
Dirga segera memasukkan kembali tiket beserta voucher ke dalam amplop, lalu berjalan meninggalkan Dhatu. Dhatu menyusul dan mensejajarkan langkah dengan Dirga. Ia tahu, jika lelaki itu tengah kesal. Mungkin salahnya juga yang memperlihatkan keganjilan yang ia temukan.
Lestari duduk di sofa sembari menonton televisi begitu keduanya tiba di ruang keluarga. Terlalu asyik, hingga tak menyadari Dirga dan Dhatu yang berjalan mendekat. Dirga duduk di samping Lestari, menganggu fokus wanita paruh baya itu, sementara Dhatu lebih memilih berdiri di samping Dirga. Takut-takut lelaki itu akan menggila.
"Kalian udah selesai mandi. Mau makan sekarang? Mama masak tadi siang buat kalian. Daripada bosen, jadi Mama masak aja. Makan, yuk!" ucap wanita itu seraya hendak berdiri, namun Dirga mencegahnya dan memberikan kembali amplop ke tangan Lestari.
Wanita itu menatap Dirga bingung, melirik Dhatu, sedang Dhatu hanya bisa tersenyum kikuk. Harusnya ia tak mengikuti Dirga dan lebih baik mandi terlebih dahulu, daripada harus terjebak di antara perbincangan ibu dan anak itu.
Lestari kembali menatap Dirga. "Kok, dikembaliin?"
__ADS_1
"Kenapa seminggu, Ma? Perjanjiannya 'kan hanya dua hari." protes Dirga sembari menatap ibunya kesal.
Wanita paruh baya itu terkekeh pelan, mulai mengerti maksud putra semata wayangnya. Ia menarik tangan Dirga dan meletakkan amplop tadi ke telapak tangannya. "Dua hari mana cukup untuk liburan. Kalian 'kan belum bulan madu, jadi gunakan kesempatan ini," ucap Lestari sembari tersenyum polos, seakan merasa tak berdosa atas kekacauan yang disebabkannya.
"Aku dan Dhatu nggak bisa ninggalin pekerjaan begitu lama, Ma."
Lestari lagi-lagi tersenyum, senyum yang mampu membuat Dhatu bergidik ngeri. "Bukan hanya kamu aja yang bisa menggunakan kekuasaanmu, Ga. Mama udah minta Papa untuk mengatur izin cutimu dan Dhatu." wanita itu menggenggam tangan Dirga, "kamu fokus aja untuk memberikan cucu untuk kami," lanjut Lestari sembari melirik Dhatu, tersenyum menggoda pada Dhatu yang mendadak merasakan panas di kedua pipinya dan tersenyum kikuk guna menutupi rasa cemas bercampur malu yang menjalar ke penjuru hati.
"Jadi, ini maksud terselubung Mama?" Dirga menatap ibunya jengah, sedang yang ditatap tak terpengaruh. Wanita pruh baya itu malah mengangguk antusias, tak merasa bersalah karna niat terselubungnya ketahuan oleh Dirga.
__ADS_1
"Tentu saja. Lantas, apa yang mau kalian lakukan saat berbulan madu? Gunakan untuk fokus pada apa yang seharusnya kalian lakukan. Harusnya, itu nggak sulit. Mengingat kalian sudah kelihatan akrab dan nggak canggung. Atau ... jangan-jangan ..." wanita itu menatap Dirga dan Dhatu secara bergantian.
Dhatu segera menyambar amplop dari tangan Dirga. Ia tak lagi ingin mendengarkan percakapan yang membingungkan itu. "Kami akan pergi, Ma. Ayok, kita makan!"
Lestari yang baru sadar jika Dhatu belum berganti pakaian pun bertanya. "Kamu nggak mau mandi dulu?"
Dhatu menggeleng. "Nanti aja, Ma. Habis makan."
Dhatu memeluk lengan ibu mertuanya dan menuntun wanita itu ke meja makan, sedang Dirga menatap nanar tubuh kedua wanita yang berjalan menjauh. Ia tak habis pikir, apa yang salah dengan ibunya? Memaksa seakan nama tengah wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu. Dengan gusar Dirga berdiri dan menyusul kedua wanita yang sudah duduk di meja makan.
__ADS_1
Dhatu tersenyum kikuk. Dirga tahu, jika wanita itu sama gusarnya dengan dirinya. Ia duduk di sebelah Dhatu dan wanita itu dengan sigap menyiapkan makannya. Ketiganya mulai menyantap makan malam. Lestari sesekali memberikan ide-ide konyol bagi keduanya menghabiskan masa bulan madu, seperti mengunci diri di kamar selama seharian dan jangan terlalu lelah. Keduanya hanya bisa mengangguk-angguk, walau benak mereka menolak mati-matian.