Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Andai Sikapmu Terus Begini


__ADS_3

Lestari melambaikan tangan sembari tersenyum manis pada keduanya, sedang Dirga dan Dhatu tersenyum kikuk. Otak mereka sibuk memikirkan berbagai cara agar tak perlu berlama-lama terjebak bersama dalam mobil. Setengah jam ke depan akan jadi neraka bila mereka terus bersama. Entah keheningan yang mencengkam atau mungkin perdebatan menyakitkan hati yang akan menemani perjalanan mereka nanti.


Apa Dirga harus menurunkan Dhatu begitu mereka keluar komplek perumahan? Dirga menggeleng, ia tak mungkin membiarkan wanita itu pergi dengan kendaraan umum di jam segini, bisa-bisa dirinya terlambat dan entah mengapa Dirga tak mau wanita itu medapatkan masalah di kantor.


Wanita itu sempat menyelamatkannya di meja makan, bekerjasama dengan dramanya dan membuat keraguan Lestari lenyap begitu saja. Terutama saat Dhatu bercerita banyak hal tentang kesehariannya yang sesungguhnya tak ia sadari. Wanita itu nampak jauh, namun seakan begitu mengenalnya, terasa dekat dengan cara yang aneh. Padahal, ia pikir Dhatu sama seperti dirinya, membenci. Akan tetapi, wanita itu tak seburuk yang ia kira.


Di sela menyantap sarapan tadi, Dhatu mengejutkannya dengan banyak hal-hal kecil, seperti; Dhatu yang selalu menyiapkan keperluan gym-nya atau Dhatu yang suka diam-diam menyiapkan kopi hitam tanpa gula kesukaannya di meja ruang kerja. Padahal mereka jarang bertukar kata dan tak saling memberitahu kesukaan masing-masing. Wanita itu mempelajari semua kebiasaannya, hingga membuat Dirga terbiasa. Hal yang paling menakutkan bagi Dirga adah keterbiasaan yang perlahan akan menjad candu.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan ya kalian berdua," ulang Lestari untuk kesekian kalinya. Dirga dan Dhatu melambaikan tangan sembari tersenyum kikuk, lalu mereka berjalan ke arah mobil yang terparkir di halaman depan rumah.


Dirga membukakan pintu mobil untuk Dhatu, melengkapi sandiwara yang tengah mereka pertunjukkan. Segera Dirga mengitari bagian depan mobilnya dan duduk pada kursi kemudi.


"Turunkan aku di minimarket yang ada di perempatan sebelum kantor," ucap Dhatu begitu Dirga menyalakan mobil.


"Sebaiknya, kalau memang besok kita berangkat lebih pagi, kamu turunkan aku di depan komplek. Aku mau naik busway aja."

__ADS_1


Dirga melirik Dhatu sekilas, lalu kembali menatap jalanan di depannya. Sesungguhnya, ia tak tega membiarkan Dhatu berdesak-desakan di dalam kendaraan umum. Padahal wanita itu selalu pergi dengan motor karna tak ingin berdesakan, tapi karnanya wanita itu tak bisa memilih jalan lain. Aneh ... tak seharusnya Dirga merasa iba. Semestinya, ia senang dengan ide Dhatu, akan tetapi tidak kali ini.


"Nggak perlu begitu. Kamu tetap naik mobilku aja dan nanti aku turunin di persimpangan."


Dhatu membeku sesaat, merasa ada yang salah dengan indera pendengarannya. "Kamu nggak masalah?"


Dirga berdesis sebal. "Aku nggak suka dengan keadaan ini, tapi mau gimana lagi. Selama mama ada di rumah, mau nggak mau kita harus bekerjasama." Dirga mencengkram kemudinya, "dan aku menerima syaratmu. Aku nggak akan membawa Kana ke rumah lagi. Dipikir-pikir, memang nggak seharusnya aku membawa Kana ke sana. Apalagi kalau nanti tiba-tiba ada keluarga kita yang datang."

__ADS_1


Kedua sudut bibir Dhatu terangkat sempurna. Ia tak mampu mencegah setitik kebahagiaan yang menjalar ke penjuru hati. Entah semua ini berkat nasi gorengnya atau ada malaikat mana yang merasuki Dirga, hingga lelaki itu bersikap baik padanya. Andai saja, setiap hari lelaki itu memperlakukannya sebaik ini. Mungkin, hatinya tak 'kan pedih.


__ADS_2