak ingin terus merasa tidak nyaman karna menyembunyikan masa lalunya bersama dengan Alvin dari Dirga. Walau bagaimanapun, lelaki itu berhak mengetahui sepenggal kisah tentang mereka yang telah usai. Toh, semuanya telah berakhir.


Seorang gadis muda menyambut mereka, begitu masuk ke dalam restoran dan menuntun keduanya ke ruangan yang berada di taman bagian belakang restoran. Bangunan terpisah yang berada di dekat danau buatan. Dirga berkali-kali memuji tempat itu yang tampak asri dan juga luas. Tak terbayangkan olehnya seorang pria muda seperti Alvin memiliki bisnis yang begitu besar.


"Selera desainnya bagus ya, Tu," bisik Dirga dalam perjalanan mereka menuju di mana Alvin menunggu.


Tempat ini mengingatkan Dhatu tentang impian masa lalu yang dulu ia bagi pada Alvin. Saat itu, Dhatu mengingingkan rumah kecil di sebelh danau buatan yang dikelilingi oleh pepohonan rindang dan juga bunga berbagai rupa dan warna. Di depan ruma nanti, Dhatu ingin menempatkan beberapa kursi panjang yang bisa digunakan untuk berkumpul dan menyambut tamu, persis dengan jejeran kursi panjang yang ada di bangunan yang lebih mirip dengan rumah minimalis itu. Apakah diam-diam lelaki itu mewujudkan semua mimpi-mimpi kecilnya? Apa yang lelaki itu lakukan? Bagaimana bisa ia melakukan semua ini saat memutuskan untuk melepaskan Dhatu? Lelaki itu tak pernah mau berjuang, malah ikut-ikutan merendahkannya. Apa semua ini dilakukan Alvin sebagai bentuk penyesalannya pada Dhatu dan kisah mereka yang telah usai?


Alvin menyambut mereka begitu pintu kayu dibuka. Lelaki itu tampak polos, seakan tak pernah terjadi apa pun di antara mereka. Dirinya berjalan mendekat dan mengulurkan tangan pada Dirga.


"Selamat datang di pondok kecil saya ini," ucap Alvin sembar menyalami Dirga.


"Jangan bilang, kalau Pak Alvin tinggal di sini," ucap Dirga menatap sekeliling, "tempat ini terkesan seperti rumah dibandingkan tempat meeting biasa," lanjutnya kembali menoleh pada Alvin.


Alvin tersenyum dan mengangguk. "Pak Dirga memang paling pintar menganalisa. Sekali lihat saja, sudah tahu kalau ini adalah tempat tinggal saya."


"Terlihat dari perabotan dan juga foto-foto yang tergantung di dinding," Dirga kembali menatap sekelilingnya.


"Saya mencoba hidup mandiri, agar ngga dibayang-bayangi keluarga saya yang memang berkecukupan," ucap Alvin merendah, "selamat datang Bu Dhatu," lanjut Alvin mengulurkan tangan pada Dhatu.


Dhatu tersenyum kikuk, lalu dengan tangan bergetar menyambut tangan lelaki itu. "Apa kabar, Pak Alvin?"


Keduanya seakan terjebak dalam dimensi berbeda, ruang hampa bernama masa lalu. Membiarkan mereka berdua berhenti pada titik yang sama, kenangan.

__ADS_1


__ADS_2