
Dhatu membuka pintu ruangan lelaki itu dengan kasar dan terburu-buru, ia tak mampu menyembunyikan kekawatirannya. Ia menatap sekeliling ruangan dan menemukan Dirga yang duduk di sofa, masih menunjukkan wajah terkejutnya. Dhatu berjalan ke arah pria itu, duduk di sampingnya, lalu menangkup wajah lelaki itu dengan kedua tangannya.
"Ada apa dengan jantungmu? Kamu ada sakit jantung? Kamu baik-baik aja, Mas? Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Dhatu dengan nada khawatir, ia menatap wajah lelaki itu meneliti.
Dirga tercengang, sedetik kemudian tawanya pecah. Ia baru mengerti, apa yang membuat Dhatu begitu khawatir. Semuanya karna pesan yang dikirimkannya pada wanita itu tadi. Ia tak bermaksud membuat wanita itu panik, ia hanya ingin mereka segera bertemu. Rasa rindu berkecamuk dan juga hadiah-hadiah yang disiapkannya membuatnya salah memilih kosa kata yang benar. Harusnya, ia tak membuat Dhatu panik.
"Kenapa kamu malah ketawa, Mas? Kamu ngerjain aku? Kamu nggak tahu gimana takutnya aku karnamu," ucap Dhatu lirih. Ia menatap sendu lelaki di hadapannya.
Tidakkah lelaki itu mengerti, jika pesannya membuat jantung Dhatu berhenti dalam hitungan detik? Jantungnya sakit seakan diremas. Ia bahkan mengabaikan Mira yang bertanya ke mana ia akan pergi. Beruntung, ia berpapasan dengan Drew yang seakan mengetahui tujuannya. Ia yakin, lelaki itu akan mencarikan alasan untuk kepergiannya. Hanya ada bayangan Dirga di benaknya. Ia tak mau kehilangan lelaki itu. Tak mau kembali merasakan perasaan yang menyiksa sanubarinya. Hatinya tak sanggup memikirkan bagaimana hidupnya kelak tanpa lelaki itu di sisinya.
Air mata Dhatu mengalir. Sungguh, ia tak menyukai candaan Dirga itu. Tak lucu sama sekali. Lelaki itu tak pernah berada di posisi, di mana dirinya yang lemah karna memikirkan banyak hal buruk yang akan terjadi pada lelaki itu. Dirga tak tahu bagaimana kacaunya dirinya begitu melihat Dirga terbaring lemah, bertaruh nyawa di ruang operasi. Lelaki itu memang jahat!
"Kamu jahat, Mas!" ucap Dhatu memukul pelan dada bidang lelaki itu.
Dirga mengusap air mata Dhatu dan segera membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Mengusap-usap lembut punggung wanita itu, mengatakan 'aku baik-baik aja', dan berulang kali mengecup puncak kepala Dhatu penuh kasih. Ia mengeratkan pelukan, hingga getaran pada punggung Dhatu berkurang, menandakan wanita itu sudah mulai tenang.
"Maafin aku ya, Tu. Aku nggak bermaksud membuatmu khawatir." Dirga melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya, "jantungku sakit karna begitu merindukanmu. Aku salah memilih kosa kata, hingga membuatmu seperti ini. Maafin aku, ya?" lanjut Dirga menatap Dhatu memohon.
Dhatu mengerucutkan bibir. "Nggak mau!"
Dirga segera berlutut di hadapan Dhatu, membuat wanita itu panik dan meminta Dirga segera kembali duduk. "Kamu apa-apaan sih, Mas. Jangan berlutut gitu." Dhatu menarik-narik tangan Dirga.
Lelaki itu menggeleng. "Aku akan tetap seperti ini sampai kamu maafin," ucap lelaki itu penuh permohonan.
__ADS_1
"Gimana nanti kalau ada yang masuk dan ngelihat kamu berlutut di depanku? Ngapain seorang pimpinan tunduk pada seorang staff biasa sepertiku? Apa yang akan mereka pikirkan?" Dhatu mendesah resah.
Dengan masih berlutut Dirga menempatkan kepalanya pada pangkuan Dhatu. "Biar semua orang tahu, kalau Dirga Si pemimpin ini tunduk dengan istrinya. Bukan karna takut, melainkan cintanya yang terlalu besar."
Hati Dhatu berdesir hangat mendengarkan perkataan lelaki itu. Dhatu mengarahkan wajah lelaki itu ke arahnya, lalu mempertipis jarak di antara wajah mereka, dikecupnya bibir lelaki itu, lalu kecupan itu berubah menjadi gerakan lembut penuh kehangatan. Bibir keduanya saling berpagut dan bergerak seirama, sedetik kemudian Dhatu melepaskan ciuman mereka dan menatap ke dalam manik mata Dirga.
Dhatu memegang kedua sisi wajah lelaki itu. "Nyatanya, cinta istri Si pemimpin itu jauh lebih besar darinya."
Dirga memajukan bibir dan menggeleng. Ia melepaskan tangan Dhatu dari wajahnya dan menggenggamnya erat. "Cintaku yang lebih besar darimu."
Dhatu menggeleng. "Nggak. Cintaku yang lebih besar."
Keduanya saling bertatapan dan sedetik kemudian tawa mereka pecah. Dhatu memeluk suaminya, merasa begitu bahagia. Cinta tak mungkin bisa diukur, namun ia percaya, cinta mereka sama-sama besarnya.
"Aku mencintaimu, Mas."
Dhatu melepaskan pelukan, lalu menepuk bagian kosong di sebelahnya, meminta Dirga kembali duduk bersamanya. "Duduk, Mas. Aku udah maafin kamu."
Dirga sumringah dan segera duduk di samping Dhatu. Dhatu menggeleng-geleng melihat reaksi Dirga yang terlihat bagai seorang anak kecil. Orang-orang mungkin akan tertawa, jika melihat sikap lain Dirga. Namun sayangnya, Dhatu tak ingin membagi pemandangan langka itu kepada siapapun. Ia ingin menyimpan manja, manis, dan sikap menyebalkan lelaki itu hanya untuk dirinya seorang.
"Oh ya, kenapa memintaku ke sini? Apa hanya karna kangen?" Dhatu tak mampu mencegah senyum yang menghiasi wajahnya.
"Kangen dan mau memberimu sesuatu," ucap Dirga seraya mengambil paper bag di meja dan menyerahkannya pada Dhatu.
__ADS_1
Dhatu menatap lelaki itu penuh tanya. "Apa ini?"
Dirga tersenyum penuh misteri yang membuat wajah tampannya malah terlihat mengesalkan. "Lihat aja sendiri."
Dhatu menggeleng-geleng dan membuka paper bag yang diberikan lelaki itu. Matanya terbuka lebar melihat setumpuk coklat di dalam kotak transparant yang dihiasi pita dan juga bunga. Dirga kecewa melihat reaksi terkejut Dhatu, hanya terkejut. Tak ada rona kebahagiaan seperti saat menerima hadiah dari lelaki lain di mall tadi.
"Kamu nggak suka sama hadiahnya?"
Dhatu menggeleng dan tersenyum. "Tentu aja aku suka, tapi ini terlihat banyak sekali. Apa aku boleh membaginya dengan teman-teman seruanganku?"
Dengan cepat Dirga menyambar paper bag di tangan Dhatu, memeluknya, dan mengerucutkan bibir seraya menggeleng tak rela. "Nggak boleh!"
Biarlah dianggap pelit. Ia tak sudi membiarkan hadiah pilihannya disantap bersama dengan lelaki lain itu. Mengapa wanita itu tak mau menghargai pemberiannya dengan menghabiskan semuanya sendiri. Ia membeli semua itu khusus untuk Dhatu.
Dhatu tersenyum kikuk. "Oke ..." ucapnya seraya melirik paper bag lainnya yang ada di meja, "apa itu juga untukku?" tanyanya sembari tersenyum.
"Apa kamu juga akan membaginya pada orang lain?"
Dhatu seakan mengerti dengan perasaan Dirga. Mungkin, lelaki itu tak ingin dirinya berbagi dengan orang lain karna ia membelikan itu semua khusus untuknya. Dhatu tersenyum sembari menggeleng. "Nggak, kok. Akan kunikmati untuk diriku sendiri. Apa yang itu juga untukku?"
Senyum Dirga mengembang, ia mengangguk girang dan mengulurkan paper bag tersebut pada Dhatu. Dhatu menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Paper bag yang lebih besar itu berisi sebuket bunga mawar. Dhatu mengeluarkan bunga itu, menghirup aromanya, dan tersenyum bahagia.
"Makasih banyak, Mas. Ini pertama kalinya aku menerima bunga dari seorang lelaki," ucap Dhatu seraya mengecup pipi lelaki itu.
__ADS_1
Kecupan Dhatu membuat kedua sudut bibir Dirga terangkat sempurna. Ia menarik wajah Dhatu mendekat dan mengecup bibir wanita itu. Bibir keduanya saling mengecap, memberikan kehangatan hingga ke hati keduanya. Dirga melepaskan ciuman mereka dan mengusap lembut wajah wanita itu. Senyum Dirga seakan mampu menghipnotis Dhatu, tatapan keduanya terkunci.
"Aku mau jadi pertama, terakhir, dan satu-satunya lelaki yang memberimu bunga, Tu."