Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Tak Bisa Digoyahkan


__ADS_3

Suasana ruangan semakin mencekam. Berbicara tentang bayi yang belum diketahui milik siapa dan juga rasa kemanusiaan, memanglah perkara rumit. Di satu sisi, ingin egois dan mengabaikan, tetapi di sisi lain kemanusiaan menamparnya, membuatnya tak membenarka hal demikian. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial, hingga tak mungkin rasanya ada yang sanggup hidup sendiri, terutama saat tengah dilanda masalah sedemikian rumit.


Dirga kembali menoleh ke arah Dhatu dan menatap wanita itu dalam-dalam. Dirga dapat melihat ketulusan Dhatu, namun wanita seperti Kana tak mungkin bisa menerima kebaikan Dhatu. Apakah ini adalah keputusan tepat bagi mereka semua? Apa dengan tinggal bersama, tak membuat masalah baru dalam rumah tangga mereka? Begitu banyak ketakutan dan juga pemikiran-pemikiran lainnya yang membuat Dirga khawatir.


Dhatu menggengga tangan Dirga. "Semuanya akan baik-baik aja, Mas," ucap wanita itu setengah berbisik.


Dirga menoleh ke arah Dhatu. "Kamu boleh tinggal bersama kami. Dengan satu syarat."


Senyum yang tadinya menghiasi wajah Kana langsung sirna begitu Dirga mengatakan ada syarat yang harus ia ikuti. Tak mengapa, semua ini demi kebaikan dirinya. Setelah ia melahirkan dan mengambil uang lelaki itu, maka dirinya bisa kembali hidup bebas. Toh, anaknya akan hidup terjamin dalam penjagaan Dirga. Ia yakin, hidup bayinya akan jauh lebih baik daripada kehidupannya dulu. Setidaknya, ia akan memiliki orang tua yang lengkap. Tak seperti dirinya.


"Syarat apa?"


"Kamu akan tinggal di bungalow yang ada di belakang rumah utama. Semua keperluanmu akan dihantar setiap hari ke sana. Kamu nggak boleh sekalipun menginjakkan kaki di rumah utama."


Dhatu tersenyum mendengarkan solusi yang tak pernah terpikirkan olehnya. Ia hampir luoa, jika ada bungalow yang biasanya ditempati oleh saudara ataupun teman-teman mereka yang bertamu ke rumah dan memutuskan untuk menginap. Bungalow itu lengkap dengan satu kamar, ruang santai yang dilengkapi dengan sofa dan juga televisi, terdapat dapur kecil juga di sana. Tempat yang cocok untuk Kana tinggal. Bila terjadi sesuatu, mereka pun bisa dengan cepat menghampiri wanita itu. Setidaknya, jaraknya hanya beberapa langkah dari kediaman utama mereka.

__ADS_1


"Kau benar-benar menyebalkan, Mas!" geram Kana. Ia menatap lelaki itu penuh amarah, sedang yang ditatap seakan tak terpengaruh. Dirga hanya tersenyum tipis.


"Sekarang keputusan ada di tanganmu!"


"Itu solusi yang terbaik untuk kita semua, Kana. Aku juga akan sering-sering berkunjung ke bungalow itu untuk melihat keadaanmu. Jangan khawatir!" Dhatu tersenyum tulus.


Ia tak masalah jika harus berkunjung sesekali untuk memastikan keadaaan wanita itu. Mereka pun bisa mencari seorang pekerja yang akan terus memantau keadaan Kana. Ya, inilah solusi yang paling baik untuk permasalahan mereka. Dhau tak perlu merasa was-was dan begitupun dengan Dirga. Kana juga akan lebih nyaman di bungalow yanh walau hanya memiliki satu kamar, namun luasnya lebih besar dari tempat tinggal Kana yang sekarang.


Kana menatap keduanya secara bergantian. Ia harus menekan egonya dan berusaha mengatur rencana. Ia tahu, jika keduanya tak bisa diperlakukan dengan cara kasar dan licik, dirinya harus terlihat baik demi mencapai tujuan. Mungkin saja, tak hanya mendapatkan uang yang banyak, namun ia bisa menggantikan posisi Dhatu di rumah itu. Yang perlu ia lalukan adalah bersabar sedikit lagi dan membuat keduanya merasakan perubahannya.


Senyum Dirga mengembang. Ada kelegaan yang memenuhi setiap relung bathinnya. Ya, beberapa bulan ke depan, ia harus bertahan dengan keadaan ini. Biarlah ia mengikuti permainan Kana dan membuat wanita itu sadar, jika kini keadaan telah berubah. Dirinya tak mungkin bisa kembali ke masa itu, di mana dirinya berpikir, wanita itu adalah wanita yang tepat.


"Drew akan memperbaiki surat perjanjiannya dan kamu bisa menandatangani besok saat pindah ke bungalow," ucap Dirga seraya berdiri, diikuti dengan Dhatu dan juga Drew.


Dirga tersenyum manis pada Dhatu, tatapa matanya melembut, dan ia menggenggam erat tangan wanita itu. Pemandangan yang membuat hati Kana terasa panas dan juga pedih karnanya. Mereka semua berpisah dan kembali ke mobil. Sepanjang perjalanan, Dhatu dan Dirga membicarakan banyak hal tentang apa yang harus mereka persiapkan, sedang Drew hanya mengamati keduanya dalam diam. Dhatu terlalu polos, pikir Drew. Sama seperti Dirga dulu, yang tak pernah mau mendengarkan semua laporannya tentang Kana yang terlihat terlalu dekat dengan para orang-orang kaya yang kerap hadir di acara sosial hanya agar terlihat baik. Orang-orang yang mencari muka dengan kekayaan yang mereka miliki dan Kana adalah wanita yang memanfaatkan orang-orang seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam aja, Drew?" tanya Dirga begitu mereka sudah duduk di dalam mobil.


Drew menggeleng, namun Dirga tahu, jika lelaki itu tengah menahan diri di hadapannya. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu, namun segan. Dirga sudah terlalu mengenal sahabatnya itu.


"Bicarain aja. Sejak kapan kamu takut untuk mengutarakan pendapat?"


"Sebenarnya, nggak ada yang mau aku sampaikan. Hanya saja ..." Drew melirik Dhatu melalui spion tengahnya, "aku takut Bu Dhatu dapat dengan mudah dipengaruhi Bu Kana. Bu Kana orang yang nggak bisa diprediksi dan sangat pandai bersilat lidah. Aku hanya khawatir," lanjut Drew tersenyum lirih.


Dhatu dapat mengerti kekhawatiran lelaki itu. Dirinya memang terlihat bodoh, namun dirinya adalah manusia biasa. Jika ia mengabaikan apa yang ada di hadapannya, bukankah ia sama saja seperti Kana yang tak lagi memiliki kebaikan dalam hatinya? Dhatu yakin, kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Ayahnya pernah berkata, jadi wanita jangan lemah, karna dunia ini terlalu jahat untuk wanita. Oleh karna itu, Dhatu selalu berusaha menjadi wanita kuat dan mandiri, bahkan ketika patah hati, dirinya kembali bangkit. Ia tak mudah dijatuhkan, tak seperti apa yang orang-orang pikirkan. Dhatu memang kerap diperlakukan bak ratu orang kedua orang tuanya yang sederhana, namun seorang ratu pun harus berpikir bijak dan tak boleh egois. Saat mengambil keputusan, ia tak boleh mengambil apa yang akan menguntungkannya dan merugikan orang lain. Dhatu hanya ingin memanusiakan manusia dan dirinya bangga dengan sikapnya yang disebut bodoh oleh banyak orang.


"Aku juga nggak segampang itu untuk dibodohi, Drew. Aku menyetujuinya untuk tinggal bersama agar bisa memantaunya dan juga menjaga anak yang dikandungnya dari dirinya sendiri. Orang seperti Kana, bisa saja menyakiti kandungannya hanya karna kebencian. Nggak ada seorang bayi tak berdosa yang harus dikorbankan hanya untuk keegoisan seseorang."


Drew mengangguk mengerti. Memang memantau seseorang akan lebih baik bila kita berdekatan dengannya. Ia tak menyangka, Dhatu telah memikirkan banyak hal.


Dirga menarik Dahtu ke dalam dekapannya. "Jangan pernah sekalipun kamu mempercayainya, Tu. Aku nggak mau kamu terluka."

__ADS_1


Dhatu tersenyum dan mengangguk penuh keyakinan. Dibalasnya pelukan suaminya dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Iya, mereka tak bisa digoyahkan.


__ADS_2