Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Hati Yang Kembali Pedih


__ADS_3

Setelah saling berdamai Krisna memutuskan kembali ke ruangannya. Semua orang sudah lebih dulu pulang, meninggalkan Dhatu sendiri di ruangan. Wanita itu tampak tengah membereskan semua barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Wanita itu menghentikan kegiatannya begitu melihat Krisna berjalan mendekat. Pandangan keduanya bertemu dan kecanggungan tercipta. Dhatu hendak berdiri dan meninggalkan ruangan, tak sanggup lagi untuk terjebak dalam suasana canggung yang tercipta.


"Maafin aku, Tu," ucap Krisna menghentikan langkah Dhatu.


Krisna sadar dirinya lah yang bersalah. Ia memaksakan perasaannya dan juga mencium paksa Dhatu. Dhatu membalikkan tubuh dan matanya berkaca-kaca, ia merasa bahagia. Tak pernah terbayang lelaki itu kembali berbicara dengannya. Ia pikir, selamanya mereka tak 'kan berdamai.


"Makasih, Mas," ucap Dhatu menitikkan air mata, lalu senyum wanita itu kembali terbit. Krisna berjalan mendekat dan mengusap air mata wanita itu.


Ada kelegaan di hati Krisna saat melihat senyum wanita itu. Ternyata dirinya lebih suka wanita itu mengucapkan terima kasih dibandingkan kata maaf. Krisna tersenyum, ia baru mengerti arti dari kata cinta tak harus memiliki. Terdengar konyol memang, namun tidak bagi yang telah menjalaninya seperti Krisna. Yang paling utama adalah senyum wanita itu.


"Maaf karna aku menjadikanmu sebagai tempat pelampiasa amarahku, Tu. Seharusnya nggak seharusnya aku memaksakan hati. Aku lupa, kalau memang nggak ada gunanya untuk memaksakan perasaan yang nggak mungkin bisa dibalas."


Dhatu menggeleng. "Aku turut ambil andil atas keadaan di antara kita, Mas. Harusnya, aku memberitahukan sejak awal kepadamu tentang pernikahanku dengan Mas Dirga."


Krisna menggeleng. "Kamu berhak menyimpan rahasiamu sendiri, Tu. Kalau ada di posisimu pun, aku nggak akan bisa mengungkapkan rahasia itu. Apalagi yang kamu nikahi bukan sembarangan orang. Maaf karna aku egois."


Dhatu menggeleng-geleng. "Nggak ada yang perlu minta maaf lagi, Mas."

__ADS_1


Krisna mengangguk setuju. "Apa kamu resign karna nggak enak padaku? Karna kejadian kemarin?"


Dhatu menggeleng cepat. Memang sebagian alasan itu benar adanya, akan tetapi, ia hanya ingin bebas tanpa harus dinilai jelek oleh orang-orang. Dhatu lelah untuk bersembunyi dan menjadi bayangan. Jika Dirga ingin memperkenalkannya pada dunia, Dhatu pun demikian. Ia ingin orang-orang tahu, jika mereka saling memiliki dan cara yang paling benar adalah dengan merelakan pekerjaannya.


"Aku hanya mau fokus dengan keluargaku, Mas. Walau bagaimanapun, awal pernikahan kami bukanlah karna cinta. Tentunya, kami telah kehilangan banyak moment penting, jadi aku ingin menikmati masa-masa yang tak kami rasakan di awal pernikahan kami dulu."


Krisna mengangguk mengerti. "Tapi, kita akan tetap berteman, kan?"


Dhatu mengangguk antusias. "Tentu aja, Mas. Kamu bahkan lebih dari sekadar teman biasa," Ia mengulurkan tangannya pada Krisna. "Sahabat?" tanyanya sembari tersenyum manis.


Krisna tersenyum dan menyambut uluran tangan Dhatu. "Ya, sahabat."


Tanpa terasa satu jam lamanya mereka saling berbagi cerita, hingga ponsel Dhatu menginterupsi. Panggilan dari Dirga yang meminta wanita itu turun dan menemuinya di parkiran mobil. Belum sempat wanita itu menemui Dirga, tiba-tiba seorang wanita menghadang jalannya, wanita yang tampak familliar.


"Kamu yang namanya Dhatu?" Wanita itu menatap meneliti, memperhatikan Dhatu dari ujung kepala hingga unung kaki. Dhatu mengerutkan kening.


"Kamu siapa?"

__ADS_1


Wanita itu tersenyum mengejek. "Jadi ... kamu hanya wanita biasa yang nggak menarik sama sekali." dengan lancang wanita itu menangkup wajah Dhatu dengan sebelah tangannya, "dilihat dari sudut manapun, kamu benar-benar nggak cantik sama sekali. Apa yang kamu lakukan pada Mas Dirga? Kenapa bisa membuat tergila-gila? Pakai susuk atau pelet?" lanjut wanita itu tersenyum miring.


Dhatu tersenyum. Ia baru teringat siapa wanita itu. Kana, mantan kekasih suaminya. Mereka memang belum pernah bertemu langusung ataupun memperkenalkan diri. Wanita itu pasti berusaha keras untuk mengetahui rupanya.


"Saya rasa, sekarang Mas Dirga bukanlah lagi menjadi urusan Anda. Sebaiknya, Anda nggak lagi mengganggu rumah tangga kami. Lebih baik berjalan maju ke depan, daripada terus terjebak di dalam masa lalu."


Wanita itu tertawa kecil. "Tadinya, aku juga mau pergi melanjutkan hidup, tapi aku nggak mau sampai anakku kehilangan seorang ayah dan juga masa depan yang seharusnya menjadi miliknya," ucap Kana sembari mengusap perutnya, membuat Dhatu mengarahkan pandangan pada perut wanita itu dan melihat perut wanita itu tak lagi rata.


Dhatu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Ia menatap nanar wanita di hadapannya. Anak? Apakah itu artinya, wanita di hadapannya tengah mengandung anak dari suaminya? Apakah benar semua itu? Dhatu menggeleng, ia tak mungkin percaya pada seorang wanita asing lebih dari kepada suaminya sendiri. Ini pasti salah satu cara Kana untuk memisahkan mereka. Dhatu tak 'kan tergoyahkan dengan kebohongan wanita itu.


"Maaf, saya harus segera pergi menemui suami saya."


Kana tersenyum manis. "Bagus kalau begitu. Kamu bisa sekalian membawaku bertemu dengannya untuk menyampaikan kabar gembira ini. Dia pasti senang saat tahu aku mengandung benih cintanya."


Hati Dhatu mendadak pedih. Walau ia tak sepenuhnya mempercayai wanita di hadapannya, namun ada kemungkinan jika memang wanita itu tengah mengandung anak suaminya. Jika memang semua itu benar, apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus melepas lelaki itu? Dhatu tak 'kan sanggup mengeluarkan jantung dari tubuhnya, melepas lelaki itu sama saja dengan kematian. Ketakutan mulai merasuki bathin Dhatu, sesak bukan main.


"Kamu nggak terlihat seperti wanita jahat yang akan membiarkan seorang bayi ngga berdosa untuk nggak mendapatkan kasih sayang," ucap Kana sembari tersenyum manis, sedang perih hati Dhatu semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Ya, dirinya tak mungkin tega membiarkan seorang bayi lahir tanpa ayah dan kehilangan kasih sayang yang dibutuhkannya. Ibunya mungkin bukan wanita baik, akan tetapi apa salah bayi yang bahkan belum dilahirkan ke dunia ini? Ia tak mempunyai salah apa pun. Tak ada seorang pun yang bisa memilih melalui rahim siapa ia akan dilahirkan. Dhatu tak bisa egois, ia harus membawa wanita itu pada Dirga dan mencari solusi yang terbaik. Walau hatinya pedih, namun ia tak mungkin bisa menutup mata saat seorang bayi menjadi taruhannya. Ia tak mau menyakiti atau merampas hak seseorang. Ia percaya pada Dirga dan berharap, akan ada jalan keluar terbaik untuk mereka semua.


__ADS_2