
Dhatu menghempaskan genggaman tangan Krisna, membuat lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya. Lelaki itu menatap Dhatu bersalah ketika melihatnya mengusap-usap pergelangan tangan. Ia meringis, ia tak mengerti mengapa bisa semarah itu melihat ada lelaki yang menyukai Dhatu. Apalagi lelaki itu jauh berbeda darinya secara status sosial, membuat merasa rendah diri dan juga ketakutan. Wanita mana yang tak menyukai pria beruang. Jika disuruh memilih, pasti setiap wanita akan memilih lelaki yang mantap secara finansial, bukan? Krisna merasa begitu kalah sebelum berjuang.
"Maaf, Tu. Entah apa yang merasukiku," ucap Krisna penuh penyesalan.
Dhatu memaksakan senyum. Ia tahu, lelaki itu hanya mau melindunginya. Lelaki itu tak mengetahui apa pun tentang mereka, sehingga tak heran jika dirinya segera menarik Dhatu menjauh. Lelaki itu pasti takut dipermainkan. Begitulah Krisna yang dikenalnya, kerap menjaganya dengan baik dan selalu melindunginya.
Dhatu teringat awal ia masuk ke kantor itu. Krisna membantu menutupi kesalahannya dan menjadi tameng bagi Dhatu atau saat Dhatu patah hati, Krisna membawanya berkeliling mall, nonton bioskop, dan juga menghabiskan es krim dalam jumlah banyak. Sikap lelaki itu yang kerap melindungi, membuatnya merasa aman di dekat lelaki itu. Dhatu merasa memiliki seorang kakak lelaki yang selalu siap menjadi tamengnya dan begitu dimanja oleh Krisna yang dewasa. Ia pun tak masalah jika karna kedekatan mereka, membuatnya memiliki banyak musuh. Dhatu nyaman bersama Krisna, hingga lebih memilih dibenci daripada menjauh.
"Nggak pa-pa, Mas. Aku tahu, kalau mamu hanya berusaha melindungiku," ucap Dhatu lembut, "tapi, lain kali jangan seperti itu. Apa lagi dia atasan kita, Mas."
"Seharusnya dia juga bersikap layaknya atasan, Tu. Bukan malah menggodamu," ucap Krisna penuh amarah.
Dhatu tersenyum miris. Andai ia bisa mengatakan yang sebenarnya pada Krisna, maka dirinya tak 'kan merasa serba salah. Melihat amarah di kedua mata Krisna membuat Dhatu yakin jika sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membicarakan semuanya pada Krisna. Dhatu akan memberitahukan semuanya pada Krisna agar tak membuat kesalahpahaman di antara mereka semakin besar.
"Pak Dirga bukan orang yang seperti itu, Mas. Kita nggak boleh menilai seseorang yang tak begitu kita kenal. Pemikiran negatif tentang seseorang hanya akan membuat otak kita tercemari dengan racun yang membuat kita membenci."
"Bagaimana kamu bisa tahu dia orang yang seperti apa?" Krisna berdecak sebal, "Pantas aja, kamu sering diminta ke ruangannya, semua itu dilakukannya karna dia menyukaimu. Orang seperti dia ngga cocok untuk orang seperti kita, Tu. Terlalu berbeda. Mereka akan menjadikan orang-orang rendah seperti kita hanya sebagai permainan." lanjutnya masih dengan amarah yang sama.
__ADS_1
Dhatu tak mau lagi merespon. Inilah pemikiran orang-orang yang memiliki status sosia sepertinya. Merasa Si kaya tak akan pernah pantas bersanding dengan Si Miskin. Si kaya akan mempermainkan Si Miskin. Sementara Si Miskin akan memporoti harta Si Kaya, pemikiran lumrah di masyarakat kita. Di mana perbedaan tidak bisa diterima dan dianggap tak pantas.
"Kita kembali ke ruangan yuk, Mas!"
Krisna menatap Dhatu meneliti. Ia tak tahu apa yang ada di pikiran wanita itu. Apakah wanita itu tersinggung dengan perkataannya yang begitu jelas menunjukkan jika mereka dan Dirga bagai langit dan bumi. Ketakutan merasuki setiap relung hati Krisna. Ingin jujur tentang perasaannya, namun ia takut akan semakin membuat Dhatu menjauh. Akan tetapi, melihat keberanian Dirga semakin membuat rasa takutnya menjadi-jadi.
"Tu ... lelaki seperti apa yang kamu sukai?"
Dhatu mengeryitkan kening. "Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"
Krisna tersenyum kikuk sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Hanya penasaran aja. Aku pikir, Pak Dirga pasti memiliki semua kriteria untuk disukai oleh seorang wanita. Dia tampan, kaya, dan memiliki posisi," ucap Krisna dengan suara yang tercekat. Mengatakan semua kelebihan saingannya membuatnya merasa begitu kerdil. Siapa dirinya hingga pantas bersaing dengan lelaki yang hampir sempurna seperti Dirga.
Senyum Krisna mengembang. Ia menggeleng-geleng. Ya, begitulah Dhatu yang dikenalnya, wanita itu tak 'kan mungkin terpikat hanya karna uang semata. Wanita itu pasti lebih memilih seseorang yang mencintainya dengan tulus, dibandingkan lelaki yang bergelimang harta, namun tak memiliki ketulusan. Bodoh memang, bagaimana bisa Krisna merasa takut akan hal yang tak perlu ia khawatirkan. Bagaimana bisa Krisna menyamakan Dhatu dengan kebanyakan wanita d luar sana, Dhatu berbeda, dan pribadinya lah yang membuat Krisna jatuh hati. Begitu melihat Dhatu untuk pertama kalinya, ia yakin, rasa itu adalah cinta. Krisna segera menyusul langkah Dhatu.
Menit demi menit telah berlalu. Jarum pendek. Sudah menunjuk ke angka lima. Seperti biasa, Dhatu akan membiarkan satu-persatu rekan kerjanya meninggalkan ruangan, sementara dirinya berpura-pura menyibukkan diri dengan laporan harian, agar memiliki alasa pulang paling akhir. Kini, dirinya tak lagi menunggu di mini market, keduanya sepakat untuk bertemu di parkiran khusus mobil Dirga saat kantor sudah mulai sepi.
"Kerjaanmu banyak banget, Tu?" pertanyaan lelaki di sampingnya menyadarkan Dhatu jika dirinya tidak sendirian di ruangan.
__ADS_1
Dhatu tersenyum kikuk. "Nggak kok, Mas. Iseng aja. Mas pulang duluan aja."
Bukannya merasa terusir, lelaki itu malah menempelkan dagu pada meja dan menatap Dhatu dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. Selalu bersama seperti ini membuat Krisna sadar, jika wanita itu adalah wanita tercantik yang pernah ia temui. Bibirnya yang mungil, hidung mancung, mata bulat bak boneka, dan juga senyum yang kerap menggetarkan hati.
"Ada sesuatu di wajahku?" tanya Dhatu sembar mengusap wajahnya. Tatapan Krisna yang sedari tadi melekat padanya membuat Dhatu menjadi salah tingkah.
Krisna tersenyum manis dan menggeleng. "Aku tungguin, ya. Udah lama kita nggak pernah keluar bareng. Kamu bawa motor?"
Dhatu menggeleng. "Nggak usah ditungguin, Mas. Mas pulang aja duluan. Aku jadi nggak tenang kalau ditungguin gini."
Krisna tertawa kecil. "Kayak sama siapa aja sih, Tu. Udah nyantai aja. Aku tungguin dan aku anterin pulang aja. Kamu nggak bawa motor, 'kan? Beberapa hari ini aku nggak pernah lihat motormu diparkiran."
Dhatu meringis. Sunggguh ia bingung harus mencari alasan apa lagi untuk menolak lelaki itu. Ia tak mungkin juga berbohong pada Dirga.
"Kenapa, Tu? Mau dianterin pulang kok bingung banget gitu. Padahal dulu seneng banget kalau mau aku anterin pulang?"
Dhatu tersenyum kikuk. Tentu saja keadaannya tak seperti dulu lagi. Ia telah bersuami dan tak lagi tinggal bersama kedua orangtuanya. Dhatu menark napas panjang dan menghelanya perlahan. Mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahu rahasianya pada Krisna. Krisna pasti bisa menjaga rahasia yang akan ia bagikan.
__ADS_1
"Sebenarnya, Mas. Aku ...."