Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Berpetualang Bersamamu


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit dan beristirahat, Dirga akhirnya sembuh total dan bisa beraktifitas kembali. Dirinya mengurus perkara Alvin dan membuat lelaki itu mendapatkan hukuman paling berat. Dhatu yang sebenarnya iba, tak bisa melakukan apa pun karna memang Alvin telah bersalah. Apa yang dilakukan lelaki itu membuat hampir kehilangan Dirga. Dhatu berharap, Alvin akan belajar menerima kenyataan dan berusaha memperbaiki diri.


Kehidupan keduanya berjalan baik. Mereka mengejar segala ketinggalan di antara mereka. Berusaha mencari kenangan lama yang telah mereka lupakan dengan menelusuri tempat tinggal mereka dulu saat baru bertemu kala berusia muda, Lembang. Keduanya berbicara dari hati ke hati, tentang kehikangan, dan juga luka. Semua sempurna dan sungguh Dhatu masih belum percaya jika kebersamaan dan perjalanan yang mereka lalui selama ini adalah nyata. Terlalu takut jika semuanya akan menghilang.


Dirga yang mulai sibuk karna pembukaan kantor cabang baru pun tak pernah mengabaikan Dhatu, terkadang Dhatu malah diajak berpergian keluar kota demi menemaninya. Dirga terlalu manja, hingga tak bisa lepas dari Dhatu. Sesekali pun Dhatu yang bersikap manja pada lelaki itu. Setiap hari adalah petualanga yang menyenangkan bagi mereka.


Kini, usia kandungan Dhatu sudah memasuki bulan ke sembilan, saat yang ditunggu-tunggu oleh keduanya. Dirga selalu bersikap siaga. Dengan cepat memenuhi semua keinginan Dhatu dan menurut jika nuansa wanita itu tengah buruk. Seperti saat ini, Dhatu merengek karna seluruh tubuhnya terasa pegal bukan main dan dengan lembut Dirga memijat pundak wanitanya.


"Mas ... mijetnya yang bener, jangan terlalu keras," ucap Dhatu kesal.


Dirga semakin memelankan gerakan tangannya. "Ini udah pelan banget loh, Sayang."


Dhatu melepaskan tangan Dirga dari pundaknya. "Kamu nyebelin banget sih, Mas!" Wanita itu hendak membalik tubuh dan membelakangi Dirga, namun urung ia lakukan karna posisi ternyamannya untuk tidur adalah dengan telentang.


"Ya udah, Maaf ... sini aku pijetin kakinya aja ya," ucap Dirga dengan sabar. Ia langsung mengubah posisi duduknya dan memijat pelan kaki istri tercintanya.


Dhatu menatap suami lembut. "Mas ... kalau nanti berat badanku susah turun, kamu berpaling nggak?"


Dirga tampak berpikir keras dan tak kunjung menjawab pertanyaan Dhatu. Dhatu yang kesal melempar bantal kecil ke arah suaminya.


"Tuh kan ... laki-laki memang begitu semua, maunya nyari yang cakep aja," rengek Dhatu.


Dirga tertawa yang membuat Dhatu semakin kesal dan menggerak-gerakkan kakinya untuk meminta lelaki itu menjauh. Dirga segera memeluk wanita itu, henda menenangkannya.


"Mau bagaimanapun fisikmu berubah, aku nggak akan berpaling karna yang membuatku jatuh hati padamu adalah hatimu, Tu," ucap Dirga lembut, "kamu akan selalu menjadi tempatku pulang. Kamu nggak perlu mengubah apa pun karna aku akan selalu jatuh hati padamu," lanjut Dirga seraya mengecup kening wanitanya.


Senyum Dhatu mengembang dan ia membalas pelukan suaminya. "Ternyata, jatuh cinta rasanya begini ya, Mas."


Dirga tersenyum. Dirinya sendiri pun baru tahu, jika jatuh cinta rasanya seperti nano-nano. Senang, sedih, dan pedih kerap hadir di dalam hati karna perasaan mengagumkan itu. Dirga menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya, mengusap lembut wajah wanita itu.


"Aku hanya mau jatuh cinta bersamamu seorang, Tu. Aku mencintaimu."

__ADS_1


Lelaki itu meniadakan jarak di antara wajah mereka dan mempertemukan bibir keduanya, bergerak seirama dan menghantarkan kehangaran yang mendebarkan jantung keduanya. Tangan keduanya saling bergenggaman dan waktu seakan berhenti berdetak, meninggalkan mereka dalam keabadian cinta.


Cinta maha dahsyat. Kau bisa tertawa dan juga menangis karnanya. Satu yang pasti, cinta adalah ketika kau tak lagi peduli pada parasnya, namun berkali-kali merasakan jatuh hati pada dirinya. Tak perlu alasan untk jatuh cinta. Tau-tau rasa itu telah hadir dan bersemayam indah di dalam hati.


***


Hari ini semua orang berkumpul di rumah mereka. Pesta tertunda untuk merayakan kesembuhan Dirga. Kedua orang tua mereka, Krisna dan juga Rina turut hadir di sana. Hanya syukuran untuk keluarga saja, tak mengundang banyak orang. Kesempatan jarang guna saling berbagi kabar dan menikmati kebersamaan mereka.


"Jadi ... benar yang kukatakan, kan? Kalian itu saling menyukai," bisik Dhatu pada Rina yang tengah membantunya di dapur.


Rina memukul pelan lengan Dhatu. "Apaan sih, Tu! Bercandanya nggak lucu.".


Dhatu tergelak. "Bercanda apanya. Kalian kan akan segera menikah. Apa lagi yang mendasari keputusan itu kalau bukan karna rasa saling suka? Masa ada orang yang saling membenci memutuskan untuk menikah?"


Dhatu dapat melihat rona kemerah jambuan pada pipi Rina. Ah tampaknya memang begitukah cinta. Tak pernah membutuhkan alasan untuk hadir dan menjebak hati sepasang anak manusia. Manis.


"Aku harap, kalian bahagia," ucap Dhatu tulus.


Keduanya saling berpelukan, lalu melepasnya da bertukar senyum. Selang beberapa menit, mereka memutuskan untuk segera keluar kr halaman samping di mana semua orang berkumpul sembari membawa nampan berisi kue kering yang telah dibuat oleh Dhatu di pagi hari. Dirga dan Krisna segera berdiri dan merampas nampan dari wanita mereka masing-masing membuat banyak mata menatap keduanya iri dan tergelak.


"Memang indah melihat muda-mudi yang tengah dimabuk cinta ya," Sanjaya berujar begitu ketiganya duduk bersama mereka di meja panjang yang telah diisi dengan beragam macam makanan.


"Jadi pingin balik ke masa muda ya, San." Darma menimpali perkataan sahabatnya.


"Lah ... emang kalau udah tua nggak bisa semanis yang muda," Lestar mula protes.


Semua yang ada di sana tertawa. Sanjaya segera menggenggam tangan istrinya dan menatap wanita itu lembut.


"Selamanya, cinta kita selalu terasa manis kok, Ma. Di dalam mata Papa, mama yang paling sempurna. Mau muda ataupun tua, mama selalu mampu membuat hati papa memiliki getaran yang sama."


Lestari menunduk malu, sedang yang berada di sana tersenyum menyaksikan kekuatan cinta yang tak memudar walau waktu bersama sudah puluhan tahun.Ternyata, rasa bisa saja abadi.

__ADS_1


"Aww ..."


teriakan Dhatu mengalihkan pandangan semua orang. Dirga segera menggenggam tangan istrinya.


"Kamu kenapa, Sayang."


"Perutku sakit dan kayaknya aku ngompol."


Dirga berjongok dan melihat celana Dhatu yang sedikit basah. Dengan cepat ia menutupi bagian bawah wanita itu dengan blazer yang ia kenakan.


"Cepat bawa, Dhatu. Kelihatannya dia udah mau lahiran," ucap Dian panik dan kepanikan pun menular pada semua orang yang ada di sana.


Mereka semua segera berdiri dan membantu Dirga membawa Dhatu ke mobil. Sementara Dian yang mengetahui letak tas yang disiapkan Dhatu segera mengambilnya dan menyusul ke mobil. Sepanjang perjalanan Dirga menggenggam erat tangan Dhatu dan menguatkan istrinya. Sementara Krisna fokus menatap jalanan, Rina sesekali menoleh ke kursi penumpang dan ikut menguatkan Dhatu.


Menit demi menit telah berlalu. Kini Dhatu dan Dirga sudah masuk ke dalam ruang bersalin. Dirga menggenggam tangan Dhatu dan menguatkan istrinya.


"Sayang ... aku mencintaimu. Aku akan selalu ada di sisimu," bisik Dirga lembut. Dhatu memaksakan senyum walau perutnya terasa begitu sakit.


Menit demi menit telah berlalu, tangis bayi menggelegar ke penjuru ruangan. Dhatu tak kuasa menahan tangis begitu bayi merah mereka diletakkan di dadanya. Dirga pun tak sanggup menahan haru, memaksa air matanya turut jatuh. Keduanya saling berpandangan dengan air mata yang terus mengalir. Dirga mengecup kening Dahtu penuh kasih sayang.


"Makasih, Tu. Makasih untuk semuanya. Makasih karna hadir di dalam hidupku dan memberikanku kado yang sangat istimewa. Aku mencintaimu."


Dhatu mengangguk. Keduanya mengarahkan pandangan pada bayi lelaki mereka. Yang mereka beri nama Zayn. Kini hidup mereka sudah lebih sempurna dan Dirga berjanji pada dirinya sendiri, slalu ada untuk keluarga kecilnya.


"Aku juga mencintaimu, Mas. Makasih karna telah menemukanku."


Perjalanan mereka masih panjang, namun keduanya yakin jika bersama mereka mampu menghadapi apa pun. Pernikahan adalah sebuah petualangan, jika memiliki rekan yang selalu menjagamu dan berada di sisimu, maka petualangan itu akan terasa menyenangkan. Merasa lengkap dan sempurna bukan sebuah akhir, melainkan permulaan atas petualangan-petualangan yang ada di depan mereka.


...***...


Makasih banyak buat semua yang udah ngikutin cerita ini dari awal sampai akhir. Hamba terharu ada yang mau baca, apalagi sampe suka. Terharu banget waktu kalian nyemangati untuk terus update. Bakalan kangen banget sama moment2 itu. Tapi ya gitulah lah ... ada awal, ada akhirnya juga. Jadi ... mari kita ucapkan selamat tinggal untuk pasangan D ini. Peluk satu satu.

__ADS_1


Setelah ini, hamba hanya aktif di tetangga sebelah, platform kuda poni. Kalau kalian iseng dan mau cari bahan bacaan gratis, bisalah mampir ke sana dengan cari nama finkfink ya. Sayang kalian semua. 🤗🤗


__ADS_2