Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Dirga, Si Bucin


__ADS_3

Dirga segera menarik tangan Drew menjauh. Ia tak sanggup lagi menjadi penguntit istrinya sendiri dan mencoba meredam amarahnya ketika melihat kedekatan keduanya. Ingin rasanya ia menarik Dhatu menjauh dan mengatakan pada lelaki yang sedang bersama wanita itu, jika Dhatu adalah miliknya. Akan tetapi, sikap egoisnya hanya akan membuat Dhatu menderita. Apalagi wanita itu sudah berkata, jika ia membutuhkan waktu. Bersikap egois, hanya akan membuatnya kehilangan Dhatu. Aneh, bersama Dhatu, ia ingin melakukan semuanya dengan hati-hati, terlalu takut kehilangan wanita itu.


Dirga langsung membuang pandangan pada jendela di samping begitu mereka duduk di mobil. Pikirannya masih tertinggal pada Dhatu. Ingin terus mengikuti wanita itu, namun ia takut tak bisa mengontrol diri sendiri. Dirga ingin mempercayai fakta di mana hanya ada dirinya di dalam hati wanita itu, akan tetapi sulit saat melihat kedekatan keduanya. Apakah sebelum mereka menikah, hubungan Dhatu dengan lelaki itu, sama dengan hubungannya dengan Kana? Apa Dhatu terpaksa meninggalkan lelaki itu karna pernikahan mereka? Bagaimana, jika lelaki itu kembali mendapatkan Dhatu? Akan jadi apa hidupnya tanpa wanita itu di sisinya? Dirga tak bisa membayangkan semua bayangan mengerikan itu.


"Kita kembali ke kantor, Pak?" tanya Drew saat tak menerima arahan apa pun dari Dirga. Lelaki itu seakan sibuk dengan pemikirannya sendiri, membuat Drew bingung bukan main. Menegur takut disemprot, didiamkan saja, dia aka ikutan gila, serba salah. Padahal, sudah hampir sepuluh menit keduanya duduk berdiam diri di mobil.


"Menurutmu, kado apa yang cocok untuk wanita?"


"Perhiasan, tas bermerk, jalan-jalan ke Eropa. Sepertinya hal yang serba mahal akan membuat wanita bahagia," ucap Drew sembari menatap ke depan dan memikirkan jawaban lain yang bisa ia berikan pada Dirga.


Dirga menggeleng. "Dhatu bukan wanita seperti itu dan dia nggak akan menyukainya."


"Tapi, Nona Kana menyukai semua pemberian Pak Dirga. Apalagi saat Bapak menyuruhku memberikan kartu kredit Bapak padanya."


Dirga tersenyum miring. Ia hampir saja melupakan semua tentang Kana. Wanita itu hanya menyukai uangnya dan tentu saja, ia senang menerima barang-barang mahal darinya. Akan tetapi, Dhatu berbeda dan perbedaan itu membuatnya bingung, hal apa yang bisa diberikannya pada Dhatu agar wanita itu bisa tersenyum seperti tadi. Tawa bahagia yang membuatnya semakin terlihat cantik. Hal yang akan membuat Dhatu langsung berhambur ke pelukannya.


Ah ... bagaimana kamu bisa tertawa seperti itu, Tu? Kamu akan menarik banyak lelaki mendekat jika kamu terlihat begitu cantik.

__ADS_1


Dirga mengacak rambut frustrasi, membuat Drew mengernyitkan kening. Heran dengan sikap atasannya yang selama ini tak pernah mempedulikan cara yang membuat wanita di sisinya bahagia. Selama ini, Dirga menyerahkan semua tanggungjawab itu pada Drew, meminta lelaki itu memikirkan jadwal kencan ataupun hadiah yang cocok untuk Kana. Kini, lelaki itu tampak berhati-hati dan tak ingin melakukan kesalahan. Mungkin semua ini karna cinta. Drew tertawa kecil, ia tak menyangka seorang Dirga Sanjaya bisa menjadi seorang budak cinta.


"Kamu ngapain ketawa?"


Drew gelagapan dan menggeleng cepat. "Nggak pa-pa, Pak. Aman terkendali."


Dirga berdesis sebal. "Kamu memang nggak bisa membantu."


Drew menarik napas panjang dan menghelanya. Bagaimana ia bisa membantu, jika tak punya pengalaman sama sekali. Pekerjaan memakan hampir semua waktu yang ia miliki, Dirga pun kerap menghubungi dirinya yang tengah libur, hingga dirinya tak punya waktu untuk mencari pasangan. Ia memang tak bisa diandalkan untuk hal seperti ini. Dirga lah penyebabnya.


"Tolong jangan menganggu hari liburku, agar aku ada waktu untuk mencari pacar dan bisa memberikan saran yang masuk akal," ucap Drew pada akhirnya.


Dirga mengeluarkan ponsel lalu mengetikkan 'hadiah yang disukai wanita' pada laman pencarian di internet. Banyak hal yang muncul di sana, namun ia memilih beberapa yang mungkin bisa membuat Dhatu bahagia.


"Turun dan masuk ke mall. Belikan bunga, boneka beruang yang paling besar dan juga coklat. Bonekanya warna pink, jangan yang coklat karna lelaki itu memberikan boneka coklat tadi." Dirga berdesis sebal, "aku nggak mau memberikan hal yang sama," ucap Dirga sembari mengulurkan kartu debitnya pada Drew.


Drew mengangguk dan menerimanya, lalu berjalan meninggalkan Dirga. Dirga senyam-senyum membayangkan reaksi Dhatu begitu menerima hadiah darinya. Rasanya, ia tak pernah memberikan hadiah apa pun pada wanita itu. Kini, ia akan menebus semua kesalahannya.

__ADS_1


Menit demi menit telah berlalu. Jok belakang sudah penuh dengan hadiah yang Dirga persiapkan. Mereka sudah tiba di parkiran perusahaan, Dirga meminta Drew membawa semua hadiah yang sudah dipersiapkannya untuk Dhatu ke dalam ruangan.


"Boneka ini juga, Pak? Nggak sebaiknya kasih bonekanya di rumah aja?" tanya Drew sembari mengeluarkan barang-barang dari jok belakang.


Dirga menggeleng. "Nggak, aku mau memberikannya sekarang."


Drew memang senang melihat atasannya yang tampak lebih manusiawi, namun ngeri karna merasa semua kelakuan lelaki itu tak masuk akal. Apa yang akan dikatakan para pekerja di perusahaannya jika Drew membawa boneka yang hampir sama tinggi dengan dirinya itu ke dalam ruangan CEO?


"Mohon pikirkan baik-baik, Pak. Bagaimana nanti Bu Dhatu membawanya kembali ke ruangannya? Nggak mungkin 'kan, tiba-tiba dia keluar dari ruangan CEO dengan bawa boneka segede ini?"


Dirga berpikir sejenak dan mengangguk setuju. Keegoisannya hanya akan memperburuk posisi Dhatu, ia hanya akan membuat wanita itu dibicarakan.


"Ya udah, taro di situ aja," ucap Dirga seraya berjalan meninggalkan tempat parkir, Drew mengikuti dari belakang dengan dua menenteng dua paperbag berisikan bunga dan juga coklat.


Drew menyusun barang bawaan itu pada meja dekat sofa. Dirga tersenyum melihat hadiah yang dipersiapkannya untuk Dhatu. Ia duduk di sofa.


"Panggil Dhatu ke ruanganku dan kamu bisa pergi meninggalkan kami," ucap Dirga. Drew mengangguk dan berpamitan pergi.

__ADS_1


Dirga senyam-senyum sendiri, memikirkan berbagai cara yang tepat untuk memberikan semua hadiah itu pada Dhatu. Dengan gaya sok cool atau dengan rayuan? Ia mengambil ponsel, lalu mengetikkan pesan untuk Dhatu. Ia tak sabar menunggu kehadiran wanita itu di ruangannya. Ia ingin segera merasakan pelukan Dhatu, mengecup kening wanita itu, lalu melahap bibir ranum Dhatu. Dirga semakin tak sabar begitu bayangan tawa bahagia dan bibir yang telah menjadi candunya itu terlintas di benaknya.


Cepat datang ke ruanganku, Sayang. Ini urgent. Ada yang salah dengan jantungku?


__ADS_2