Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Kita Hanya Orang Asing


__ADS_3

Dhatu berjalan gontai memasuki rumah, tak ada keinginannya untuk kembali ke tempat yang sama sekali tak menerima kedatangannya. Dhatu kini mengerti, keterpaksaan memang tak ada yang akan berakhir baik. Dhatu tersenyum tipis saat mendapati ruang tamu yang masih gelap gulita, menandakan lelaki itu belum kembali. Padahal, Dhatu sengaja kembali malam dengan menghabiskan waktu di mall seorang diri agar tak secara kebetulan bertemu ketika di rumah, namun usahanya seakan sia-sia. Jika tahu lelaki itu tak tepat waktu kembali, maka lebih baik dirinya langsung pulang dan beristirahat.


Dhatu menatap sedih kotak makan siang yang disiapkannya tampak tak tersentuh. Secarik kertas dekat kotak makan pun belum berubah posisi, lelaki itu benar-benar ingin mengabaikan keberadaannya. Dhatu meremas-remas kertas berisikan tulisan tangannya, lalu membuangnya ke tong sampah. Setelahnya, ia duduk di kursi makan dan membuka bekal yang seharusnya dibawa oleh Dirga tadi siang. Ia menatap sendu dua lauk di kotak kecil terpisah, dengan nasi yang sudah mendingin.


Dhatu menyuap makanan itu ke mulutnya, pada suapan pertama air matanya jatuh, air matanya mengalir semakin deras seiring dengan suapan makanan yang masuk ke mulutnya. Ia menangis tersedu bagai bocah kecil yang terjatuh dan terluka. Hatinya masih sama pedihnya. Mungkin tak 'kan pernah bisa membaik lagi. Ia mengusap air matanya dengan kasar karna bulir-bulir air itu mulai menyamarkan pandangannya, lalu kembali menyantap hasil tangannya dengan menangis.


Sejak awal pernikahan, hanya inilah yang bisa ia lakukan. Menangis seorang diri dan bersembunyi dalam kelamnya kehidupan pernikahan yang tak seindah kisah dongeng yang dulu sering dibacakan ibunya sebelum tidur. Tampak, kisah pangeran dan putri yang menikah, lalu bahagia untuk selamanya hanya terjadi di dunia dongeng saja. Nyatanya, tak semua pernikahan memberikan akhir bahagia untuk selamanya. Contoh saja pernikahannya. Hanya ada tangis di dalamnya.


Menit demi menit berlalu, Dhatu segera membersihkan bekas makannya dan kembali ke dalam kamar. Ia membersihkan diri dan tak berani untuk keluar lagi, tak ingin secara tak sengaja kembali bertemu dengan lelaki yang kerap kali menoreh luka untuk hatinya yang rapuh.


***


Di sisi lain, lelaki yang baru saja selesai meeting dengan vendor melalui sambungan video call, menyandarkan tubuh pada sandaran sofa. Sebagai CEO baru, banyak yang harus ia kerjakan, termasuk memperkenalkan diri pada semua kepala anak cabang perusahaan tempatnya bekerja. Dirinya pun harus menilai ulang vendor yang selama ini digunakan perusahaannya agar tahu kelayakkan vendor tersebut.


Ponsel yang bergetar di meja, membuatnya membuka mata, senyumnya mengembang begitu melihat nama wanita yang dicintainya yang terpampang pada layarnya.


"Kamu udah makan malam?" tanya wanita di seberang sana begitu Dirga mengatakan halo.


Lelaki itu tak kuasa menahan senyum saat mendengarkan suara merdu kekasihnya, sekelebat rindu mulai merasuki relung hatinya. Rasanya ingin cepat-cepat bertemu, memeluk tubuh mungil kekasihnya, dan merasakan kelembutan bibir wanita itu. Saat bersama Kana, Dirga melupakan semua kekacauan yang terjadi pada hidupnya akhir-akhir ini, wanita itu seakan spon yang dapat menyerap semua energi buruk di sekitarnya.


"Aku belum makan, Sayang. Kamu gimana?"


"Kebetulan, aku lagi di depan kantormu. Mau makan bareng?"


Dirga berdiri dan segera menyambar jas yang disampirkan di sandaran kursi kerjanya. "Aku nggak akan menolak," ucapnya seraya pergi meninggalkan ruang kerja.


Panggilan diakhiri begitu kekasihnya menyebutkan tempat dan waktu pertemuan yang telah mereka sepakati. Dengan jantung berdebat kencang dan rindu yang menggebu, Dirga segera berjalan di tempat di mana mobilnya terparkir, tak sabar ingin berjumpa pujaan hati yang sudah tak ditemuinya selama beberapa hari karna kesibukannya mengambil alih jabatan CEO.

__ADS_1


Menit demi menit berlalu, Dirga menyapu sekeliling restoran dan tersenyum saat retinanya menemukan gadis mungil dengan wajah cantik yang duduk di kursi samping kaca. Wanita bermata sipit itu menggerakkan tangan di udara ketika pandangan mata mereka bertemu. Dengan semangat Dirga mendekatinya.


"Udah lama menunggu?"


Wanita itu menggeleng. "Nggak juga." senyumnya seakan menyihir Dirga. "Udah kupesenin makanan kesukaan. Spagethi brulee panggang."


Dirga mengecup kening wanita itu sebelum mengambil tempat di kursi kosong depan Kana. "Makasih, Sayang," ucapnya begitu duduk.


"Pekerjaanmu tampak melelahkan."


Dirga tersenyum tipis. "Lumayan melelahkan. Apalagi papa dadakan memintaku pindah ke perusahaannya. Padahal, aku udah nyaman di tempatku bekerja dulu, walau cuma sebagai manager sales. Tapi, setidaknya semua pencapaian itu kudapatkan dengan kerja kerasku sendiri."


Kana menggenggam tangan Dirga yang berada di meja. "Itu artinya, papamu udah melihat potensimu, Ga. Gimana perusahaan sekarang?"


Pertanyaan wanita itu mengingatkan Dirga pada Dhatu. Kini ini baru sadar, mengapa papanya begitu memaksanya untuk segera resign dan menggantikan CEO perusahaan yang telah pensiun. Bukan karna pontensinya, namun ayahnya itu ingin membuatnya semakin dekat dengan Dhatu.


Dasar, Papa licik!


Dirga menggeleng. "Hanya teringat sesuatu."


"Apa itu?"


Dirga tersenyum, lalu menggeleng. "Bukan hal besar. Hanya tentang pekerjaan."


Senyum Kana kembali terukir di sudut bibirnya. "Jangan mikirin kerjaan mulu."


Dirga menggenggam tangan Kana yang mencengkram tangannya di meja, mendekatkan tangan wanita itu pada bibirnya, lalu mengecup punggung tangannya.

__ADS_1


"Sekarang, aku cuma mikirin kamu."


Senyum wanita itu melebar. "Gombal mulu."


Dirga menggeleng. "Itu kata hati, Sayang." Lelaki itu tak pernah bosan menatap wajah cantik wanita di hadapannya, "Apa kegiatanmu hari ini?"


"Hanya berkeliling mall. Melihat tas keluaran baru brand favoritku."


"Ada yang kamu sukai?"


Wanita itu mengangguk antusias. "Ada."


"Udah dibeli?"


Seketika wajah wanita itu berubah sedih, senyumnya menghilang. "Aku belum dapat bayaran dari artikel yang kutulis minggu lalu, jadi masih bokek."


Dirga menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan. "Kenapa harus nunggu bayaran yang belum pasti kapan, Sayang. Aku udah kasih kamu kartu kartu kredit biar bisa beli apa aja yang kamu mau. Dipakai aja, Sayang."


Wanita itu tersenyum tipis. "Bulan lalu, aku udah pakai banyak kartu kreditmu dan belum bayar. Aku nggak mau dikirain cewek matre."


Dirga tergelak pelan. "Nggak akan ada yang berani bilangin kamu begitu. Lagian 'kan memang aku yang nyuruh dan aku nggak pernah minta kamu bayar kembali."


Senyum indah kembali menghiasi wajah cantik wanita itu. "Makasih banyak ya, Sayang."


Dirga mengacak puncak kepala wanita itu. Semenit kemudian, makanan yang mereka pesan sudah datang dan ditata di meja. Keduanya menyantap makan malam dengan gembira. Obrolan santai dan juga tawa menghiasi kebersamaan mereka. Hanya bersama wanita itu, Dirga bisa merasa nyaman dan tak terbebani.


Di sisi lain, wanita yang berdiri di luar restoran hanya bisa terpaku menatap sedih ke arah sepasang manusia yang tampak bahagia di dalam sana. Menyantap makanan dan sesekali lelaki itu akan mengusap puncak kepala wanita di hadapannya. Hati wanita malah itu tersayat, pedih. Dengan cepat, ia membawa langkahnya menjauh, lagi-lagi tangisnya pecah.

__ADS_1


Merasa dikhianati walau tak ada cinta adalah hal yang konyol, namun ia tak dapat mencegah perih yang menguasai hati.


Jadi ... ini alasan yang membuatmu begitu membenci pernikahan kita.


__ADS_2