Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Cintaku Sederhana


__ADS_3

Dhatu menghambur ke dalam pelukan Dirga. Ia tak suka bila lelaki itu mulai beranggapan jika dirinya tak bahagia dan ingin kembali ke masa lalu. Padahal, hanya lelaki itulah yang Dhatu inginkan. Ia tak mau yang lain. Bagaimana bisa lelaki itu meragukan hal yang seharusnya tak lagi dipertanyakan.


"Aku nggak mau yang lain, Mas. Aku hanya mau bersamamu karna hanya kamulah yang aku cintai. Alvin hanya masa lalu yang telah usai dan nggak ada sedikit pun keinginanku untuk kembali padanya." Dhatu mengeratkan pelukannya, ketakutan mulai menjalar ke penjuru hati. Ia tak mau kehilangan lelaki itu dan cintanya.


Dirga membalas pelukan Dhatu dan mengecup puncak kepala wanita itu. Dihirupnya dalam-dalam aroma strawberry dari shampoo yang Dhatu gunakan. Aroma wanita itu manis dan Dirga menyukainya. Betapa ia merindukan pelukan wanita itu. Memang salahnya yang memilih pergi karna amarah, namun hanya dengan seperti itu dirinya bisa meredakan amarah dan kembali berpikir jernih. Ia tak mau menyakiti wanita itu, maka dirinya lebih memilih untuk pergi dari rumah. Bagaimana bila hati yang penuh amarah mempengaruhi kata-kata buruk yang keluar dari mulut? Dirga tak menginginkannya. Baginya, ucapan yang keluar dari mulut yang mewakili hati penuh amarah, akan berujung pada penyesalan. Hati tak kan bisa diajak kompromi dan emosi kerap menjebak. Oleh karna itu, Dirga memilih pergi.


"Aku juga mencintaimu, Tu. Sangat," bisik Dirga lirih.


Kini dirinya mengerti jika cinta bukanlah untaian kata-kata indah dan puitis semata, namun memilik makna yang begitu dalam. Mencintai, berarti kau menginginkan kebahagiaan untuknya. Memberi tanpa mengharapkan upah. Cinta adalah tentang pemberian dan tak menuntut lebih dari orang yang kau sayangi.


"Jangan pernah menyembunyikan apa pun lagi dariku ya, Sayang." Dirga melepaskan pelukannya dan mengusap lembut wajah wanita itu, "semua orang pasti memiliki masa lalu dan aku nggak ada kemampuan untuk mencegahmu nggak memiliki cerita lama. Aku hanya kecewa karna kamu takut padaku, Tu," lanjut Dirga menatap wanita itu sendu.


Hati Dhatu mulai perih mendengarkan ungkapan kecewa lelaki itu. Ya, harusnya dirinya tak merasa takut dengan suaminya sendiri. Harusnya menghormati tak bisa disamakan dengan ketakutan. Mereka adalah partner hidup yang sudah selayaknya bekerja sama untuk menciptakan kebahagiaan mereka bersama. Bukan membiarkan rasa takut menjauhkan keduanya dari samanya visi yang mereka ikat dalam hubungan yang disebut dengan pernikahan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas. Aku memang salah dalam hal ini. Aku menyimpan semuanya sendiri dan berasumsi jika dengan seperti ini amarahmu nggak akan terpancing. Aku memang bodoh," ucap Dhatu penuh penyesalan.


Dirga menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya dan tersenyum manis pada istrinya itu. Manusia memang tempatnya kesalahan dan tak ada satu manusia pun yang tak berdosa. Pada hakikatnya, kebenaran dan kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata. Dirga sadar itu, maka dirinya sejak lama telah memaafkan Dhatu. Tanpa wanita itu minta, ia telah memaafkan semua kesalahan Dhatu. Hanya saja, dirinya butuh ruang sendiri untuk memikirkan banyak hal. Seperti cara membicarakan semuanya pada Dhatu, meyakinkan wanita itu untuk tak lagi merasa takut. Saling menghormati adalah kunci dan mereka tak perlu merasa ketakutan yang hanya akan memperparah sebuah hubungan.


"Kamu nggak bodoh. Hanya terlalu memikirkan perasaanku. Aku lebih suka kejujuran daripada kita memendam sesuatu yang akan menimbulkan kesalahpahaman." lelaki itu menyelipkan anak rambut Dhatu ke belakang telinganya.


"Aku janji, nggak akan melakukan kesalahan yang sama lagi, Mas," ucap Dhatu penuh penyesalan.


Dirga mengangguk. "Ya, aku percaya, Tu. Karna dia nggak bisa move on darimu, aku mau kamu nggak lagi menemuinya sendiri." Dirga menatap Dhatu lekat-lekat, "aku takut kamu meninggalkanku. Aku memang seegois ini, Tu. Aku tahu kalau nggak seharusnya bersikap posesif hanya karna cinta. Hanya saja, sulit mencegah perasaan ini, Tu. Kamu membuatku terjatuh sangat dalam," lanjut Dirga dengan suara bergetar, serat akan ketakutan yang mendominasi jiwanya.


Dirga menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Hanya Dhatu satu-satunya wanita yang begitu ia jaga sedemikian parah. Ingin rasanya ia memenjarakan wanita itu di penjara cintanya, menahan wanita itu dalam pusaran cinta agar tak ada siapapun yang bisa melihat ataupun ikutan jatuh hati pada istrinya yang cantik itu. Cintanya terlalu dalam dan dirinya terlalu takut kehilangan Dhatu. Jantungnya serasa nyeri tiap kali memikirkan hal itu.


Dirga kembali memeluk Dhatu, erat-erat, tubuh kecil wanita itu begitu pas di dalam dekapannya seakan wanita itu tercipta hanya untuknya. Bagai memang itulah yang takdir inginkan, mempertemukan, memperkenalkan, lalu menjebak keduanya dalam cinta yang tak bisa kandas walau badai menerpa.

__ADS_1


"Sekarang kita damai, ya?" Dirga membelai lembut rambut panjang Dhatu.


Dhatu mengangguk di dalam dekapan Dirga, senyumnya mengembang. Ia bahagua bukan main. Lelaki itu benar-benar sosok suami idaman, memaafkan semua kesalahannya dan kembali memanjakannya dengan cinta yang begitu besar. Menenggelamkannya dalam kehangatan cinta yang dipersembahkannya. Sungguh Dhatu jatuh hati pada lelaki yang disebutnya suami itu.


"Ya, kita damai," ucap Dhatu girang.


Keduanya saling tersenyum bahagia. Saling memiliki satu sama lain adalah hal yang membuat mereka merasa lengkap. Kebahagiaan sesederhana dekapan yang mampu menghangatkan hati keduanya. Kebahagiaan bagi mereka cukup sederhana, saling memiliki dan bergenggaman tangan.


Dirga melepaskan pelukannya, mempertipis jarak di antara wajah mereka, lalu mengecup lembut bibir Dhatu. Kecupan penuh kelembutan itu berubah kala Dirga melahap bibir Dhatu semakin rakus. Tangannya mengusap punggung wanita itu. Ia menyudahi ciuman mereka, kala melihat Dhatu yang tampak kewalahan mengikuti permainan bibirnya. Dirga menyatukan kening mereka dan tersenyum.


"Kamu harus dihukum," ucap lelaki itu sembari tersenyum penuh arti. Dhatu mengalungkan tanganya pada leher Dirga.


"Aku siap dihukum, Mas."

__ADS_1


Dirga kembali meniadakan jarak di antara wajah mereka. Kembali melahap bibir ranum Dhatu dan lidah keduanya saling beradu. Tangan Dirga membuka Daster Dhatu degan terburu-buru, Dhatu mengangkat tangannya, mempermudah lelaki itu memulai aksinya. Tangan menyelinap ke balik pakain dalam Dhatu, megusap dan memainkan gunung kembar wanita itu. Napas keduanya memburu. Tanpa melepaskan ciuman mereka, Dirga mengendong wanita itu. Kaki Dhatu melingkar pada pinggang Dirga. Ciuman mereka semakin menuntut. Dirga merebahkan tubuh Dhatu ke atas kasur dan mengambil tempat di atas wanita itu.


Dirga menjelajahi tubuh wanita itu dengan bibir dan lidahnya, memberikan sensasi nikmat yang membuat ya mengerang nikmat. Dirga yang melihat Dhatu sudah siap, segera memasuki wanita itu dan tubuh mereka bergerak seirama, menuju puncak kenikmatan yang begitu memabukkan. Cinta yang menyelimuti permainan mereka, membuat keduanya serasa terbang hingga ke surga kenikmatan.


__ADS_2