Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Cinta Tak Harus Memiliki


__ADS_3

Dhatu dan Dirga tengah makan di ruangan lelaki itu. Dengan bekal yang teka disiapkan Dhatu pagi-pagi sekali, keduanya menyantap makan siang. Dirga meneliti wajah Dhatu yang sedari tadi terlihat sedih. Ia mengusap wajah wanita itu dengan lembut, Dhatu mengadahkan wajah dan tersenyum pada suaminya.


"Kenapa? Kok, kayaknya kamu nggak semangat? Apa karna nggak enak sama lelaki kemarin?" Dirga menatap wanita di hadapannya dengan tatapan meneliti.


Dhatu mengangguk pelan. "Aku merasa bersalah. Seharusnya, aku memberitahukannya lebih awal, agar nggak ada hati yang tersakiti."


Dirga berdecak sebal. "Semua itu bukan salahmu, Tu. Seharusnya juga dia bisa mengerti, jika cinta itu nggak bisa dipaksakan. Ada kalanya, kita harus menerima kenyataan, walau memang sulit."


Dhatu tersenyum tipis dan mengangguk mengerti. Ia tahu benar jika memang hati tak bisa dipaksakan, akan tetapi, apa Krisna mengerti akan hal itu? Rasa bersalah kian memenuhi setip relung hatinya. Ia mencoba tak memikirkan semua hal itu, namun tak bisa mencegah dirinya untuk tak memikirka tentang semuanya.


"Aku selalu menganggapnya sebagai kakak lelakiku, nggak pernah lebih. Aku nggak tahu kalau dia memiliki rasa seperti itu untukku."


Dirga tersenyum menenangkan. "Udahlah, Tu. Semuanya bukan salahmu. Makan ya, Sayang." Dhatu mengangguk mendengarkan permintaan lelaki itu dan melanjutkan kegiatn makannya.


"Kamu udah ngajuin surat resign?"


"Udah, Mas."


Dirga tersenyum. "Aku bermaksud mengadakan resepsi pernikahan kita lagi. Kali ini, kita akan mengundang teman dan rekan kerja. Aku mau semua orang tahu, kalau kamu adala milikku. Aku nggak mau orang menganggapmu buruk, Tu."

__ADS_1


Dhatu menyatukan kedua alis dan menatap Dirga heran. "Ngapain pakai cara seperti itu, Mas? Kamu hanya akan menghabiskan uang aja, Mas. Aku nggak mau," ucap Dhatu sembari menggeleng tak setuju.


Dirga mendesah pelan. "Aku nggak mau ada yang salah paham lagi. Memang aku yang awalnya salah karna berniat menyembunyikanmu dari dunia dan sekarang aku menyesalinya, Tu," ucap Dirga penuh penyesalan sembari menggenggam sebelah tangan Dhatu yang bebas.


Dhatu tersenyum. "Nggak ada yang perlu disesali, Mas. Yang terpenting kita bahagia dan saling mencintai. Ada cara lain untuk memperkenalkanku pada dunia."


Dirga mengangguk, menyerah pada Dhatu dan tak mau lagi berdebat. Apa yang Dhatu katakan ada benarnya.Toh mereka sudah menikah selama empat bulan, rasanya memang aneh jika harus melakukan resepsi lagi. Lagipula, selama ini ia tak memperdulikan kata orang, lalu mengapa kali ini dirinya mulai memikirkan apa yang akan orang katakan tentang mereka.


Jam makan siang telah berakhir dan Dhatu sudah kembali ke ruangannya sendiri sebelum jam makan siang benar-benar telah berakhir agar tak banyak orang yang mengetahui dirinya baru saja keluar dari ruangan Dirga. Dhatu mengarahkan pandangan ke pintu begitu Krisna masuk, ia mencoba tersenyum, namun diabaikan. Apa yang ia harapkan? Dirinya telah menyakiti hati lelaki itu dan terlalu naif rasanya jika ia berpikir lelaki itu masih akan bersikap sama seperti dulu lagi.


"Kalian lagi berantem?" tanya Silvy yang datang dari belakang Krisna. Ia menatap keduanya meneliti. Krisna tak merespon dan langsung duduk di tempatnya, sementara Dhatu tersenyum kikuk.


"Sudah ku bilang kalau Dhatu tak sepolos tampangnya," ucap Silvy dengan senyum mengejek, lalu wanita itu kembali duduk di tempatnya sendiri.


***


Krisna yang baru saja keluar dari pintu kamar mandi terkejut saat melihat Dirga begitu ia keluar. Ia berdehem, lalu hendak melanjutkan langkahnya namun terhenti saat mendengar Dirga memanggilnya.


"Namamu Krisna, bukan?"

__ADS_1


Krisna membalik tubuh. "Ada urusan apa Anda dengan saya."


"Bisa bicara sebentar?"


Dirga tak tahan melihat kesedihan di mata istrinya. Ia tahu, betapa berharganya lelaki itu untuk Dhatu. Dirinya yang tak lain adalah anak tunggal sama seperti Dhatu mengerti benar bagaimana bahagia mempunyai seseorang yang bisa diandalka layaknya saudara, sebagaimana ia mengandalkan Drew yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Memiliki seseorang yang selalu mendukung dan tinggal di sisimu saat semua orang me jauh adalah anugerah jadi Dirga bisa mengerti perasaan Dhatu.


Krisna tampak berpikir sesaa sebelum mengangguk setuju dan mengikuti Dirga yang berjalan lebih dahulu ke pintu darurat. Keduanya berpandangan.


"Saya mencintai Dhatu, saya tahu semua ini akan mengejutkanmu. Awalnya, kami menikah memang hanya karna perjodohan, tetapi setelah mengenalnya lebih dalam, saya jatuh cinta padanya." wajah tersenyum Dhatu sekilas terlintas di dalam benak Dirga membuat senyum itu menular padanya, "dia sangat istimewa. Saya nggak memintamu mengerti perasaan kami, tapi saya mau kamu nggak berpikir hal buruk tentangnya."


Krisna dapat melihat tatapan lelaki di hadapannya melembut begitu membicarakan tentang Dhatu. Perih di hati Krisna seakan tak mau pergi. Sesungguhnya, ia sudah merasa begitu kalah hari itu. Saat di mana ia melihat keduanya saling bertatapan penuh cinta. Dirinya merasa kerdil dan marah pada dirinya sendiri yang terlambat menyatakan cinta. Jika saja, ia menyatakan lebih dulu, maka semua ini tak 'kan mungkin terjadi.


"Anda begitu mincintainya?"


Dirga mengangguk penuh keyakinan. "Dengan sepenuh hati."


Krisna tersenyum tipis. Sebagai seorang lelaki, harusnya ia bisa menerima kekalahan dengan lapang dada. Melihat besarnya cinta yang mereka miliki membuat Krisna yakin tak ada celah bagi dirinya masuk ke dalam hati Dhatu. Memang salahnya sendiri yang terlalu menganggap gampang mengenai perasaan. Ia tak tahu, jika perasaan bisa serumit ini. Ia pikir, orang biasa seperti Dhatu dan dirinya akan menjalani percintaan yang tak serumit para orang kaya. Mereka akan saling mencintai, jalan-jalan, dan berbagi cerita dengan santainya tanpa memikirkan perbedaan yang mungkin akan membuat hubunga keduanya sulit me dapatkan restu. Namun sayang, kenyataan tak seindah dunia khayalannya.


Krisna menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Jaga dia dengan baik kalau Anda nggak mau saya merebutnya. Sekali saja saya melihatnya menangis, maka saya akan merebutnya dan nggak akan mengembalikannya pada Anda walau Anda terus memohon," ucap Krisna penuh pengancaman.

__ADS_1


Ya, ini saatnya ia menepikan rasa marahnya. Mungkin benar apanyang orang katakan, cinta tak harusnya memiliki. Perkataan yang bodoh dan tak masuk akal, namun kau akan menyadari jika perkataan itu benar saat melihat tawa bahagia membingkai wajah orang yang kau kasihi. Melihat matanya berbinar bahagia, membuatmu mampu mengorbankan apa pun, termasuk hatimu sendiri karnanya.


Dirga tersenyum. "Saya nggak akan pernah membuatnya menangis! Tidak lagi."


__ADS_2