
Lelaki itu menatap ke dalam manik mata Dhatu mencoba mencari rasa yang dulu sangat mereka sukai. Ia mencoba meraba dan mencari tahu, apa yang menyebabkan semuanya telah berubah saat dirinya masih terjebak dalam dimensi yang sama, kakinya masih terpasung dalam kenangan yang tak mau pergi. Keduanya saling berpandangan dalam diam. Begitu banyak kata yang tak dapat diucapkan.
"Dhatu ..." suara dalam yang begitu familiar di telinga Dhatu membuat wanita itu memiringkan wajah dan menatap lelaki yang berdiri di belakang punggung Alvin. Dhatu tersenyum kikuk pada suaminya yang berjalan mendekat. Ia tak ingin kecanggungan terjadi di antara mereka. Pikirannya sibuk mencari banyak alasan untuk menutupi kecanggungan yang mulai merasuki bathin.
Dirga berdiri di samping Dhatu dan ia tersenyum pada lelaki di hadapan mereka. "Pak Alvin, kenapa bisa ada di sini?"
Lelaki itu membalas senyum Dirga. "Saya sedang mencari udara segar setelah memastikan semua makanannya lengkap. Gimana Pak Dirga, apa ada keluhan?"
Dirga menggeleng dengan tawa kecil yang menghiasi wajahnya. "Nggak ada. Semuanya sempurna. Nggak heran jika chatering Bapak banya dipakai dan direkomendasikan oleh orang-orang kalangan atas. Benar-benar menjaga kualitas."
"Tentu saja, kualitas itu adalah yang utama," ucap Alvin dengan bangga.
"Saya bisa melihat ketekunan Anda. Dengan berusaha hadir dalam setiap acara yang menggunakan jasa katering, Bapak. Oramg-orang bilang, Bapak ingin memastikan semuanya berjalan dengan baik."
Alvin tergelak. "Sebenarnya, saya melakukan ini agar nggak terlihat seperti pengangguran aja."
Dirga tertawa. "Bisa saja, Pak Alvin ini." Dirga lalu menoleh pada istrinya dan memeluk pinggul Dhatu, mempertipis jarak di antara tubuh mereka, "oh ya, saya belum memperkenalkan kalian secara resmi. Perkenalkan Pak Alvin, ini istri saya Dhatu dan ini Pak Alvin pemiliki kathering yang dipakai acara hari ini," ucap Dirga memperkenalkan keduanya.
__ADS_1
Dhatu tersenyum kikuk, sedang Alvin tak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar apa yang baru saja Dirga sampaikan. Ia yang datang terlambat tadi, tak tahu apa pun. Kemarin saat makan siang di restoran dan secara tak sengaja melihat Dhatu di sana, ia pikir, itulah pertanda dari Tuhan untuk memperbaiki apa yang pernah dirusaknya. Ia pikir, tak ada hubungan apa pun di antara Dirga dan juga Dhatu. Sungguh, ia tak mampu menerima kenyataan di depan matanya itu. Harusnya ia tinggal lebih lama di restoran dan memberanikan diri menyapa Dhatu. Mengapa bisa dirinya terlambat?
Dhatu mengulurkan tangan sembari mengucapkan namanya. Ia sebenarnya tak ingin menutupi apa pun dari Dirga, namun keadaan tak membiarkannya menceritakan apa yang terjadi. Kebohongan terjadi begitu saja, mengalir dan mengharuskannya mengikuti arus tanpa bisa dicegah lagi. Alvin menyambut tangan Dhatu, ia tak mampu menghilangkan getaran yang telah menguasainya. Alvin tak mengerti, mengapa semua bisa terjadi. Apa yang akbrab, mendadak menjad asing. Sehebat itukah pengaruh waktu? Meninggalkan orang yang belum siap untuk melangkah maju.
"Oh ya, aku pikir kalian tadi sedang mengobrol atau udah saling berkenalan?" tanya Dirga sembari menatap keduanya secara bergantian.
"Saya tadi menanyakan kamar mandi di mana pada Bu Dhatu," ucap Alvin cepat-cepat, tak memberikan Dhatu untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tak seharusnya mereka menutupi apa yang pernah terjadi di antara mereka. Toh, semuanya telah berakhir, bukan?
Dirga ber-oh-ria. Ia lalu mengusap lembut wajah Dhatu dan menatap wanitanya penuh kasih. "Ngapain kamu sendirian di sini, Sayang. Ayok, masuk dan habiskan makananmu," ucap Dirga.
Dhatu mengangguk dan tersenyum tipis. Ia tak ingin kembali ke sana dan tak juga ingin berdekatan dengan Alvin yang entah mengapa kembali hadir ke dalam hidupnya yang sudah damai dan bahagia. Dirga mengangguk sekilas seraya tersenyum, berpamitan pada Alvin. Dhatu melakukan hal yang sama. Dirga menggenggam erat tangan Dhatu dan tersenyum manis padanya.
"Nggak, Mas. Aku baik-baik aja. Cuma mau mencari sedikit udara segar. Di dalam terlalu ramai," dusta Dhatu. Ia tak menemukan alasan yang tepat untuk menunjukkan rasa rendah dirinya saat melihat perbedaan yang begitu kentara di antara mereka.
Dirga mengusap puncak kepala Dhatu. "Kita masuk sebentar, berpamitan, lalu berduaan di ruanganku." Dirga mengeratkan genggaman tangannya, Dhatu tersenyum bahagia dan menyandarkan kepalanya pada lengan Dirga. Dirinya benar-benar beruntung.
Rencana Tuhan memang baik. Mungkin, jika Alvin dan keluarganya tak melukainya, maka ia tak mungkin bertemu Dirga. Mungkin saja, dirinya masih menjalani hubungan penuh tekanan bersama dengan Alvin. Mungkin, memang inilah cara Tuhan untuk menunjukkan, jika rasa sabar yang besar akan membuahkan hasil yang baik.
__ADS_1
Di sisi lain, Alvin menatap punggung yang kian menjauh itu dengan tatapan sendu. Hatinya campur aduk. Ada amarah, kecewa, dan juga penyesalan yang memenuhi setiap relung hatinya. Harusnya, dirinya tak pernah melepaskan Dhatu. Harusnya, ia bisa lebih berani dalam memperjuangkan cinta yang begitu di sukainya. Jika saja, dirinya yang masih muda dulu bisa berpikir jernih dan tak ikut-ikutan menyudutkan Dhatu, mungkin dirinya lah yang masih berjalan di sisi Dhatu. Menggenggam erat tangan perempuan itu dan saling berbagi senyum. Tidak, ia tak mau menerima kenyataan ini. Dirinya, akan mendapatkan Dhatu, tak peduli bagaimana caranya. Ia tak akan membiarkan cintanya hilang begitu saja. Salahkan saja takdir dan juga waktu. Harusnya, wanita itu menunggunya kembali!
Dirga dan Dhatu kembali ke meja yang tadi mereka tempati, lalu Dirga mohon izin untuk lebih dulu kembali ke ruangan. Dhatu tersenyum, bahagia karna suaminya itu begitu mengerti dirinya. Tak perlu mengatakan banyak hal, lelaki itu seakan mampu membaca kekhawatirannya.
Menit demi menit telah berlalu. Dhatu duduk di sofa ruang kerja suaminya, sementara Dirga berjalan ke arah kulkas untuk mengambilka minuman untuk Dhatu. Tak lama, lelaki itu kembali dan mengulurkan minuman botol pada Dhatu. Dhatu mengucapkan terima kasih. Secara tiba-tiba, Dirga berlutut di hadapan Dhatu, menempatkan kepalanya pada pangkuan Dhatu, membuat tubuh Dhatu membeku sesaat. Sedetik kemudian keterpakuannya berubah menjadi senyum, diusap-usapnya lembut puncak kepala Dirga.
"Kamu capek, Mas?" tanya Dhatu dengan terus membelai kepala lelaki itu.
"Capek karna kamu ninggalin aku begitu aja."
Dhatu tergelak kecil. "Ninggalin apa sih, Mas? Aku cuma cari udara segar."
"Aku khawatir saat menoleh ke tempat minuman dan nggak lagi menemukanmu di sana, Tu. Aku pikir, kamu meninggalkanku karna bosan," ucap Dirga mengadahkan wajahnya dan menatap Dhatu sendu, "lain kali, tolong jangan kabur begitu. Kalau nggak suka atau bosen bilang aja. Aku pasti bakalan bawa kamu kabur. Jangan pernah ninggalin aku."
Dhatu tersenyum dan mengangguk. "Ya, Mas. Lain kali, aku nggak akan kabur gitu aja."
Dirga tersenyum puas mendengarkan jawaban Dhatu. Ditangkupnya wajah wanita itu dengan kedua tangannya, mempertipis jarak di antara wajah mereka, lalu mencium sekilas bibir ranum Dhatu.
__ADS_1
"Awas nakal!" ucap Dirga mencubit gemas bibir mancung Dhatu. Keduanya berbagi tawa. Sesederhana itu untuk merasa bahagia bersama Dirga dan Dhatu tak akan pernah lagi melihat ke belakang. Semua yang dimiliki dan alasannya berbahagia, terpampang jelas di hadapannya. Ia tak ingin kembali, walau sekadar mengintip masa lalu. Inilah masa depannya, Dirga.