Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Aku Hanya Kecewa


__ADS_3

Keduanya saling berpandangan, Dhatu dapat melihat Dirga mengeraskan rahang, Dhatu tahu bila suaminya marah. Dhatu tahu apa yang diperbuatnya pasti menyakiti hati Dirga, dirinya pun tak heran jika Dirga mulai berspekulasi aneh tentang pertemuan mereka belakangan ini. Semua ini karna kebodohannya. Jika sejak awal, ia memberanikan diri bercerita pada Dirga, maka lelaki itu tak mungkin semarah ini padanya.


"Maaf, Mas ... seharusnya aku mengatakannya lebih awal. Aku hanya takut kamu salah paham," ucap Dhatu dengan mata berkaca-kaca, "sungguh, nggak ada apa pun di antara kami dan pertemuan kembali ini di luar kemauanku. Aku beneran nggak tahu kalau Mas menggunakan jasa katheringnya dan aku nggak tahu apa yang terjadi padanya setelah perpisahan kami. Semua benar-benar telah berakhir sejak lama, sebelum pertemuan kita," lanjut Dhatu lirih.


Dirga mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, Dhatu mengikuti lelaki itu. Ia menunduk, tak berani lagi membaca raut wajah suaminya. Dirga menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, mengepalkan tangan, mencoba mengurangi amarah yang tak mau pergi. Dirinya mencoba mengerti Dhatu. Yang membuatnya marah bukanlah karna wanita itu baru mengatakan semuanya setelah sekian lama. Hanya saja, dirinya kecewa karna Dhatu takut akan kemarahannya. Ya, memang bisa saja ia marah, akan tetapi ia tak segila itu. Dirinya tak mungkin marah dengan masa lalu yang memang dimiliki semua orang. Dirinya merasa bodoh melihat sikap sok asing keduanya saat bertemu, merasa dikhianati. Jika saja, dirinya mengetahui semuanya lebih awal, maka dirinya tak harus bersikap seperti orang bodoh yang tak tahu apa pun. Mengapa Dhatu takut padanya, bila yang mereka harus lakukan adalah saling berkomunikasi.


"Seharusnya, kalian nggak usah berlagak asing jika saling mengenal, Tu," ucap Dirga penuh kekecewaan. Dhatu segera menggenggam tanga Dirga dan menatap lelaki dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Aku nggak bermaksud begitu, Mas. Semua terjadi begitu aja. Saat pertemuan pertama, Mas yang terlanjur memperkenalkan kami kembali dan aku jadi bingung harus mengatakan apa."

__ADS_1


"Bisa aja kamu bilang kalau kalian udah saling mengenal saat itu juga. Kenapa harus menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan sesuatu, seperti kisah masa lalu yang telah usai," ucap Dirga menatap Dhatu tak percaya. Mengapa wanita itu tak percaya padanya. Kurang mengerti apa dirinya hingga wanita itu takut terbuka padanya.


Dirga ingin menjadi suami, kekasih, teman, dan juga rekan yang akan menghabiskan sisa waktunya bersama Dhatu. Ia tak mau ada ketakutan dalam pernikahan mereka. Saling menghormati adalah hal yang utama, tak perlu ada ketakutan di antara mereka karna pernikahan bukanlah hubungan yang memerlukan rasa itu di dalamnya. Berjalan bersama guna mencapa visi yang sama, berkomitmen, dan saling mengungkapkan rasa. Hal-hal itulah yang sangat penting dalam menjalin sebuah hubungan yang disebut pernikahan.


"Maaf, Mas. Aku hanya takut Mas marah dan salah paham kalau aku mengatakannya saat itu juga. Aku juga nggak mau menunda-nunda kebenaran yang ada, Mas. Maaf, aku memang bersalah," ucap Dhatu mengeratkan genggaman tangannya.


Dirga melepaskan genggaman tangan Dhatu, ia berdiri, dan keluar meninggalkan kamar mereka, sementara Dhatu menatap sendu kepergian lelaki itu. Sedetik kemudian, air matanya jatuh. Ia menutup mulut dan berusaha meredam isak tangisnya. Hatinya perih bukan main melihat Dirga yang kembali tidak acuh padanya. Ya, memang semua ini adalah salahnya. Harusnya, ia berpikir terlebih dahulu jika menunda mengungkapkan kebenaran malah akan membuat lelaki itu semakin salah paham. Jika memang tak ada apa pun lagi di antara mereka harusnya tanpa ragu ia mengatakannyang sebenarnya, bukannya malah terbuai dalam kebohongan yang tercipta karna keadaan.


Dhatu mengusap kasar air matanya dan segera berjalan keluar kamar. Ia harus menyelesaikan permasalahan di antara mereka malam ini juga. Ia tak mau membiarkannya berlarut-larut seperti apa yang ia lakukan. Ia tak mau lagi melakukan kesalahan yang sama. Harusnya, Dhatu mempercayai fakta, jika Dirga akan selalu berpihak padanya dan mau mendengarkan penjelasannya. Harusnya, ia bisa lebih berani lagi dan tak menyalahgunakan kebaikan suaminya. Ah ... Dhatu memang bodoh.

__ADS_1


Dhatu berjalan ke ruang kerja Dirga yang terletak di sederetan kamar mereka, mengetuknya beberapa kali,dan memberanikan diri memutar knopnya. Ia tersenyum tipis saat tak menemukan Dirga di dalam sana. Dhatu berpikir sesaat, lalu menuruni anak tangan. Suara mesin membuat Dhatu mempercepat langkah. Lelaki itu akan pergi dan Dhatu harus segera mencegahnya. Ia tak boleh membiarkan Dirga semakin marah. Lelaki itu harus mendengarkan hal yang sebenarnya. Kebohongan yang secara tak sengaja terciota dan berlarut.


Dhatu berdiri terpaku di depan pintu rumah mereka saat melihat mobil lelaki itu yang sudah meninggalkan perkarangan depan rumah mereka. Air matanya kembali jatuh dan dirinya terkulai lemas di ambang pintu. Dadanya sesak bukan main. Hatinya patah melihat amarah suaminya, kekecewaan yang lelaki itu tunjukkan padanya membuat sanubarinya perih bukan main. Semua ini memang salahnya dan memang sudah sepantasnya lelaki itu kecewa akan sikapnya, akan tetapi, Dhatu tak menyangka jika lelaki itu kan pergi meninggalkannya begitu saja. Dhatu memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di lutut. Ia menangis terisak, meratapi penyesalan yang merasuki setia relung hatinya.


Ya Tuhan ... apa yang sudah ku perbuat? Aku mengacaukan semuanya. Bagaimana aku bisa mendapatkan maaf darimu, Mas?


Dhatu menguatkan diri. Menutup pintu rumah dan kembali ke kamarnya. Ia harus menghubungi Dirga, meminta lelaki itu kembali. Ia tak mau kehilangan cinta lelakinya. Dirinya tak mau merusak kepercayaan lelaki itu dan Dhatu tak akan bisa tenang sampai menerima maaf dari Dirga. Ya, dirinya harus segera memohon ampun. Tak peduli, jika diriny harus memohon dan berlutut agar amarah lelaki itu mereda, maka ia akan melakukannya. Ia akan melakukan apa pun demi mendapatkan maaf dari suaminya.


Dhatu yang masih menangis segera mendial nomer suaminya, namun suara ponsel di nakas meja rias membuat tangisnya semakin menjadi-jadi. Lelaki itu tak membawa ponselnya. Bagaimana bila sesuatu yang buruk terjadi karna suasana hati lelaki itu yang buruk? Dhatu berjalan mendekati ponsel Dirga, mengambilnya dan menempatkan benda pipih itu di dadanya. Ia tak tahu harus meminta pertolong pada siapa. Siapakah yang harus dihubunginya untuk membantunya mencar keberadaan suaminya?

__ADS_1


Ya Tuhan ... lindungi suamiku.


__ADS_2