
Keduanya duduk berhadapan dan terjebak dalam keheningan. Tak ada yang berusaha membuka pembicaraan, sedang Dhatu lebih banyak menunduk. Masih malu karna kejadian beberapa menit lalu. Keduanya bersantap makanan yang dipesankan Dirga dengan tak berselera, terlalu banyak tanya yang mengganggu benak keduanya.
Setelah teriakan frustrasi, Dirga langsung menghubungi ibunya, menyuarakan protes akan sikap jahil ibunya itu hingga membuat keadaan canggung di antara mereka. Dirga pikir, ibunya aka mengerti. Namun pemikirannya salah, wanita itu malah tertawa kencang dan bilang akan menitipkan pakaian yang lebih seksi lagi pada Abra, agar mereka berdua bisa segera memberinya cucu. Sungguh, lelucon yang tak lucu. Entah mengapa Dirga bisa mempunyai ibu seajaib Lestari?
"Soal tadi siang ... " Dhatu memecahkan keheningan di antara mereka.
Dirga mengadahkan wajah dan menatap Dhatu penuh tanya. Ia dapat melihat semburat merah jambu yang membuat wanita itu tampak mempesona. Kecanggungan dan juga cemas yang tak mau ditutupinya menambah rasa gemas Dirga pada wanita di hadapannya. Tak pernah ia merasa begitu ingin menyentuh pipi wanita lain seperti dirinya yang sangat ingin membelai lembut pipi Dhaty, mempertipis jarak di antara wajah mereka, dan mencicipi bibir Dhatu yang entah sejak kapan tampak begitu menggoda. Salahkan saja pemandangan indah yang sempat dilihatnya, hingga membuat otaknya meliar tanpa bisa dikendalikan.
Dhatu menjadi salah tingkah saat mengangkat wajah dan pandangan mereka saling bertemu. Ia kembali menunduk, tak berani menatap wajah lelaki itu. Dirga yang menyadari ketidaknyamanan Dhatu segera menoleh ke samping dan berdehem, berusaha membersihkan tenggorokannya yang terasa tercekat.
"Maaf, memang salahku juga. Kalau kamu nggak nyaman karna kejadian tadi, lebih baik kita pisah kamar."
Sesungguhnya, Dhatu ingin menyetujui saran lelaki itu, namun rasanya tak mungkin. Ia hanya akan membuat mereka berdua bermasalah. Dhatu menggeleng cepat.
"Nggak perlu, Mas. Sebenarnya ... kamu nggak salah karna pada kenyataannya, kamu adalah suamiku, yang sebenarnya memang berhak melihat tubuhku."
Dhatu mengigit kuat bibir bawahnya. Dasar bodoh! Berulangkali mengatai betapa bodohnya perkataannya barusan. Apa yang akan Dirga pikirkan nanti? Pasti lelaki itu akan mengiranya ingin menggoda Dirga dengan tubuhnya yang tak seberapa itu. Walau bukan itu maksud Dhatu.
"Aku pasti membuatmu nggak nyaman, tapi aku memang nggak bermaksud mengamati tubuhmu begitu lama."
Ya, Tuhan ... Dirga berteria frustrasi dalam hati. Menyesali perkataannya barusan. Mengapa ia harus mengatakan kata begitu lama, belum tentu wanita itu sadar jika ia tak mampu memalingkan matanya dari tubuh polos Dhatu.
__ADS_1
Dhatu mengangkat wajah, keduanya saling berpandangan, sedetik kemudian mereka merasakan panas yang menjalar pada kedua pipi. Panas dan baru kali ini keduanya merasa demikian.
"Lebih baik aku mandi," ucap Dirga tersenyum kikuk seraya berjalan meninggalkan Dhatu yang menatapnya bingung.
Dirga butuh air dingin untuk memadamkan hasrat yang tak seharusnya ia rasakan pada Dhatu. Ia perlu menjernihkan pikiran sebelum kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Kini, ia tak mampu lagi melihat Dhatu dengan cara yang sama. Pikiran dan hatinya dipenuhi dengan bayangan wanita itu, ia begitu tersiksa dengan kebersamaan mereka. Tak sekalipun ia pernah merasa begitu serba salah. Padahal, dirinya sangat mahir dalam hal pengendalian diri agar tak ada seorang pun yang mempertanyakan gaya kepemimpinannya, namun di hadapan Dhatu, dirinya menjadi lemah.
Dhatu menoleh pada makanan di meja yang masih tersisa banyak. Lagipula, setelah ia berganti pakaian, Dirga sudah mandi, lalu mengapa lelaki itu kembali membersihkan diri? Padahal penyejuk di kamar mereka tak masalah. Mengapa lelaki itu malah tampak kepanasan? Dhatu menggeleng-geleng, mencoba mengusir semua pemikirannya tentang Dirga.
Dhatu segera menghabiskan makanan dan membersihkan bagiannya. Ia takut Dirga masih ingin melanjutkan makan setelah mandi. Dhatu membongkar isi tasnya. Ia menarik napas panjang dan menghelanya perlahan saat melihat tiga potong pakaian tipis dengan warna dan desain yang berbeda, namun sama-sama akan membuat tubuhnya terekspos sempurna. Sungguh, Dhatu tak memerlukan pakaian itu karna tak ada apa pun di antara mereka. Ini bukan perjalanan bulan madu seperti pengantin baru pada umumnya. Ia tak bisa mengharapkan hal mustahil itu, takut untuk bermimpi terlalu tinggi.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Dhatu segera menyembunyikan pakaian tadi di balik pakaiannya yang lain. Jantungnya berpacu kencang, bagai pencuri yang ketahuan oleh Si pemilik rumah.
"Kamu ngapain, Tu?" tanya Dirga penasaran.
"Anu ... beresin baju." Dhatu segera menutup kembali kopernya dan duduk di tepi tempat tidur dengan cemas. Ia ingin tidur, akan tetapi terasa sulit karna kejadian tadi. Sama saja dirinya tak bisa beristirahat bila ada Dirga di dekatnya.
"Kamu mau tidur?"
Dhatu mengangguk, sedang Dirga berjalan ke arah nakas. Mengambil ponsel, dompet dan key card cadangan kamar mereka, lalu memasukkannya pada saku celananya.
"Aku mau keliling sebentar. Kamu tidur aja."
__ADS_1
Dhatu mengangguk. Ada perasaan lega dan juga bahagia menyelimuti hati Dhatu. Dirga tersenyum, melambaikan tangan dengan kaku, lalu berjalan meninggalkan wanita itu. Dirga tahu, jika Dhatu ingin beristirahat, namun kehadirannya di sana pasti membuat wanita itu tak nyaman. Dhatu tak mungkin mengusir atau mengatakan keinginannya, hingga Dirga yang harus keluar. Aneh, entah sejak kapan ia mulai menyadari dan mampu membaca sikap wanita itu. Keterbiasaan memang hal yang mengerikan, membuat kita terbiasa dengan kehadiran seseorang.
Dirga memutuskan untuk pergi ke kolam renang hotel dan menghabiskan waktu di restoran dekat sana. Pemandangan orang-orang yang berpasangan dan tampak mesra membuatnya iri. Ia teringat pada Kana dan segera mengambil ponsel untuk menghubungi wanita itu. Dirga tak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat melihat dua puluh panggilan tak terjawab dan lima puluh notif chat dari wanita itu, berisi pesan yang sama, menanyakan dimana keberadaannya dan juga apa yang tengah ia lakukan. Dirga menghela napas gusar, ia lupa mengabari Kana bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat. Kebiasaan tidak menyalakan suara ponsel, membuatnya diteror oleh kekasihnya.
Dirga segera menghubungi Kana. "Kamu kemana aja? Sama siapa? Lagi ngapain? Kenapa dari tadi susah banget dihubungi?" pertanyaan beruntun itu membuat kepala Dirga sakit, dulu padahal ia tak pernah merasa demikian.
"Maaf, Sayang. Aku tadi ketiduran waktu nyampe hotel."
Dirga dapat mendengar wanita itu menghela napas panjang. "Yang penting kamu selamat. Mas ... apa kamu bisa transfer uang sepuluh juta sekarang? Aku belum bayar uang sewa apartemen dan uang artikel ku belum juga cair-cair."
Dirga tersenyum. Selalu seperti ini jika berbicara dengan Kana. Wanita itu mencecar bukan karna khawatir, tapi membutuhkan bantuannya dan Dirga suka saat wanita itu bergantung padanya, namun sekarang terasa berbeda dan Dirga tak tahu apa.
"Mas ... kalau nggak bisa juga nggak pa-pa. Maaf aku selaku ngerepotin kamu," Kana terisak, membuyarkan seluruh keraguan Dirga.
"Nanti aku transfer ya, Sayang."
Wanita di seberang sana mengucapkan terimakasih, lalu panggilan segera terputus. Kana tak menghujaninya banyak tanya lagi padanya tentang; apa kegiatan, keberadaan, atau setidaknya perasaannya saat ini.
Apa dia hanya menggunakanku?
Baru kali ini tanya itu merasuki benaknya dan Dirga tak mau mencari tahu, asal wanintanya bahagia dan berkecukupan.
__ADS_1