
Kegiatan mereka kembali seperti sedia kala. Dunia kembali menjadi milik mereka bersama, yang lain hanya menumpang. Perjalanan ke kantor tadi pagi diwarnai dengan percakapan santai dan juga tawa, keduanya merasa kembali menemukan romansa yang sempat sirna karna kehadiran Kana ke dalam rumah tangga mereka yang semula damai dan penuh kebahagiaan.
Seperti biasa, Dirga akan meminta Dhatu ke ruangannya dengan alasan membahas data konsumen untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan. Semenjak pertama kali Dirga meminta data dari divisinya, secara khusus lelaki itu meminta Dhatu setiap jam makan siang ke ruangannya dan membahas data yang telah dikumpulan. Sejujurnya, semua itu hanyalah alasan agar bisa menyantap makan siang dengan istrinya tanpa membuat seisi kantor penasaran akan hubungan keduanya.
Dhatu segera membuka bekal yang dibawanya, lalu menyusunnya ke meja, sementara Dirga mengambil minuman dari kulkas kecil di ruangan dan ikut menyusunnya di meja, berbagi tugas kecil adalah kewajiban yang tak mau Dirga lewatkan.
"Ayok, kita makan, Mas!" ajak Dhatu begitu telah selesai membuka satu-persatu kotak makan berisikan nasi dan juga lauk pauknya.
Dirga tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih, ia merasa begitu beruntung memiliki wanita itu sebagai istrinya. Entah apa jadinya hidup Dirga tanpa wanita itu di sisinya. Kini, hal tersulit yang sulit ia lakukan adalah bernapas tanpa Dhatu.
Dalam diam Dirga menatap wanita itu dalam-dalam. Ia memperhatikan wajah cantik wanita itu, semuanya hampir sempurna dan tak ada satupun cela yang mampu Dirga temukan dalam wajah cantik istrinya. Dhatu yang merasa diperhatikan, mengadahkan wajah dan mendadak salah tingkah karna diperhatikan sedemikian rupa oleh suaminya. Tatapan dalam dan juga senyum yang lelaki itu berikan padanya, membuat rasa hangat menjalar pada kedua sisi wajah Dhatu. Jantungnya berpacu kencang saat tatapan keduanya terkunci.
"Kenapa kamu ngelihatinnya gitu banget, Mas?" jantung Dhatu berdebar semakin liar kala tatapan lelaki itu melembut, tersirat jelas cinta yang begitu besar pada netra Dirga saat menatapnya.
Dirga tak merespon malah senyumnya semakin mengembang, menyihir Dhatu, sedang wanita itu semakin salah tingkah, membuat sendok di tangannya terjatuh ke lantai. Dengan cepat Dirga berjalan ke samping Dhatu. Ia berjongkok, mengambil, menukar sendok yang terjatuh tadi dengan miliknya, lalu menyerahkannya kembali pada Dhatu. Tatapan penuh cinta lelaki itu menghipnotis Dhatu. Demi mengusir kegugupannya, Dhatu menyembunyikan anak rambutnya ke balik telinga.
Masih dengan sendok yang terulur Dirga berucap. "Sungguh ajaib, aku bisa menemukannya antara milyaran manusia. Kamu lah anugerah terindah dalam hidupku, Tu."
Perkataan Dirga semakin membuat jantung Dhatu tak tenang, kebahagiaan memenuhi hatinya, dan sekumpulan kupu-kupu menari indah di perutnya, mengantarkan getaran yang membuat hatinya menghangat. Senyum terukir pada bibir Dhatu. Wanita itu mengambil sendok dari tangan Dirga.
__ADS_1
"Kamu adalah anugerah terindah bagiku, Mas."
Keduanya berbagi senyum. Kebahagiaan mereka cukup sederhana, menyantap makan siang sembari menceritakan pekerjaan yang diselipi cerita tentang kegiatan keduanya mampu membuat hati keduanya dipenuhi rasa bahagia.
Setelah jam makan siang. Dhatu memutuskan untuk menikmati secangkir kopi yang bisa didapatkannya di pantry kantor. Dhatu menghentikan langkah begitu mendengar namanya disebut oleh suara dua orang wanita yang Dhatu yakini adalah Silvy dan juga Tika. Rekan kerja seruangannya. Bukan bermaksud menguping, tetapi Dhatu tak mampu melanjutkan langkahnya begitu mendengar umpatan yang ditujukan pada dirinya.
"Memang Dhatu itu wanita murahan. Dulu aja ngejer-ngejer Mas Krisna, giliran sekarang diminta ngurusin kerjaan langsung sama Pak Dirga, dia malah ngambil kesempatan itu untuk menggoda Pak Dirga. Najis!" Nada meremehkan Silvy membuat hati Dhatu dipenuhi rasa pedih.
"Memang kita nggak bisa menilai seseorang hanya dari wajahnya aja ya, Sil." Tika tak kalah bencinya pada Dhatu, "diam-diam dia udah berhasil menjebak Pak Dirga. Nggak mungkin 'kan kalau mereka nggak ada apa-apa, Pak Dirga malah minta dia laporan ke ruangannya setiap hari?" lanjut Tika.
"Aku pernah kembali ke kantor karna ada yang ketinggalan dan melewati ruangan Pak Dirga. Saat itu, aku mendengar desahan wanita terdengar dari sana. Saat aku ngintip ke dalam... aduh ..." Silvy membuat suaranya seakan ia tengah merasa jijik, "Si Dhatu dan Pak Dirga lagi begituan di meja Pak Dirga."
Dhatu hendak berjalan dan menegur wanita itu, namun urung dilakukannya saat merasakan cengkraman pada pergelangan tangannya. Dhatu menoleh ke sampng dan terkejut saat menemukan Dirga yang entah sejak kapan sudah berada di balik punggungnya.
" Mas ...."
Dirga tersenyum menenangkan, lalu melepaskan genggaman tangannya. Ia berjalan dengan wajah datar mendekati kedua orang yang tak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat melihat kehadiran Dirga di sana. Ketakutan mulai membelenggu hati mereka, keduanya menunduk. Dhatu segera menyusul Dirga dan berdiri di samping lelaki itu.
"Apa kalian tahu kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?" tanya Dirga dingin sembari menatap tajam kedua orang yang tak berani mengangkat wajah untuk melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Maksudnya apa ya, Pak?"
Dirga tertawa sinis. "Orang seperti kalian memang sampah masyarakat!" Dirga tak mampu menyembunyikan amarahnya, "jangan kebanyakan nonton film-film aneh yang membuat otak kalian nggak bisa berpikiran jernih?"
Silvy memberanikan diri mengangkat wajah dan ketakutan kembali merasuki dirinya saat melihat tatapan penuh amarah yang Dirga berikan padanya. Wanita itu segera berlutut di hadapan Dirga, Tika pun melakukan hal yang sama.
"Maaf, Pak. Saya memang salah karna telah menyebar fitnah. Saya nggak akan melakukan kesalahan yang sama lagi," Silvy terisak.
"Iya, Pak. Maafin saya juga, Pak. Nggak akan ngulangin lagi. Saya nggak akan menyebarkan fitnah lagi pak." Tika ikut-ikutan memohon.
Dhatu menatap keduanya miris. Sungguh manusia adalah makhluk paling lemah, setitik kebencian akan merusak akal sehat dan membuat kata-kata jahat mudah lolos dari mulut. Perkataan lebih tajam dari pisau, tak berbentuk, namun mampu menusuk dan menyakiti orang yang mendengarnya. Oleh karna itu, kita harus selalu berusaha berkata yang baik-baik.
"Harusnya, kalian meminta maaf pada Dhatu yang sudah kalian fitnah. Lagipula, saya manusia bukan binatang. Jika benar-benar ingin bercinta, saya masih sanggup menyewa hotel."
Keduanya saling bertatap dan kembali memohon maaf, lalu mereka meminta maaf juga pada Dhatu. Dirga menatap Dhatu dan tersenyum seakan ingin memberitahu Dhatu, jika ia tak akan membiarkan seorang pun menyakiti wanita itu.
"Aku udah memaafkan kalian. Jangan pernah mengarang cerita bohong yang akan membuat pihak yang mendengarnya tersakiti."
Keduanya mengangguk dan air mata mengalir kembali. Dhatu meminta keduanya berdiri dan segera meninggalkan keduanya. Dirga pun ikut meninggalkan kedua wanita yang membuatnya jijik itu. Sungguh, manusia adalah makhluk yang mengerikan.
__ADS_1