Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Kenyataan Memang Selalu Pahit


__ADS_3

Lama keduanya saling berpandangan, mencoba menerka-nerka apa yang tersisa dari mereka yang masih patut untuk dibicarakan. Semua kenangan indah yang tergantikan pahitnya kepingan kisah masa lalu, atau cerita yang telah usai dan tak lagi ingin dibuka kembali? Tak ada yang bisa dibicarakan lagi tentang hati, semua rasa telah mati. Bahkan kenangan indah sekalipun tak mampu membangkitkan rasa itu kembali.


"Nggak ada yang bisa kita bicarakan lagi, Vin," Dhatu memecahkan keheningan di antara mereka, "kamu harus bisa menerima kenyataan yang ada di antara kita. Semuanya telah berakhir. Nggak ada yang bisa kamu perjuangkan lagi, karna semuanya udah sangat terlambat. Kamu nggak bisa memaksa seseorang tetap berada dalam lingkup waktu yang sama sepertimu," lanjut Dhatu menatap lelaki di hadapannya dengan penuh amarah.


Mereka memang telah menghabiskan banyak waktu bersama, mengukir cerita indah yang menghanyutkan, akan tetapi tak seharusnya semua hal itu membuat keduanya tak layak untuk menemukan kebahagiaan. Hidup harus terus berlanjut, siap tak siap, kita harus menerima kenyataan.


"Semudah itu kamu menghapus semuanya, Tu," tangan lelaki itu terulur hendak menyentuh wajah Dhatu. Reflek Dhatu mundur dan menjaga jaraknya dari pria di hadapannya. Lelaki itu tersenyum tipis menyaksikan keenganan Dhatu untuk disentuh olehnya. Separah itukah hubungan di antara mereka, hingga tak ada seberkas perasaan yang tersisa bagi hatinya yang rapuh?


"Dulu, kamu pernah bilang kalau kita akan menua bersama. Menatap matahari berpulang, bergenggaman tangan selamanya, dan berdua dalam cinta," lelaki itu tersenyum kecut, "lalu mengapa semua janji-janji yang pernah dibuat itu dengan mudah kamu patahkan? Kamu meninggalkanku dalam kesendirian," lanjut lelaki itu menatap Dhatu lekat.


Dhatu tersenyum miris. "Aku udah memberimu banyak kesempatan, Vin. Aku memberimu banyak tanda-tanda, tapi kamu selalu beranjak pergi. Saat aku mengulurkan tangan, kamu nggak pernah mau menerima tanganku. Kamu tetap pergi meski aku memintamu untuk tetap tinggal."

__ADS_1


"Kamu nggak pernah sekalipun memberi aba-aba, Tu!" suara lelaki itu meninggi, tak mampu meredam amarah yang mulai menjalar ke penjuru hati. Tak lagi bisa menyangkal jika keterlambatan di antara mereka telah menyayat hatinya.


Dhatu tertawa kecil. "Kamu lupa, aku pernah memintamu tetap tinggal saat ibumu menarikmu untuk pergi meninggalkanku? Atau saat teman-temanmu menghina kemiskinanku karna gaya berpakaianku yang nggak modis, kamu nggak membela dan hanya diam melihatki dihina," ucap Dhatu sengan suara bergetar.


Dirinya bukan orang yang mudah menyerah dan selalu menyerahkan seluruh hatinya sata mencintai seseorang. Ia selalu melakukan semua yang terbaik yang ia bisa agar cinta yang ia miliki mampu bertahan untuk selamanya. Dhatu tak akan runtuh walau dipukul berkali-kali. Hinaan yang diterimanya hampir setiap pertemuan keluarga lelaki itu, tak membuat dirinya merasa rendah. Akan tetapi sikap tak acuh lelaki itu yang pada akhirnya membuat Dhatu sadar jika memang tak pernah ada cinta di antara mereka. Hanya ketergantungan yang tercipta dari keterbiasaan. Tak ada gunanya berjuang seorang diri. Pada akhirnya, sekuat apa pun Dhatu, ia memilih untuk menyerah dan me jauh dari semua rasa sakit yang tercipta karna perbedaan yang begitu kental di antara mereka.


Alvin terdiam. Lidahnya terasa kelu. Dirinya yakin, jika cintanya cukup dalam dan tak mungkin ia tega melihat wanita yang dicintainya terluka sebegitu parahnya. Apa memang ada yang salah dengan ingatannya? Alvin akan selalu membela Dhatu. Ia tak menyerah. Buktinya, selepas teman-temannya membicarakan pakaian Dhatu, keesokan harinya ia mengajak wanita itu berbelanja, namun Dhatu yang menolaknya mentah-mentah. Bahkan pakaian yang dihadiahkannya tak pernah dikenakan oleh Dhatu. Jadi ... siapa yang bersalah di sini?


"Kamu salah mengingatnya, Tu. Apa yang terjadi tidan seperti itu. Setidaknya, semuanya tampak berbeda dengan apa yang ada di dalam ingatanku."


"Saat Mama menarikku, aku mengikutinya agar dia nggak lagi marah padamu. Di dalam perjalanan, aku menceritakan hal baik tentangmu. Aku berusaha membuatmu diterima, Tu." Alvin menatap Dhatu sendu, "di dalam ingatanku, semua tentang kita adalah perjuangan dan kini aku udah cukup mapan. Aku mandiri dan perasaanku masih sama. Kembalilah dan aku akan memberikan semua yang terbaik untukmu."

__ADS_1


Dhatu menatap sepasang mata di hadapannya dengan tatapan meneliti. Persis seperti matanya dulu. Si bodoh yang tak mengerti tentang cinta walau mengucapkan kata cinta berkali-kali. Memang cinta tak selalu tentang kebahagiaan, akan tetapi terus-terusan merasa rendah dan juga bodoh, tak juga pantas disebut cinta.


"Inilah yang membuatmu tersiksa saat bersamamu, Vin." Dhatu menatap lelaki penuh amarah, "semuanya selalu tentang kamu lagi dan lagi. Hanya kamu, hingga aku merasa diabaikan. Kamu Si suci yang selalu benar, sedang aku hanyalah seorang pendosa yang selalu salah. Hentikan semua kebodohan ini karna yang namanya cinta nggak akan sanggup menyakiti seperti ini, Vin Kamu hanya terobsesi pada masa lalu yang nggak bisa kita kembalikan lagi. Nggak ada jalan bagi kita memperbaiki apa yang telah hancur berkeping-keping."


Dengan cepat dan tanpa aba-aba, Alvin menarik tangan Dhatu ke dalam genggamannya. Ia menatap ke dalam netra Dhatu, berusaha menyakinkan wanita itu akan perasaannya yang tak pernah mati walau sudah berusaha dibunuhnya berkali-kali. Rasa itu selalu tumbuh dan berkembang, menjadi alasannya tetap hidup dan kerja kerasnya. Tak ada gunanya semua hasil yang dicapainya hari ini, bila wanita itu tak lagi berada di sisinya. Ia hanya menginginkan mereka seperti dulu lagi, mengapa begitu sulit membuat Dhatu mengerti?


Dhatu menghempaskan tangan Alvin dengan kasar, napasnya memburu karna amarah yang semakin meningkat karna kegilaan lelaki itu yang berusaha memutarbalikkan waktu. Ia tak suka lekaki itu yang tak lagi bisa berpikir jernih. Tak harusnya lelaki itu terobsesi dengan semua kenangan yang telah usai. Waktu adalah hal yang sangat berharga, tak bisa kita dapatkan kembali setelah kehilangannya. Andai saja Alvin menyadari semua itu. Mungkin, dirinya pun bisa menemukan kebahagiaan yang sama seperti Dhatu.


"Aku nggak bermaksud bilang kalau aku selalu benar, Tu," suara lelaki itu bergetar dan air matanya mulai jatuh membasahi pipi, "hatiku sakit banget, Tu. Sesak bukan main karna rasa yang menyiksa ini. Aku mati-matian bertahan atas semua rasa sakit, dan kamu tampak tak lagi bisa terjangkau. Fakta itu, membuat hatiku semakin hancur berkeping-keping. Katakan padaku, apa yang harus kulakukan?"


Keduanya bertatapan, meraba hati yang tak lagi memiliki getaran yang sama. Mungkin memang melupakan bukanlah hal yang mudah. Dhatu pun demikian. Bedanya, ia telah melewati masa kritis itu.

__ADS_1


"Buka matamu dan terimalah kenyataan yang ada, Vin. Jika tak ada lagi cinta di antara kita," ucap Dhatu tegas.


Dirinya tak mau memberi harapan palsu demi mendamaikan hati lelaki itu. Tak juga ingin mengiba walau lelaki itu tampak hancur. Biarlah dikatakan kejam. Mungkin inilah satu-satunya cara untuk membangunkan lelaki itu dari tidur panjangnya. Inilah saatnya untuk bangkit dan menerima kenyataan di depan mata. Kau tak bisa selamanya berlari dari kenyataan, bukan?


__ADS_2