
Tempat itu ramah dikunjungi saa akhir oekan seperti ini. Banyak pedagang camilan dan juga berbagai minuman yang menjajakan jualan mereka di sana. Kerumunan orang ataupun beberapa pasang manusia pun memenuhi tempat itu.
"Menurutmu, apa memang selamanya itu nyata?" wanita di sampingnya menatap lurus ke depan. Terjebak dalam pemandangan di hadapaannya.
"Aku pikir, nggak akan ada sepasang manusia yang betah bersama untuk selamanya. Semua ilusi itu tercipta karna cerita dongeng pengantar tidur semata," wanita itu kembali berucap. Kali ini, ia memejamkan matanya, mencoba mencerna perkataannya barusan. Mungkin memang tak ada yang namanya selamanya di dalam kehidupan nyata ini. Orang bisa saja merasa bosan. Buktinya, beberapa pasangan yang dimabuk cinta, memutuskan bercerai begitu mereka menikah, seakan tak ada perasaan abadi yang bisa terus tersemayam di dalam hati seseorang.
Danau buatan itu tampak indah dan juga bersih, pepohonan rindang membuat tempat itu menjadi pilihan banyak orang untuk menghabiskan waktu untuk bersantai. Beberapa muda-mudi pun tampak duduk bermesraan di tepi danau sembari menikmati camilan dan juga minuman dingin, seperti kedua pasangan muda yang kini duduk bersebelahan dengan kepala Si gadis yang menyandar pada bahu Si pria.
Lelaki itu tersenyum mendengarkan pertanyaan wanitanya. Ia menempelkan kepalanya dengan kepala wanita itu. Lelaki itu menggenggam erat tangan kekasihnya.
"Kita akan menciptakan kata selamanya itu, Tu. Aku akan mencintaimu selamanya," ucap lelaki itu dengan tulus.
Dhatu mendongakkan wajahnya dan pandangan mereka saling bertemu dan keduanya bertukar senyum. Ya, lelaki itu yakin, bersama Dhatu perasaannya akan abadi dan tak mungkin bisa berubah. Wanita itu membuatnya jatuh begitu dalam dan rasanya tak mungkin lagi bisa berpaling. Melihat wanita lain pun rasanya ia tak berselera. Aneh, namun matanya terpaut pada sosok Dhatu seorang. Wanita cantik dengan senyum yang mampu menggetarkan hatinya. Hatinya menghanga setiap kali mereka bersama dan karna semua itu, Alvin yakin jika kata selamanya bukanlah hal yang mustahil.
__ADS_1
Setibanya di villa keluarganya, Alvin segera membopong tubuh Dhatu dan merebahkannya di kasur. Ia mondar-mandir di hadapan tempat tidur sembari menatap Dhatu yang belum juga tersadar. Berbagai rencana telah disusunnya di dalam benaknya. Ia tak peduli dengan apa pun selain mendapatkan wanita itu kembali dalam hidupnya. Dhatu yang telah menjebaknya ke dalam perasaan sulit itu, maka ia tak kan membiarkan wanita itu lepas begitu saja, meninggalkan dirinya dan juga cintanya yang abadi. Keabadian hanya bisa tercipta bila mereka bersama, namun wanita itu yang meninggalkannya. Dengan tega dan kejam wanita itu meninggalkam dirinya dalam cinta yang tak bisa ia akhiri.
Alvin mengikat tangan dan juga kaki Dhatu, tak ingin wanita itu terbangun, mendadak panik, dan berusaha kabur meninggalkannya. Alvin akan meyakinkan Dhatu untuk kembali bersamanya. Ia akan menerima wanita itu apa adanya, termasuk menerima bayi yang Dhatu kandung seperti anaknya sendiri. Ya, memang sedalam itu cinta yang ia rasakan untuk Dhatu. Ia rela menerima segala kekurangan wanita itu, selama wanita itu berjanji untuk tetap bersamnya. Namun, apabila wanita itu tak juga sadar, maka tak ada jalan lain agar mereka bersama selain kematian. Mati pun terdengar indah jika Dhatu ikut bersamanya ke alam baka. Kematian terdengar bagi solusi terakhir untuk menyatukan cinta mereka.
Alvin yang sudah mengikat kedua tangan dan kaki Dhatu mengambil tempat di sisi wanita itu, merebahkan tubuhnya di sana dan memeluk Dhatu erat-erat. Ia menikmati aroma tubuh Dhatu yang begitu disukainya. Masih sama seperti dulu, aroma strawberry tercium dari rambut wanita itu. Kesukaam wanita itu tak berubah, namun mengapa cintanya bisa berubah? Semuanya pasti hanyalah dusta untuk menutupi perasaan wanita itu yang sebenarnya. Ya, cinta Dhatu padanya pasti masih sama seperti dulu. Telah menjadi keterbiasaaan, sama sepertinya. Rasanya, tidak mungkin wanita itu meninggalkan rasa yang sangat indah begitu saja. Meninggalkannya dalam pedih seorang diri. Ya, Dhatu masih memiliki rasa yang sama.
Alvin mengecup puncak kepala Dhatu, kening, higung, lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Dhatu yang terkatup. Ia melahap bibir wanita itu, bibir yang terasa seperti oase yang pada akhirnya ia temukan di hamparan gurun pasir. Jantungnya berdebar tak menentu dan hasrat birahinya bangkit karna merasakan nikmatnya bibir Dhatu. Ia menginginkan lebih. Dirjnya akan mendapatkan Dhatu, untuk saat ini hanya tubuhnya, namun jika terus memaksa, maka tidak mustahil jika ia bisa membut Dhatu kembali mengakui perasaan yang ada di dalam diri mereka.
Alvin mulai membuka kemeja yang dikenakan Dhatu dan mengambil tempat di atas wanita itu. Gunung kembar Dhatu yang baru pertama kali dilihatnya, membuatnya kehilangan akal sehat, ingin merasakan lebih dan menyatukan kedua tubuh mereka yang akan membuatnya merasa semakin menyatu dengan Dhatu.
"Jangan melakukan hal lebih, Vin. Kita nggak boleh melewati batas yang sewajarnya."
Alvin menarik tangannya kembali dan menatap Dhatu sendu. "Kamu nggak sayang sama aku?" ia mengusap lembut wajah Dhatu, "tenang, Tu. Ini aku dan aku akan melakukannya penuh kelembutan. Aku ingin memilikimu seutuhnya."
__ADS_1
"Kita adalah orang Timur dan sudah semestinya berpegangan pada adat Timur di mana hubungan badan nggak seharusnya dilakukan tanpa terikat dalam hubungan pernikahan. Mencintai, nggak berarti harus menyatukan tubuh, melainkan hati kita yang harusnya saling menyatu."
"Tu ... kamu nggak percaya sama aku?" lelaki itu menatap ke dalam manik mata Dhatu, "aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku. Aku akan menjadi yang pertama dan juga terakhir bagimu, Tu. Percaya sama aku!" Alvin berusaha kembali mendekatkan bibir mereka, namun Dhatu segera menjauh.
"Masalah hubungan yang melewati batas nggak ada kaitannya sama kepercayaan." Dhatu mulai kesal dengan Alvin yang menganggap remeh saat meminta hartanya yang paling berharga.
"Kalau kamu terus begini, lebih baik kita udahan aja, Vin," ucap Dhatu menatap Alvin penuh amarah, "kalau kamu benar mencintaiku, maka kamu akan menjagaku dengan baik. Bukannya mau merampas kehormatanku begitu aja," lanjut Dhatu seraya berdiri.
Dengan cepat Alvin menarik tangan Dhatu, lalu berdiri dan memeluk erat tubuh Dhatu. Tubuh Alvin bergetar hebat dan hatinya diliputi rasa takut saa mendegar Dhatu yang mau meninggalkannya. Ia tak mau kehilangan Dhatu.
"Maafin aku, Tu. Aku nggak akan memaksamu melakukan hal yang nggak kamu sukai," bisik Alvin tepat di telinga Dhatu.
"Kamu nggak akan bisa mempertanggungjawabkan perbuatanmu, Vin. Toh, kamu nggak bisa mempertahankan martabatku di hadapan keluargamu."
__ADS_1
Alvin terdiam, terpaku mendengarkan perkataan Dhatu. Separah dan sepengecut itu kah dirinya? Padahal ... dirinya selalu melakukan yang terbaik untuk wanita itu.