Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Yang Benar Saja?


__ADS_3

Lestari menyantap masakan Dhatu dengan lahap, Dhatu yang menatapnya menjadi senang. Ia melirik ke samping dan menghela napas panjang ketika melihat Dirga yang masih tak mau menyentuh sepiring nasi goreng di depannya. Lelaki itu tampak sibuk dengan ponsel di tangan, mengetikkan sesuatu di sana yang membuat kerutan mulai muncul menghiasi keningnya. Lestari yang menyadari tatapan Dhatu segera meletakkan kembali alat makannya.


"Kenapa nggak makan, Ga? Masakan Dhatu enak banget loh."


"Aku lagi ada kerjaan dikit, Ma."


"Pekerjaan bisa menunggu, Ga. Lagian, bentar lagi kamu bakalan ke kantor dan kamu bisa melanjutkannya di sana. Makan dulu," ucap Lestari tak ingin dibantah.


Mau tak mau Dirga meletakkan ponsel di samping piring, lalu segera menyuap nasi goreng buatan Dhatu ke dalam mulutnya. Ia berhenti sesaat merasakan kelezatan masakan Dhatu. Ini pertama kalinya, ia merasakan masakan wanita itu. Padahal, selama ini Dhatu selalu menyiapkan sarapan dan juga makan siang baginya. Sayang sekali, kebencian tak membiarkannya mencicipi masakan wanita itu. Sekarang ia merasa sedikit menyesal karna lebih memilih masakan resto dibanding masakan rumahan yang sebenarnya lebih ia sukai. Apalagi masakan Dhatu sesua dengan selera lidahnya.


"Kamu kayak nggak pernah makan masakan Dhatu aja, Ga." wanita paruh baya itu menatap Dirga meneliti, Dirga gelagapan. Ibunya memang pengamat yang baik.


"Mungkin karna hari ini nasi gorengnya lebih pedes dari biasanya, Ma. Makanya Mas Dirga jadi bengong sesaat."

__ADS_1


Lestari mengangguk-angguk pelan. "Dirga itu suka makan pedes. Mungkin ini pedesnya pas. Ya, Ga?"


Dirga mengangguk. "Iya, Ma." Dirga menoleh ke arah Dhatu, "Biasanya nggak sepedes ini, Sayang. Lain kali, masakin yang pedesnya begini ya."


Dhatu tak biasa mendengar kata sayang yang keluar dari mulut lelaki itu, hingga dirinya terpaku sesaat, namun hanya sebentar karna kini senyum menghiasi wajah manisnya. "Aku nggak tau kalau Mas suka pedes." Dhatu menoleh ke arah Lestari, takut terjebak semakin dalam di sandiwara yang lelaki itu ciptakan, "Mas Dirga nggak pernah komplain dengan apa aja yang kumasak, Ma. Jadi aku nggak tau."


Lestari tertawa kecil. "Mama paham. Kalian ini masih menjalani masa perkenalan. Jadi, pelan-pelan aja. Waktu kalian masih panjang."


"Kalian pergi kerjanya bareng, 'kan?"


Jantung keduanya berhenti berdetak dalam hitungan detik, lalu mereka saling menatap. Keduanya seakan lupa, jika mereka bekerja di tempat yang sama dan akan aneh jika mereka pergi masing-masing. Walau pernikahan keduanya diadakan dengan cara tertutup, Lestari tak pernah menginginkan pernikahan keduanya menjadi rahasia.


"Selama ini kalian pergi sendiri-sendiri, ya?" tanya Lestari saat tak menerima respon apa pun dari sepasang manusia di hadapannya.

__ADS_1


Dengan cepat keduanya menggeleng sembari menggerak-gerakkan tangan di udara.


"Kami selalu pergi bareng kok, Ma. Hanya saja, terkadang Dhatu pergi duluan karna nggak mau terjebak macet, jadi lebih enak ke kantor naik motor, Ma. Dhatu nggak mau sering telat."


"Loh ... nggak bisa. Papa minta Dirga bekerja di kantor yang sama dengan kamu itu kan biar kalian bisa pergi bersama setiap harinya," ucap Lestari tak setuju, "kalau begitu, mulai besok, Dirga yang harus lebih pagian biar Dhatu nggak telat."


Keputusan sepihak telah dibuat, membuat keduanya kembali saling memandang. Ingin memberontak, namun tak bisa karna kini wanita paruh baya itu menatap mereka tajam secara bergantian.


Nggak mungkin, aku turun dari mobil CEO, 'kan? Dhatu mendadak stress mendengar titah ibu mertuanya itu, ia melirik ke arah Dirga, namun lelaki itu tampak tak bisa membantu sama sekali.


"Aku usahakan, Ma."


Selesai sudah. Mereka harus mencari strategi. Dhatu tak ingin menjadi bahan perbincangan jika ada yang menangkap basah mereka datang ke kantor bersama.

__ADS_1


__ADS_2