
Mereka telah tiba di rumah, sepanjang perjalanan, keduanya terjebak keheningan. Dhatu tak mau membujuk, sedang Dirga masih betah menatap keluar jendela, sama-sama memilih tenggelam dalam keheningan. Dua-duanya sama keras kepalanya. Pak Jamal yang mengintip dari spion tengah pun hanya bisa menggeleng-geleng melihat kelakuan keduanya. Pak Jamal membantu menurunkan barang bawaan keduanya dan masuk ke dalam rumah. Sementara Dhatu menghela napas gusar melihat Dirga yang masih terlihat merajuk dan tak mau menatapnya. Sungguh, Dhatu tak pernah tahu jika suaminya itu bisa bersikap layaknya seorang anak kecil seperti ini. Baiklah, dirinya pun bisa perang dingin.
Dhatu berjalan lebih dulu, melewati tubuh Dirga tanpa ingin menoleh, meninggalkan Dirga yang cemberut menatap punggungnya yang kian menjauh. Sungguh, ia tak mengerti mengapa mereka selalu seperti tikus dan kucing yang tak bisa akur, seakan tak betah berlama-lama dalam keadaan damai. Bagai musuh yang tak mau mengalah.
Dirga memutuskan untuk merebahkan tubuh di sofa ruang tamu, sementara Dhatu sudah lebih dulu berjalan menuju kamar mereka. Dirga menatap kosong langit-langit ruangan. Apa memang dirinya bersalah, hingga membuat Dhatu kesal? Akan tetapi, di mana letak kesalahannya? Ia hanya ingin membantu tanpa maksud lain. Bukankah seharusnya, wanita itu mengucapkan terimakasih daripada harus berdebat? Ya, harusnya wanita itu merasa bersyukur, buka malah marah padanya.
Dirga mendesah resah. Ia sebenarnya tak tahan berlama-lama berdiam seperti ini, belum puas dirinya mendekap tubuh wanita itu dan berbagi kehangatan di ranjang mereka, namun gengsi membulatkan tekadnya, jika ia tak 'kan luluh begitu saja pada Dhatu. Bukan dirinya yang memulai perang, maka bukan dia pula yang harus mengakhirinya.
Suami masih dalam tahap penyembuhan bukannya disayang-sayang, malah dicuekin. Nasib ... nasib ... Dirga memejamkan mata, perjalanan mereka cukup melelahkan. Biarlah ia beristirahat barang sejenak, agar pikirannya bisa lebih jernih.
Menit demi menit telah berlalu, Dhatu yang baru saja selesai membersihkan diri terkejut begitu menemukan Dirga yang sudah tertidur pulas di sofa ruang tamu. Ia menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Sekesal itukah lelaki itu padanya? Hingga tak mau beristirahat di kamar. Bagaimana bisa lelaki itu merasa benar, saat melakukan kesalahan? Harusnya ia meminta maaf dan sadar jika sikap sok kuasanya itu akan membuat Dhatu dalam masalah. Hati Dhatu melemah begitu melihat wajah tampan itu, ingin rasanya ia menggeser sedikit tubuh lelaki itu dan tenggelam dalam dekapannya yang hangat. Dhatu menggeleng cepat. Ia tak boleh kalah dalam perang ini. Dhatu mengambil selimut, lalu menutupi tubuh lelaki itu. Walau bagaimanapun Dirga masih dalam masa penyembuhan.
Dhatu memutuskan untuk menghabiskan waktu di dapur. Ia harus menyiapkan makanan untuk mereka. Perang masih berlangsung, namun dirinya tak mau melupakan kodratnya sebagai seorang istri.
Menit demi menit tekah berlalu, Dirga terbangun dari tidurnya. Cacing di perut bersorak riang begitu mencium aroma masakan dari arah dapur. Dirga tersenyum begitu melihat selimut yang menutupi tubuhnya. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Mungkin saja Dhatu sudah mau mengakhiri perang dingin antara mereka. Dengan senyum lebar ia melangkahkan kaki ke arah dapur. Bahagia menyelimuti hati, begitu melihat punggung Dhatu. Ia mempercepat langkah, tangannya hendak merangkul Dhatu, namun urung begitu melihat wajah datar Dhatu begitu membalik tubuhnya. Dirga dengan cepat menarik tangannya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Senyumnya pun sirna. Wanita itu masih marah dan menyadarkannya jika perang dingin mereka masih berlangsung.
__ADS_1
"Anu ... aku mau ambil baskom," ucap Dirga, berusaha menutupi rasa malunya yang hampir saja menunjukkan kekalahannya dari wanita itu.
Dhatu mengerutkan kening dan menatap lelaki itu penuh tanya, sedetik kemudian ia menoleh kabinet atas dan melihat ke arah baskom yang disusun di sana. Ia tak mengerti mengapa Dirga membutuhkan baskom. Dhatu tak mau ambil pusing lagi. Toh, mereka tengah berperang.
"Ambil aja," ucap Dhatu pada akhirnya, ia meninggalkan Dirga sembari membawa semangkuk sup dan menyajikannya di atas meja.
Dhatu duduk pada kursi di balik meja makan. Ingin memanggil Dirga untuk ikut bergabung, namun gengsi, takut dianggap kalah. Maka yang dilakukannya hanya mengisi piring kosong di hadapannya dan piringnya sendiri. Ia menoleh pada Dirga yang seakan mengerti dan langsung duduk di hadapannya. Keduanya makan dalam keheningan yang mulai menyesakkan dada. Dirga tak pernah tahu jika sunyi bisa terasa begitu menyakitkan. Dirinya merindukan suara Dhatu, tawa, dan juga kehangatan tubuhnya. Aaahh ... otaknya ingin pecah rasanya.
Menit demi menit telah berlalu, sehabis makan, Dirga segera berjalan ke kamar dan membersihkan diri. Sementara Dhatu membersihkan bekas makan mereka. Hati keduanya kacau dan mendadak pedih. Keduanya tak pernah tahu, jika keheningan bisa terasa begitu menyiksa. Haruskah salah satu dari mereka mengalah? Tapi, mengalah akan membuat harga dirinya diinjak-injak, Dhatu menggeleng. Ia tak akan mengaku kalah.
Jantung keduanya berdetak liar, Dhatu tak bisa fokus pada bahan bacaan, begitupun Dirga yang merasa berita di ponsel tak menarik sama sekali. Keberadaan Dhatu di sisinya membuatnya ingin membawa wanita itu ke dalam dekapan dan berbagi kehangatan. Ah ... sungguh ia tak tahan lagi. Ternyata perang dingin seperti ini tak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Anu ...." keduanya berkata secara bersamaan. Saling menatap, lalu sedetik kemudian tawa mereka pecah. Merasa konyol dan juga putus asa.
"Maafkan aku," ucap Dirga lebih dahulu. Baru beberapa jam saling berdiaman seperti ini membuatnya tak tahan. Dirga merindukan semua hal yang ada pada Dhatu dan tak ingin meneruskan perang yang membuatnya semakin tersiksa.
__ADS_1
"Aku juga minta maaf, Mas."
Dirga menggeser tubuhnya mendekat, lalu memeluk Dhatu erat-erat. Wanita itu seakan mengembalikan tenaga dan juga membuat hatinya menjadi lebih damai.
"Aku nggak seharusnya membuat keadaanmu di kantor semakin sulit. Maafkan aku."
Dhatu membalas pelukan Dirga. Ia pikir, dirinya akan tahan berdiam diri dan melakukan perang dingin. Padahal dulu, mereka selalu berdiam dan menghindar, namun sekarang semuanya terasa sangat sulit untuk dilakukan.
"Aku juga seharuanya tahu kalau kamu hanya berusaha membantuku, Mas."
Dirga melepaskan pelukannya, menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya, dan menatap ke dalam manik mata Dhatu.
"Aku nggak mau perang begini lagi, Tu. Nggak enak rasanya. Dadaku sesak," ucap Dirga sembari membawa tangan Dhatu ke dadanya.
Dhatu tersenyum dan mengangguk. "Aku juga nggak mau, Mas."
__ADS_1
Keduanya saling memandang dan berbagi tawa. Tanpa sadar, banyak hal telah berubah di antara mereka. Bukan hanya hati yang saling terhubung, namun kini keduanya tak 'kan sanggup berjauhan.