Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Cinta itu Memang Gila


__ADS_3

Sebagian orang rela kehilangan segalanya demi cinta, harta, nama, keluarga, bahkan rela kehilangan akal sehat mereka karnanya. Tak ada yang salah dengan cinta. Hanya saja, manusia memang makhluk yang sulit berpuas diri. Selalu merasa kurang dan menginginkan lebih, walau sebenarnya terlalu berlebihan bisa menjadi hal yang tidak baik. Begitupun dengan cinta yang terlalu berlebihan pada seseorang, perasaan itu akan membuatmu kehilangan akal sehatmu. Sebagian orang rela gila karnanya, terus terjebak dalam dunia ilusi yang diciptakan otak mereka, membuat cinta terlihat begitu mengerikan.


Alvin adalah bukti nyata ngerinya cinta yang mampu merusak akal sehat seseorang. Ia begitu marah saat Dirga datang seorang diri menemuinya guna membicarakan kelanjutan kerjasama mereka. Ia akui, jika lelaki itu memang berani dan profesional terkait bisnis. Masih jelas dalam ingatan Alvin semua perkataan Dirga tadi siang setelah selesai membicarakan bisnis di antara mereka. Perkataan yang membuat Alvin terkejut bukan main.


"Mungkin, ini adalah terakhir kalinya saya menggunakan jasa khatering Anda. Bukan karna makanan atau layanan yang kurang memuaskan," Dirga mengambil jeda sesaat sebelum melanjutkan perkataannya, "Hanya saja, saya nggak mau jika hubungan di antara kita menjadi memburuk karna ada rasa yang sampai sekarang belum selesai di antara Anda dan istri saya," lanjut Dirga tersenyum manis.


Alvin terkejut, menatap Dirga penuh tanya. "Maaf, maksudnya gimana, Pak?"


Dirga masih memasang wajah tenangnya. Walau ia tak suka dengan kepura-puraan lelaki itu, namun dirinya tak mau terpancing emosi. Harusnya, Alvin tak perlu berlagak asing dan sok ada sesuatu yang masih hidup di antara lelaki itu dan istrinya. Apa yang sudah usai, seharusnya tak ada masalah bila diungkapkan. Toh, tak ada apa pun lagi di antara keduanya yang bisa mengubah apa yang ada di masa ini.

__ADS_1


"Nggak perlu berlagak bodoh," ucap Dirga sarkastis, "saya menghargai Anda karna Anda adalah rekan bisnis yang sangat luar biasa. Berdedikasi dalam pekerjaan dan mengutamakan kepuasan klien. Sangat jarang, orang yang bisa menjaga kepercayaan dengan baik."


Dirga menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Saya nggak mau Anda mendekati istri saya lagi. Nggak seharusnya Anda terus-terusan terjebak dalam masa lalu." Dirga menatap tajam lelaki di hadapannya, "jika saya mendengar atau melihat Anda berani menganggu hidup istri saya, maka saya nggak segan-segan melakukan apa pun untuk memusnahkan Anda," ucap Dirga penuh penekanan.


Nada suara dan juga tatapan mendominasi lelaki itu membuat ketakutan menjalar perlahan ke penjuru hati Alvin. Amarah mulai merasuki setiap relung hatinya. Apa hak Dirga melarang apa yang hatinya rasakan? Bagaimana bisa lekaki yang baru saja mengenal Dhatu malah berlagak memiliki dan mengerti wanita itu sepenuhnya? Alvin lah yang paling mengerti dan mencintai Dhatu. Hanya dirinya yang pantas bersanding dengan wanita itu. Alvin akan mendapatkan Dhatu kembali. Tak peduli jalan apa yang harus ditempuhnya. Yang ia tahu, tanpa Dhatu , dirinya kesulitan bernapas. Ia tak mau lagi kehilangan kesempatan emas. Alvin akan membuat Dhatu mengerti, jika cinta mereka lah sejati. Cinta yang tak kan mungkin bisa mati walau banyak rintangan menghadang mereka.


"Jadi Mas bakalan telat?" suara Dhatu menarik Alvin kembali ke alam nyata. Dirinya yang bersembunyi di balik tembok tempat Dhatu menyandarkan punggungnya mulai menajamkan pendengarannya.


"Iya, aku tunggu aja di sini ya. Udah mulai sepi di sini. Nah ... gitu dong, Sayang." suara Dhatu kembali terdengar dan kekehan lembut wanita itu terdengar merdu di telinga Alvin.

__ADS_1


Pikiran Alvin kembali ke masa lalu, mencoba mencari dalam benaknya, apakah pernah ada tawa seperti itu dalam kebersamaan mereka? Apakah dulu memang suara Dhatu terdengar merdu? Alvin meringis ketika potongan-potongan kenangan dan wajah menangis Dhatu terlintas dalan benaknya. Begitu banyak tangisan yang ia berikan pada wanita itu. Dirinya selalu mengatakan cinta dan entah mengapa kata itu seakan tak mampu lagi ia temukan artinya. Bukankah cinta akan membuat seseorang berbahagia dan tak semestinya selalu menangis karna perasaan indah itu? Apa yang telah diperbuatnya pada wanita itu?


"Iya, aku tunggu ya, Mas. Aku mencintaimu."


Perkataan Dhatu kembali membuyarkan lamunan Alvin. Lelaki itu mengeram kesal. Amarahnya kembali memuncak saat mendengarkan kata-kata cinta dari mulut Dhatu yang bukan lagi untuknya. Bagaimana bisa wanita itu melupakan cinta di antara mereka saat dirinya masih terjebak dalam rasa yang sama? Mengapa Dhatu bisa begitu tega mengucapkan cinta yang harusnya diberikan padanya kepada orang lain? Apa wanita itu sudah gila atau memang sengaja ingin membuatnya terluka? Alvin mengangguk. Ya, semua ini pasti cara Dhatu untuk mendapatkan perhatiannya, salah satu cara untuk membalaskan dendam padanya. Alvin tersenyum kecut. Wanita itu tak harus melakukan hal seperti itu guna mendapatkannya kembali karna saat ini Alvin telah terjebak dalam permainan Dhatu. Ia akui, jika Dhatu berhasil membuatnya terbakar api cemburu dan mendapatkan perhatiannya. Alvin akan mendapatkan kembali apa yang memang sejak awal adalah miliknya, Dhatu.


Alvin berjalan mengendap-endap, bagai seorang pencuri, berjalan mendekati Dhatu yang sibuk menatap layar ponselnya. Tiba-tiba sebuah sapu tangan menutupi mulut dan hidung Dahtu. Dhatu menggeliat dan memberontak, sedetik kemudian pandangannya mulai menggelap dan wanita itu telah kehilangan kesadarannya.


Ketika tak lagi merasakan pemberontakkan dari Dhatu. Alvin segera membopong tubuh lemah wanita itu, merebahkannya pada tempat duduk di bagian belakang dan dengan cepat dirinya mengambil posisi pada bangku pengemudi dan mulai menyalakan mobilnya. Alvin segera meluncurkan mobilnya keluar dari area perusahaan dan segera mempercepat laju mobilnya.

__ADS_1


Inilah kesempatan terakhir bagi Alvin untuk mendapatakan hal terpenting dalam hidupnya dan dia tak mau melepaskan kesempatan yang ada. Ia akan melakukan apa pun untuk mendapatakan Dhatu. Memang sudah separah itu tahapannya dalam mencintai seseorang, tak mau membiarkan orang lain mendapatkan wanita itu. Jika dirinya tak bisa mendapatkan Dhatu, maka tak akan dibiarkannya seorang pun mendapatkan wanita itu. Meski kematian adalah jalan bagi mereka kembali ke masa lalu, maka dengan berani ia akan menempuhnya. Memamg segila ini cintanya dan terlalu dalam, hingga dirinya tenggelam dalam ilusi yang tercipta. Alvin tersenyum, lalu tawanya pecah, dan dirinya menatap ke hadapan seakan telah menemukan jalan keluar untuk mereka bisa bersama.


Dhatu ... aku mencintaimu dan inilah tanda cintaku.


__ADS_2