Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Cinta Tak Bisa Dibagi


__ADS_3

Keduanya saling menatap dan bertukar senyum. Sekelebat rasa memenuhi relung hati, menjalar perlahan, dan membuat hati mereka berdesir hangat. Cinta terlalu sulit untuk dimengerti, hingga keduanya meragu. Apakah benar rasa itu telah hadir?


"Jadi ... apa boleh aku mencoba?" Dirga kembali bertanya saat tak menerima jawaban apa pun dari Dhatu.


Wanita itu terkejut dengan pertanyaan Dirga dan tak mampu mencari jawaban yang tepat, hingga lebih memilih bungkam. Salahkan saja hatinya yang tak mampu mengartikan sekelebat rasa yang mendominasi.


"Apa kamu benar-benar mencintai kekasihmu?" Dhatu menatap ke dalam manik mata Dirga, mencoba mencari kebenaran di sana. Cinta tak 'kan bisa terbagi, jika kau mampu membaginya, maka perasaan itu bukanlah cinta.


Dirga terdiam, meraba hati, namun tak mampu mencari tahu arti dari perasaan yang menyesakkan dada. Tak seharusnya ia berpaling pada Dhatu, tapi hatinya berdesir hangat setiap kali mereka bersama. Ia memang belum bisa memastikan rasa itu, namun ia ingin mencari tahu terlebih dahulu.


"Aku mencintai Kana," ucap Dirga pada akhirnya.


Dhatu tersenyum manis, berusaha menutupi pedih yang menyerang hatinya. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Dirga. Kini, ia tahu, hati memang tak bisa dipaksakan.


"Kamu hanya terbuai karna kebersamaan kita, hingga pandanganmu mengabur. Rasa dalam hatimu adalah semu. Ketika kamu berhadapan kembali dengan wanita itu, maka kamu nggak akan merasakan hal yang sama padaku. Memang begitu cara kerja hati, Mas," Dhatu mengambil jeda sebelum melanjutkan perkataannya, "kerap menipu."


Dirga terkesiap. Merasa tak setuju dengan perkataan Dhatu. Ia tak sebodoh itu, hingga bisa ditipu oleh hatinya sendiri.


"Berikan aku waktu. Aku akan mencari tahu perasaan ini."


Dhatu tersenyum untuk yang kesekian kalinya. "Nggak perlu terburu-buru mengartikan rasa. Kamu akan terjebak bila merasa diuber."


Dirga tersenyum tipis. Ia tak mau melakukan kesalahan seperti itu. Ia akan memberikan waktu bagi hatinya. Lagipula, perkataan Dhatu ada benarnya. Jika memang cintanya pada Kana nyata, maka tak 'kan semudah itu dirinya berpaling. Mungkin benar, dirinya terbuai dalam suasana kebersamaan mereka.


"Kita makan, yuk! Aku ingin, kita menikmati waktu ini. Sekarang. Tanpa banyak berpikir."

__ADS_1


Dhatu mengangguk setuju. Ia pun merasakan hal yang sama. Tak perlu menipu hati sendiri demi menikmati kebersamaan. Yang harus mereka lakukan adalah menikmati saat-saat kebersamaan yang akan segera berakhir.


Keduanya menyantap makan malam dengan sesekali bercerita. Dirga banyak bertanya tentang Dhatu, seakan ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Ia ingin mengenal wanita itu lebih dalam dan entah mengapa cerita yang dibagikan Dhatu membuat hatinya bahagia. Selama ini, hanya wanita itu yang berusaha mengenalnya, tanpa bertanya. Kini, dirinya ingin melakukan hal yang sama.


Kini, ia senang memperhatikan hal-hal kecil dari wanita di hadapannya. Senyum, tawa, dan juga cara wanita itu berbicara. Santai, tak ada yang berusaha ditutup-tutupi. Wanita itu selalu tampil apa adanya. Tak seperti Kana-nya yang selalu tampil anggun dan cantik, seakan terlihat bukan dirinya sendiri. Kana-nya terlihat tak membuka diri, dari bagaimana wanita itu bercerita, bermanja, dan sekarang Dirga tak tahu mengapa ia mulai membandingkan keduanya.


***


Fajar menyingsing, hari dan juga harapan baru bagi setiap insan yang bertemu dengannya. Mentari pagi menyambut hangatnya hari itu. Senyum Dhatu mengembang, menyaksikan keindahan yang Tuhan persembahan. Ingatan akan makan malam kemarin terus bermain di benaknya. Kelembutan dan juga perkataan lelaki itu, membuatnya merasa jika lelaki itu adalah dua orang yang berbeda.


Lingkaran pada perut mengejutkan Dhatu. Tubuhnya menegang sesaat ketika kepala lelaki itu berada di pundaknya. Ia pun tak mampu mencegah jantungnya yang berpacu liar. Tubuhnya menegang.


"Selamat pagi, Tu," bisik lelaki itu. Dhatu tersenyum kikuk. Rasanya, jantungnya akan segera meledak jika lelaki itu terus-terusan memperlakukannya selembut ini.


"Pa ... gi ... Mas," ucap Dhatu terbata, "mau sarapan?"


Dhatu mengangguk pelan. Ikut terbuai dalam dekapan Dirga yang tak hanya menghangatkan tubuh, namun turut menghangatkan hatinya. Bolehkah mereka terus-terusan seperti ini? Menetap di negeri dongeng dan tak pernah lagi kembali.


***


Keduanya bergenggaman tangan sembari bercerita santai. Lelaki muda yang tengah menunggu keduanya tak mampu menunjukkan keterkejutannya ketika melihat perubahan yang cukup besar dari sepasang pengantin baru yang dihantarnya kemarin. Wajah keduanya tampak begitu santai, tak terlihat terpaksa, malah menikmati kebersamaan. Tampaknya, rencana Lestari telah berhasil. Abra harus melaporkannya pada wanita paruh baya itu.


"Selamat pagi, Pak, Bu," sapa Abra begitu keduanya berdiri di hadapannya. Keduanya membalas saapan Abra.


"Kita akan memulai petualangan hari ini. Apa sudah siap?"

__ADS_1


Keduanya mengangguk serempak. Abra tersenyum, lalu menuntun keduanya menuju mobilnya yang terpakir tidak jauh dari pintu utama hotel.


Menit demi menit telah berlalu. Mereka telah tiba di pusat oleh-oleh sekaligus tempat wisata sengaja dimasukkan dalam agenda awal perjalanan mereka, agar keduanya bisa membeli oleh-oleh dan berfokus pada perjalanan setelah itu.


Wisatawan dapat menikmati pengalaman belanja berbeda dan terlengkao di Bali karna di tempat ini tak hanya mempersembahkan pusat perbelanjaan seperti pada umumnya, namun adanya konsep edukasi, hiburan, teknologi, dan budaya yang dilebur menjadi satu. Tempat yang membuat pengunjung betah berlama-lama.


Bangunan berbentuk keranjang dan konsep unik menjadi daya tarik tempat ini. Dirga dan Dhatu tengah mengantri di kasir guna membayar belanja mereka.


Dirga mengeryitkan kening saat melihat Dhatu tak menggunakan kartu yang diberikannya, ia mencegah kartu debit milik Dhatu yang hendak diberikannya pada kasir. Wanita itu terkejut dan menatap Dirga penuh tanya.


"Kartu yang kuberikan ke mana?" Tanya Dirga penasaran.


Dhatu menunjukkan kartu yang diselipkan di dompetnya. "Ada, kok."


"Terus kenapa nggak digunakan? Apa haram bagimu menggunakan uang suamimu sendiri?" Dirga mulai kesal. Jika Kana senang bukan main saat diminta menghamburkan dan menggunakan uangnya, wanita di sampingnya malah kebalikannya Kana.


"Aku ada uang sendiri. Ini juga belanjaan untuk keluarga dan teman-temanku."


Dirga mengeraskan rahang. "Keluargamu adalah keluargaku juga. Kau istriku!" Dirga segera mengembalikan kartu debit Dhatu, lalu mengulurkan kartunya untuk membayar semua belanjaan mereka.


Dhatu meringis melihat kemarahan Dirga, ia hanya bisa menunduk di samping lelaki itu. Dirga membawakan semua belanjaan mereka untuk disimpan ke dalam mobil, sedang dirinya berjalan di samping Dirga. Dirga bahkan mengabaikan permintaannya untuk membantu membawa barang belanjaan mereka. Dirinya merasa bersalah. Apa memamg sefatal itu kesalahannya? Ia hanya tak ingin menjadi beban bagi lelaki itu dan tak ingin dianggap memanfaatkan.


Abra menyambut keduanya dan menyimpan belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil, lalu Dirga menarik Dhatu untuk berkunjung ke lantai atas tempat itu, di mana mereka bisa berwisata di Kampung Langit. Wisata sky park terluas pertama di Pulau Dewata. Tempat di mana memiliki banyak spot foto yang indah dan juga instalasi seni yang memukau.


Dirga menghentikan langkahnya saat berada di tempat sepi. Ia menyudutkan punggung Dhatu pada tembok dan menatapnya tajam. Sungguh, wanita itu paling tahu cara membuatnya kesal. Ia tak mampu lagi menahan amarah karna semua sikap Dhatu yang berusaha mengabaikan status di antara mereka.

__ADS_1


"Kamu memang selalu berhasil membuatku kesal, Tu."


__ADS_2