
Mendengarkan perkataan Krisna yang terdengar begitu memuja Dhatu membuat Dirga tak kuasa menahan api cemburu yang menjalar ke penjuru hati. Ingin rasanya ia melarang orang lain untuk memiliki rasa spesial untuk istrinya, namun semua itu mustahil. Dirinya saja tak mampu mencegah rasa yang membuncah di dadanya.
"Terima kasih," pada akhirnya, hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Dirga.
Rina yang melihat kecanggungan, tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana, namun usahanya terasa gagal karna hanya diriny yang tertawa kikuk. Rina berdehem.
"Tenang saja Pak Dirga, kami akan menjaga Dhatu dengan baik," ucap Rina memeluk lengan Dhatu, Dhatu tersenyum.
"Makasih banyak, Rin. Kamu memang yang terbaik."
"Jadi ... apa rencanamu untuk makan siang besok, Mas? Apa langsung tanpa angin dan tanpa hujan mau mengenalkanku sebagai istrimu?"
Dirga mengangguk. "Tentu aja. Aku mau seluruh dunia tahu kalau kamu adalah milikku," lelaki itu tersenyum bangga, "lagipula, orang-orang kantor yang nggak mengadakan resepsi pernah sekali dua kali melakukan hal yang sama. HR yang memberitahuku, makanya aku mau melakukan ide yang sama," lanjut Dirga.
"Yq, memang ada beberapa yang menikah di luar kota atau nggak dirayakan, mereka lebih memilik meneraktir orang kantor makan dengan cara prasmanan untuk syukuran," ucap Krisna.
Perbincangan tentang rencana acara makan siang yang akan diadakan Dirga untuk semua karyawan kantor mulai berjalan lancar. Lelaki itu juga sudah meminta pihak HR, untuk menyebar undangan dan mengumumkan besok semua karyawan untuk tak membawa bekal ataupun makan di luar. Dirga harap, semua orang bisa berkumpul. Keempatnya bercerita dengan santai, Rina tak menyangka bisa akrab dengan orang yang kerap terlihat kaku di kantor. Rina dan Krisna kembali ke kantor lebih dulu, meninggalkan Dhatu bersama dengan Dirga di restoran.
"Mas memang sengaja menguntit aku sampai ke sini, kan?" Dhatu menatap suaminya curiga.
"Untung aja aku melakukannya, kalau nggak, aku sangat takut ada lelaki lain yang akan menculikmu," Dirga tertawa, "makanya jangan terlalu menggemaskan. Nggak boleh terlihat cantik di luar, dan nggak boleh membuat lelaki lain jatuh hati."
Dhatu menggeleng-geleng sembari terkekeh mendengarkan perintah lelaki itu. "Mungkin karna inilah aku memilih untuk resign. Agar kamu nggak kurang kerjaan dan terus menjadi penguntitku."
Dirga tergelak mendengarkan tuduhan wanita itu. Yang sebenarnya itulah yang memang terjadi. Dirga bukan bermaksud membatasi pergaulan wanita itu, hanya saja, dirinya memang terlalu posesif jika berkaitan dengan wanita yang dicintainya. Apalagi wanita itu tengah mengandung bayi mereka. Sesungguhnya, Dirga kembali mengajak Drew untuk bermain petak umpet ala detektif, namun melihat wajah serba salah Dhatu, membuat Dirga ingin segera membantu wanita itu. Inilah saatnya ia tak membuat Dhatu bingung untuk menjelaskan hubungan yang ada di antara mereka.
__ADS_1
"Aku beneran nggak bisa ngurangin rasa posesif ini, mungkin ini bawaan bayi, Tu."
Dhatu memutar mata jengah. "Kalau begitu, aku yakin kalau anak kita nanti pasti akan sama posesifnya denganmu, Mas."
Dirga terbahak. "Tentu saja! Kami berdua akan menjaga dan mengekori ke mana pun kamu pergi," Dirga menarik tangan Dhatu ke dalam genggamannya, menatap ke dalam manik mata wanita itu, lalu mengecup punggung tangan Dhatu dengan penuh kelembutan.
"Kami akan selalu ada di sisimu, Tu."
Perkataan lelaki itu membuat air mata Dhatu jatuh tanpa bisa ia tahan, ada senyum yang turut menghiasi wajahnya. "Aku akan membuat kalian sangat kerepotan," ucap Dhatu penuh kebahagiaan.
"Aku senang direpotkan olehmu, Tu. Teruslah jadi tanggungjawab, ya."
Dhatu mengusap lembut wajah lelaki di hadapannya dengan sebelah tangannya yang bebas. Dirga menggenggam tangan Dhatu yang berada di wajahnya, pandangan keduanya terkunci dan mereka saling berbagi senyum. Cinta bisa seindah ini.
***
"Mas Krisna pasti sangat menyukai Dhatu," gumam Rina pelan. Perkataan wanita itu membuat Krisna mengulum senyum.
"Dia spesial," ucap Krisna setengah berbisik, "nggak seperti kebanyakan wanita yang harus dilepaskan topeng satu-persatu agar dapat melihat wajah aslinya. Dhatu itu apa adanya," lanjut Krisna menatap lembut ke depannya, seakan Dhatu lah yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Dhatu sekarang udah milik orang lain, dia bahkan sedang hamil. Seharusnya, kamu mulai melihat ke arah lain, agar bisa menemukan orang yang tepat, seseorang yang akan membalas rasa yang kamu berika untuknya, Mas."
Krisna tertawa kecil. "Apa ada orang seperti itu? Aku bukan siapa-siapa. Hanya lelaki kere yang suka menjalani hidup yang monoton. Mungkin, nggak akan ada seorang wanita seperti Dhatu yang bisa menerima cinta sederhana seperti yang kumiliki."
Rina tersenyum tipis. "Jangan pernah mencari orang yang sama dalam diri orang lain, Mas. Sampai kapan pun, kamu nggak akan bisa menemukannya," tatapan mata lembut Rina membuat Krisna tersenyum tipis, "bagaimana orang bisa menerima cinta sederhanamu, jika kamu nggak berusaha membuka hati dan nggak mencari sosok orang lain dalam diri seseorang?" Rina mengalihkan pandangan ke hadapan, sedang Krisna menatapnya nanar.
__ADS_1
Krisna menghentikan langkahnya dan Rina masih terus berjalan. Perkataan Rina seakan memukul bathinnya. Benarkah itu? Selama ini, tanpa sadar ia mencari orang yang serupa dengan Dhatu? Ingin menjadikan wanita itu sebagai pengganti cinta yang tak bisa didapatkannya? Begitukah cara cinta bekerja?
***
Dhatu dan Dirga telah bersiap untuk pulang ke kantor, menyusul Krisna dan juga Rina yang sudah lebih dulu kembali. Dirga memanggil seorang pramusaji untuk membayar semua makanan mereka.
"Semuanya udah dibayar, Pak."
Dirga dan Dhatu saling bertatapan, lalu Dirga menatap pramusaji itu. "Nggak mungkin sudah dibayar. Nggak ada satupun dari kami yang udah membayar pesanan kami."
Dirga yakin benar dengan semua itu, karna ia melihat sendiri Krisna dan Rina yang langsung keluar begitu mengucapkan terima kasih pada mereka. Tak ada kesempatan bagi mereka untuk membayar semua tagihan terlebih dahulu. Dhatu bahkan melambaikan tangan ketika keduanya berdiri di ambang pintu, hendak keluar dari tempat itu. Sungguh tak masuk akal.
"Tapi memang sudah ada yang membayarnya dan nggak mungkin kami menagihkan lagi apa uang sudah dibayar," ucap gadis itu seraya menunduk sekilas.
"Siapa dan bagaimana rupa orang yang menbayarkan tagihan kami? Setidaknya, kami harus berterima kasih karna sudah ditraktir sebanyak ini?" Dhatu terpancing rasa penasarannya.
"Saya nggak begitu pintar mendeskripsikan seseorang. Dia lelaki, tinggi, berkulit sawo matang dan rambut belah tengah."
Ciri-ciri yang disebutkan gadis itu tak terlihat seperti Krisna. Dirga dan Dhatu tampak berpikir keras, namun tak mampu menerka. Gadis itu yang merasa tak lagi diperlukan segera permisi dan berlalu dari keduanya.
"Kamu mengenal ciri-ciri orang seperti itu, Tu?"
Dhatu menggeleng. "Nggak, Mas."
Dirga mendesah resah dan segera berdiri. "Nggak usah dipikirka lagi. Anggap aja rezeki calon bayi kita," ucap Dirga seraya mengulurkan tangannya pada Dhatu.
__ADS_1
Dhatu mengangguk. Ia pun tak mau lagi berpikir keras. Biarkanlah semua itu tetap menjadi misteri. Toh tak ada siapapun yang dirugikan. Keduanya bergenggaman erat dan berjalan keluar restoran.