
Dhatu segera beranjak pergi tanpa mau bersusah oayah menunggu respon lebih lanjut dari Alvin. Tak ada lagi yang bisa mereka bicarakan. Toh, lelaki itu tak mau membuka hati dan matanya, tak mau belajar menerima apa yang telah mereka lepaskan. Tak akan ada lagi jalan untuk kembali, meski lelaki itu terus memaksa. Jatuh cinta mungkin lebih mudah daripada melupakannya. Akan tetapi, semua ada prosesnya. Dhatu pun bukan langsung sembuh, bisa kembali berdiri, dan menemukan cinta lain saat mereka baru berpisah. Semua ada proses dan tak ada yang instant.
Dhatu segera memeluk Dirga dari belakang begitu kembali ke dalam ruangan. Tubuh Dirga menegang sesaat, namun tak lama senyumnya terbit. Ia mengusap tangan Dhatu yang berada di lehernya.
"Kamu lama banget, Sayang?" tanya Dirga penasaran. Dhatu menyelinapkan wajahnya pada leher Dirga menghirup aroma tubuh yang begitu disukainya dalam-dalam. Ia merasa begitu beruntung. Keluar dari hubungan penuh racun bersama Alvin dan menemukan cinta lain yang membuatnya merasa sempurna.
"Kamu kenapa, Tu? Tumben-tumbenan mau mesra-mersraa gini di luar."
Dhatu segera melepaskan pelukannya dan kembali duduk di samping Dirga. Ia menatap manik mata lelaki itu dalam-dalam.Tak ada apa pun lagi yang ia inginkan di dunia ini selain lelaki di sisinya.
"Aku capek, Mas. Bisa kita segera pulang."
Dirga mengusap lembut wajah istrinya. "Nanti setelah Pak Alvin kembali, tadi dia bilang mau menemui tamunya sebentar. Nggak baik rasanya kalau kita pergi begitu aja setelah dijamu seramah ini." Dirga tersenyum pada istrinya, berharap wanita itu mau bersabar lebih lama lagi agar bisa berpamitan terlebih dahulu.
Dhatu mengangguk mengerti. Meski dirinya lelah, namun rasanya tak pantas jika mereka pergi begitu saja. Seluruh energinya seakan terkuras habis menghadapi Alvin yang tak bisa lagi mengerti akan keadaan mereka kini. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, namun hatinya pun merasakan hal yang sama. Dhatu tak ingin bersikap kejam layaknya orang yang tak lagi memiliki hati nurani. Hanya saja, terkadang kelembutan hanya akan dimanfaatkan orang lain dan membuat seseorang semakin terjerumus.
Tidak lama menunggu. Alvin kembali ke meja di mana keduanya menunggu. Ia tersenyum pada Dirga. "Maaf sekali, Pak. Tamu itu nggak mau menunggu karna sedang tergesa-gesa dan dia mau menyampaikan permintaannya langsung ke sana.Maaf sekali lagi karna sudah meninggalkan Bapak dan Ibu."
__ADS_1
Dirga menggeleng dan tersenyum maklum. "Santai saja, Pak. Saya tahu benar jika memang ada beberapa klien yang seperti itu. Toh kami sudah sangat dimanjakan dengan penyambutan Pak Alvin. Bisa merasakan masakan langsung pemilik restoran sebesar ini adalah kehormatan bagi kami."
Alvin tersenyum. "Sudah seharusnya saya memperlakukan klien seperti Pak Dirga yang mendatangkan banyak pesanan pada restoran kami dengan spesial."
"Makasih sekali lagi, namun tampaknya kami harus segera berpamitan," ucap Dirga melirik ke arah Dhatu, "semua pesanan telah kita selesainya dan hari udah semakin malam. Kami berdua juga baru pulang bekerja dan rasanya sudah lelah."
Alvin mengangguk mengerti. "Baik, tentu saja. Maaf sekali karna menahan Bapak dan Ibu, membuat kalian berdua yang sudah capek bekerja jadi semakin lelah."
Dirga menggeleng-geleng. "Bukan seperti itu maksudnya. Hanya saja, hari juga udah semakin malam."
Alvin tertawa kecil. "Ya, saya mengerti. Semoga Bapak dan Ibu bisa mendapatkan istirahat yang baik malam ini."
Dirga dan Dhatu bergenggaman tangan menunggalkan Alvin yang hanya bisa menatap sendu keduanya dari kejauhan. Ia tersenyum miris. Ia tak mau menerima semua kenyataan yang Dhatu sampaikan padanya. Dirinya masih belum bisa melepaskan perasaan yang begitu disukainya.
Menit demi menit telah berlalu. Sesampainya di rumah. Dhatu dan Dirga langsung membersihkan diri. Keduanya berbaring di tempat tidur sembari berpelukan, berbagi kehangatan dan juga kerinduan yang terasa menggebu-gebu. Keduanya berbagi cerita tentang kegiatan mereka masing-masing. Dirga yang hari ini bertemu dengan pemegang saham lainnya untuk membicarakan perkembangan bisnis dan mengatakan jika dirinya akan sibuk dalam beberapa hari ke depan. Ada kemungkinan lelaki itu akan pergi keluar kota untuk menghadiri event promosi tentang produk terbaru yang diluncurkan perusahaan mereka.
Bersama dengan Dirga dan saling bercerita sebelum tidur seperti ini membuat Dhatu merasa sangat bahagia. Dari lelaki itu pun Dhatu mempelajari banyak hal baru, seperti pekerjaan lelaki itu yang tak hanya sebatas menandatangani berkas-berkas namun turut menganalisa kemajuan perusahaan. Lelaki itu pun kerap memikirkan para bawahan dengan menanyakan Dhatu harapan apa yang diinginkan para staff dalam kesejahteraan. Dirga tak hanya seorang suami, namun juga atasan dan juga sahabat bagi Dhatu. Dhatu bisa membagi semua cerita yang dimilikinya pada Dirga tanpa ragu. Dhatu tersenyum, mungkin inilah saat yang tepat untuk menceritakan hal yang coba disembunyikannya beberapa hari inu.
__ADS_1
"Mas ..." panggil Dhatu yang meletakkan kepalanya pada dada bidang Dirga, sedang tangan lelaki itu memeluknya.
"Kenapa, Sayang?"
"Ada hal yang dari kemarin ingin kusampaikan padamu, tapi aku belum menemukan waktu yang tepat dan hari ini, aku mau memberitahukannya padamu."
Dirga menggeser tubuhnya dan membaliknya ke arah Dhatu. Ia menatap wanita itu penuh tanya. Memang beberapa hari ini, ia menemukan sesuatu yang ganjal dalam diri Dhatu. Wanita itu kerap menyimpan rahasia darinya. Dirga tersenyum dan mengusap lembut wajah Dhatu.
"Katakan aja, aku akan mencoba mengerti dan berusaha nggak marah jika hal yang ingin kamu sampaikan adalah sesuatu yang akan memancing amarahku jika mendengarnya."
Dhatu tersenyum. Sungguh, tak pernah lelah dirinya menyampaikan betapa beruntung dirinya memiliki Dirga sebagai suaminya. Lelaki itu bukan terkadang egois dan kekanak-kanakan, akan tetapi selalu memberikan yang terbaik untuk Dhatu.
"Sebenarnya ...." ada keraguan pada nada suara Dhatu, lebih tepatnya, ia tak tahu bagaimana memulai semua ceritanya tentang Alvin agar tak membuat Dirga salah paham dan tak mau mendengarkan kelanjutan kisah mereka yang telah lama usai. Apalagi Dhatu tahu jika Dirga adalah pencemburu berat.
Dirga tertawa, merasa lucu dan juga gemas menantikan cerita apa yang hendak Dhatu bagikan padanya.
"Ada apa sih, Sayang? Cerita aja, aku janji nggak bakalan marah sama kamu. Aku mulai yakin, kalau apa yang mau kamu sampaikan pasti akan membuatku marah."
__ADS_1
Dhatu tersenyum kikuk. Dirga terlalu mengerti dirinya. Jiwa mereka seakan telah menyatu dan tanpa banyak bicara, mampu saling mengerti keinginang masing-masing.
"Sebenarnya, Alvin adalah mantan pacarku, Mas," ucap Dhatu memberaikan diri menatap wajah suaminya yang mendadak kaku, tak berekspresi apa pun saat mendengarkan perkataannya barusan.