
Aroma makanan yang tersaji di meja makan menggelitik indera penciuman Dirga, lelaki itu mempercepat langkah, lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dhatu tersenyum di dalam dekapan lelaki itu, sedang Dirga menumpukan kepalanya pada pundak kecil Dhatu, lalu menyelinapkan kepalanya pada leher jenjang wanita itu, menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam.
"Kamu ngapain, Sayang?"
"Nyiapin sarapan dan bekal makan siang buat kita," ucap Dhatu sembari tersenyum.
Dirga membalik tubuh wanita itu, lalu memeluknya erat, ia masih merindukan wanita itu. Tak berjumpa beberapa menit saja rasanya berat. Aneh memang, namun itu yang terjadi padanya. Dirga tak masalah disebut bucin dan tak malu mengakui cinta karna bersama wanita itu membuatnya sangat bahagia. Dirga melepaskan pelukan dan menatap ke dalam netra wanita pemilik hatinya itu. Jantungnya kerap berdebar kencang setiap kali mereka saling menatap, ia dapat melihat seluruh isi dunia pada kedua manik mata wanita itu. Betapa hebatnya sepasang mata, dapat mengucapkan banyak kata yang tak mampu diungkapkan bibir.
"Kamu akan makan siang di ruanganku lagi, 'kan?" Dirga menatap wanita di hadapannya penuh harap. Ia tak mau mereka kembali menjadi sepasang asing. Ia menyukai keadaan dan hubungan mereka yang kian membaik. Tak mau kembali ke titik awal, pada kenyataan di mana ada hal yang masih dirahasiakan di antara mereka.
"Apa kamu nggak takut orang-orang curiga? Apa kamu nggak masalah kalau orang mengira ada hubungan khusus di antara kita?" Dhatu meringis.
Bagaimana jika orang-orang mulai mencurigai Dirga yang kerap membawa staffnya makan bersama? Bagaimana jika karna kegiatan mereka akan ada kabar miring yang merusak reputasi lelaki itu di perusahaan. Dhatu tak ingin hal itu terjadi pada suaminya. Ia harus menjaga harga diri, aib, dan juga martabat suaminya, sebagaimana lelaki itu menjaga kehormatannya. Tak mengapa jika mereka harus berpura-pura tak kenal dan menjaga jarak, asalkan nama baik Dirga terjaga dengan baik.
Dirga tertawa kecil. "Nyatanya kan memang ada hubungan khusus di antara kita," ucap Dirga mengusap lembut wajah wanita itu, "apa aku harus merevisi datamu ke bagian HR?"
"Merevisi gimana?" Dhatu menatap lelaki itu penuh tanya.
"Statusmu sudah menikah, mengupdate data dengan memberikan surat nikah dan juga kartu keluarga kita."
Perkataan Dirga membuat jantung Dhatu berhenti berdetak dalam hitungan detik, lalu berdebar dengan liarnya. Hati Dhatu berdesir hangat. Apa itu artinya, Dirga tak ingin menyembunyikan hubungan di antara mereka? Lelaki itu ingin membuat semua orang tahu, jika mereka saling memiliki?
"Apa boleh seperti itu?"
Dirga lagi-lagi tertawa. "Tentu saja. Kamu 'kan istriku," Dirga mengecup kening Dhatu, "nanti biar aku yang urus. Setidaknya HR akan tahu status kita. Kalau perlu sekalian aja dibuat pengumuman, tapi apa kamu nggak masalah?"
Dhatu meringis. Tentu saja, dirinya akan menjadi tidak nyaman. Membayangkan tatapan kesal dan menjijikkan yang akan diberikan banyak orang padanya membuat nyalinya menciut. Tampaknya, bukan Dirga yang takut mengakui hubungan di antara mereka, melainkan sebaliknya. Tentu saja, dirinya yang tak lain adalah seorang bawahan yang akan mendapatkan cibiran lebih ganas dibanding Dirga.
__ADS_1
Dirga megusap kerutan yang mulai muncul dan menghiasi kening Dhatu. "Bukannya aku nggak mau mengatakan kepada seluruh dunia kalau kamu adalah milikku, Tu," ucap Dirga sembari menempelkan kening mereka, "aku memikirkannya dari sisimu. Apa kamu akan nyaman dengan resiko yang akan terjadi? Sekarang, bukanlah kemauan atau kepentinganku, Tu. Sekarang, kamu yang utama."
Dhatu tersenyum, lalu memeluk tubuh Dirga. Ia bahagia bukan main, lelaki itu tak hanya memikirkan dirinya sendiri, namun menjadikan Dhatu sebagai prioritasnya. Bagai mimpi yang menjadi nyata, dalam mimpi sekalipun, Dhatu tak berani membayangkan jika suatu saat mereka bisa saling mencintai seperti saa ini.
"Beri aku waktu untuk berpikir, Mas. Nanti jika sudah siap, aku yang akan meng-update data ke bagian HR." Dhatu melepaskan pelukan mereka, "boleh, 'kan?"
Dirga tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Dhatu. "Konyol ... tentu aja boleh. Ambil waktu sebanyak yang kamu perlukan."
Keduanya kembali berpelukan. Dirga berulang kali mengecup puncak kepala Dhatu penuh kasih. Semuanya sempurna. Menemukan Dhatu begitu membuka mata, bersantap bersama, membicarakan banyak hal layaknya pasangan normal, dan semua itu membuat Dirga merasa hidupnya telah lengkap
"Sepertinya, kita harus cuti lagi, Tu."
Dhatu mengerucutkan bibir, lalu memukul pelan dada bidang Dirga. "Lama-lama aku bisa dipecat, Mas."
"Bagus kalau begitu. Kamu bisa menjadi asisten permanentku," ucap Dirga sembari tertawa.
***
Krisna menatap Dhatu penuh tanya, begitu wanita itu duduk di bangkunya. Banyak mata yang menatapnya heran, membuat Dhatu menjadi salah tingkah. Apa ada yang aneh dari penampilannya? Ia memanut diri pada kaca kecil dekat layar komputer dan menggeleng. Penampilannya masih sama seperti sebelumnya, rambut yang dijepit menggunakan jepitan kecil dan juga make up natural yang membuat wajahnya lebih segar seperti hari biasanya.
Dhatu menoleh pada Krisna dan bertanya. "Apa ada yang salah dengan penampilanku, Mas?"
Krisna menggeleng cepat. "Aku dengar kamu dirawat di luar kota. Aku mengkhawatirkanmu, tapi nggak bisa menjenguk dan hari ini kamu hadir. Kamu ... seperti ada yang berbeda," ucap Krisna meneliti wajah Dhatu.
Dhatu tersenyum kikuk dan mengusap wajahnya. "Apanya yang berbeda?"
Krisna mengendikkan bahu. "Entahlah. Lebih cantik dan segar," ucapnya sembari tersenyum, "kekhawtiranku seakan sia-sia begitu melihat wajahmu hari ini. Hapemu nggak bisa dihubungi sama sekali."
__ADS_1
Dhatu meringis. "Maaf, Mas. Aku nggak bermaksud membuatmu khawatir. Selama dirawat, aku memang nggak megang hape dan saudaraku menyimpankannya untukku."
Krisna mengangguk mengerti. "Yang penting kamu udah sehat," ucap lelaki itu senang, "makan siang aku traktir."
Dhatu menggeleng cepat. Ia tak mungkin bisa bersama Krisna karna telah berjanji untuk makan siang bersama Dirga, namun alasan apa yang bisa digunakannya?
"Kenapa? Udah ada janji?" Krisna menunjukkan wajah kecewa yang membuat Dhatu serba salah.
"Iya, Mas ... maaf ..."
Krisna tersenyum tipis dan mengangguk mengerti. "Nggak pa-pa. Mungkin lain kali."
Keduanya saling bertukar senyum. Pandangan Dhatu teralihkan pada ponsel yang masih ada di dalam tas. Ia cepat-cepat mengubah dering menjadi getar dan membaca pesan masuk dari suaminya, Dirga.
"Maaf, aku nggak bisa makan siang bersamamu."
Dhatu tersenyum tipis, lalu menjawab pesan lelaki itu dengan satu kata 'ok'. Ia tak tahu mengapa tiba-tiba Dirga membatalkan rencana mereka tanpa memberitahukan alasannya. Padahal tadi pagi semuanya masih baik-baik aja.
"Kenapa, Tu?"
Pertanyaan Krisna membawa Dhatu kembali ke alam nyata. Dhatu tersenyum dan menggeleng.
"Nggak pa-pa, Mas. Apa tawaran makan siang gratisnya masih berlaku?"
Krisna mengngguk antusias. "Tentu aja."
"Ya udah, nanti kita makan bareng."
__ADS_1
Keduanya berbagi senyum, lalu memulai pekerjaan mereka. Dhatu kembali membaca pesan Dirga. Ia menarik napas panjang dan menghelanya. Kenapa tiba-tiba lelaki itu membatalkan rencana mereka? Pertanyaan itu masih menganggu benaknya.