Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Cinta Adalah Pengertian


__ADS_3

Keduanya tengah bersiap pergi ke dokter untuk memeriksakan Dhatu saat Bi Ina masuk ke rumah utama dengan wajah panik. Dengan napas terengah-engah, wanita tua itu berkata. "Nyonya Kana bilang perutnya keram. Sedari tadi dia meringkuk di tempat tidur, tapi nggak mau dibawa ke dokter, Tuan." wanita tua itu tak mampu menyembunyikan kekhawatiran dalam nada suaranya, "Apa yang harus saya lakukan?" lanjutnya menatap Dirga penuh harap.


Perkataan wanita itu membuat Dirga dan Dhatu saling bertatapan. Dhatu segera menarik Dirga untuk melihat keadaan wanita itu. "Kita lihat dulu keadaannya, Mas."


Dirga mengangguk setuju, tak ingin berdebat bila menyangkut penyakit. Dirga sungguh tak bisa mengabaikan orang yang tengah kesakitan. Ia tak mau kejadian lama terulang kembali. Sakit perut yang diderita orang yang dikasihinya, yang ia pikir, hanyalah sakit biasa, berakhir dengan vonis kanker usus yang menjadi alasan kepergian orang itu untuk selamanya. Dirga tak mau lagi menjadi orang yang tak peka. Penyakit tak selalu terlihat ringan dan tak mematikan, tak ada yang tahu, jika penyakit kerap datang bagai pencuri yang tak memberikan tanda-tanda kehadirannya Tahu-tahu, vonis sisa hidup beberapa bulan merenggut orang yang kita kasihi.


Dirga tak mengerti mengapa bisa tiba-tiba Kana sakit saat Dhatu juga sedang tak enak badan. Keduanya sakit di waktu yang bersamaan, membuat Dirga tak mampu berpikir jernih. Dirga dan Dhatu tiba di bungalow belakang rumah dan langsung menuju kamar yang ditempati Kana. Wanita itu meringkuk, Dhatu segera mendekat dan mengusap lengan Kana.


"Kamu kenapa, Kana? Di mana yang sakit? Apa perutmu bermasalah? Sakit, perih, atau bagaimana? Katakan padaku!" Dhatu bertanya dengan nada khawatir, sedang Kana meringis dalam posisi yang masih sama meringkuk.


Dirga segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi dokter keluarga mereka. Tadinya, Dirga memang ingin membawa Dhatu ke tempat praktek dokter keluarga yang biasanya memang menangani keluarganya jika ada yang tengah sakit. Om Mirko, begitu biasanya Dirga memanggil dokter langganan keluarga mereka. Melihat keadaan Kana membuatnya yakin jika wanita itu tak mungkin bisa dibawa pergi. Setelah memberitahukan semua permasalahan, dokter itu akan segera datang berkunjung. Dirga mulai bernapas lega, ia bisa meminta Om Mirko memeriksakan Dhatu.


"Apa yang dimakannya tadi siang, Bi?" Dirga menoleh pada wanita tua di sampingnya. Wanita itu masih menunjukkan wajah khawatir. Pertanyaan Dirga membuat Bi Ina tampak berpikir sesaat.


"Hanya ayam sambal dan sayur sop, Tuan. Sambalnya juga nggak terlalu pedas."


"Apa dia nggak ada jajan yang aneh-aneh?"


Dhatu masih setia mengusap lengan Kana, sementara Dirga mengintrogasi Bi Ina, seakan dirinya adalah seorang dokter yang mampu mendiagnosa penyakit hanya dari mendengarkan penjelasan pasiennya. Dirga pernah melalui kejadian seperti ini. Penyakit yang tampak sepele dan Dirga selalu bersikap was-was sejak saat itu.

__ADS_1


"Sejak kapan seperti ini, Bi?" kali ini Dhatu yang bertanya.


"Sehabis mahgrib, Nya."


Kana meringis, ia menggenggam tangan Dhatu yang masih mengusap lengannya. "Aku baik-baik aja. Jangan panggil dokter," ucap wanita itu dengan suara bergetar, terdengar tengah menahan sakit.


"Kenapa nggak mau diperiksa dokter saat kamu begitu kesakitan, Kana? Diamlah dan biarkan dokter memeriksamu. Kamu tengah mengandung bayi, jadi jangan pikirkan dirimu sendiri!" Dirga tak mau bersusah payah menyembunyikan kemarahannya.


Sungguh, ia tak mengerti, mengapa beberapa orang lebih betah menahan sakit, daripada mengobatinya. Padahal, tak ada gunanya menyimpan penyakit. Apalagi wanita itu tengah mengandung. Harusnya, ia memikirkan bayi yang ada di dalam kandungannya juga. Bagaimana bila ada masalah dengan bayinya? Apa tak ada sedikitpun rasa sayang yang wanita itu miliki untuk calon bayinya, hingga begitu memaksa tak mau diperiksa oleh dokter?


"Ya, Kana. Kamu harus diperiksa. Setidaknya, pikirkan bayimu. Bagaimana jika ada masalah dengannya. Kamu nggak boleh egois. Lagipula, dokternya yang akan ke sini."


Dirga memukul pintu di sampingnya, membuat semua orang terkejut dan menatapnya. "Kalau mau mati, jangan di rumahku!" lelaki itu segera pergi meninggalkan kamar tersebut.


Dirga tak suka dengan orang yang kerap menganggap enteng penyakit, seakan ingin berkata pada dirinya sendiri, tak mengapa jika penyakit akan merengut paksa nyawa mereka. Konyol pemikiran wanita itu yang lebih senang menanggung perih yang dideritanya. Harusnya, ia menurut saja agar rasa sakitnya bisa segera sembuh. Penyakit tak akan menghilang bila tak diobati.


Dhatu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan ketika melihat kepergiaan Dirga. Ia tahu mengapa suaminya begitu marah. Dirinya pun sempat membuat suaminya kesal dengan menolak pergi ke dokter. Kejadian masa lalu yang Dhatu belum ketahui apa, pasti membuat lelaki itu sangat trauma. Akan tetapi, lelaki itu tak seharusnya marah terhadap Kana yang masih kesakitan.


"Dia pasti sangat membenciku," isak tangis Kana tedengar. Dhatu tersenyum tipis dan mengusap punggung Kana.

__ADS_1


"Dia nggak membencimu, Kana. Mas Dirga hanya khawatir. Tenanglah ... semua akan baik-baik aja."


Dhatu menatap iba Kana. Ia harus membujuk Dirga agar memberikan sedikit perhatian pada Kana. Walau bagaimanapun, wanita itu tengah mengandung dan tak seharusnya kita memperlakukan wanita yang mengandung dengan kasar. Harusnya wanita itu diperlakukan dengan baik agar tak stress yang membuat calon bayinya merasakan hal yang sama. Dhatu segera berdiri.


"Bi ... bisa tolong jaga Kana? Aku mau bicara dengan Mas Dirga."


Bi Ina mengangguk, lalu duduk di tepi tempat tidur menggantikan posisi Dhatu tadi. Dhatu berjalan keluar kamar dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia menemukan Dirga yang tengah berdiri di bawah pohon Akasia yang ada di halaman. Dhatu tersenyum, berjalan perlahan, lalu memeluk lelaki itu dari belakang. Tubuh Dirga menegang sesaat, namun saat sadar yang memeluknya adalah Dhatu, lelaki itu mengusap tangan wanitanya yang melingkar di perutnya.


"Aku baik-baik aja, Sayang," ucap Dirga, "maaf karna membuatmu kaget di dalam sana," lanjut Dirga seraya membalik tubuhnya ke arah Dhatu. Dibawanya wanita itu ke dalam pelukannya, ingin membagi sedikit gundah yang memenuhi hatinya. Pada nyatanya, Dirga hanya seorang pria lemah yang tak sempurna.


Dhatu menengadahkan wajahnya dan menatap lelaki itu meneliti. "Kamu jangan membentaknya lagi ya, Mas. Dia pasti sangat shock. Kasihan bayinya."


Dirga tersenyum dan mengangguk pelan. "Akan aku usahakan ya, Sayang. Maaf karna aku begitu khawatir." lelaki itu melepaskan pelukan mereka dan mengusap lembut wajah Dhatu, "aku nggak mau mengalami hal yang sama lagi. Aku nggak mau menyepelekan penyakit dan pada akhirnya akan membuat hatiku dipenuhi penyesalan."


Dhatu mengangguk mengerti. "Aku ngerti, Mas. Jika kamu udah siap nanti, kamu bisa ceritakan semuanya padaku agar hatimu bisa lebih tenang, Mas."


Dirga tersenyum. Wanita itu begitu mengerti dirinya dan tak memaksanya untuk menceritakan sepotong kisah tentang masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi seperti ini. Itulah salah satu alasan yang membuatnya jatuh hati pada Dhatu.


Dirga kembali membawa Dhatu ke dalam pelukannya, dan mengecup kasih kening wanita itu. "Makasih banyak atas pengertianmu, Sayang. Aku mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2