
Begitu tiba di Bandar udara Ngurah Rai, keduanya disambut dengan seorang lelaki muda yang memegang papan nama bertuliskan nama mereka. Keduanya saling melirik, tak tahu jika ibu mereka menyewa seorang tour guide bagi keduanya. Ponsel Dirga berbunyi, ia segera menjawab panggilan dari Lestari.
"Udah ketemu I Wayan Abra?" tanya Lestari begitu Dirga mengucap kata halo. Dirga menatap meneliti lelaki yang kini tersenyum ke arah mereka, seakan mengerti mereka lah orang yang tengah ditunggunya.
"Sepertinya udah," ucap Dirga sembari tersenyum pada lelaki yang berjalan mendekat, "Mama nggak bilang kalau menyewa tour guide untuk kami. Padahal, aku udah berulang kali ke Bali dan nggak perlu seorang guide."
Lestari berdecak sebal. "Karna kamu nggak bisa diharap. Kalau Mama nggak nyewa, kamu pasti akan meninggalkan Dhatu di kamar. Dia akan mengatur perjalanan kalian. Nikmati bulan madunya dan pulang bawa cucu sebagai oleh-olehnya."
Panggilan segera terputus dan Dirga tak sempat merespon keegoisan ibunya. Dirga melirik Dhatu, lalu berkata. "Mama nyewain kita tour guide, namanya I Wayan Abra," Dirga menjelaskan.
Dhatu mengangguk-angguk mengerti, lalu menoleh pada lelaki muda yang sudah berdiri di hadapan mereka. Dhatu tersenyum, begitupun dengan Abra.
"Selamat siang, nama saya I Wayan Abra dan saya bertugas untuk menemani perjalan Ibu dan Bapak di Bali." Abra mengulurkan tangannya yang disambut oleh Dirga sembari menyebutkan namanya. Lalu, lelaki itu melakukan hal yang sama pada Dhatu.
"Saya akan mengantar Ibu dan Bapak ke hotel terlebih dahulu. Apa bisa berikan saya voucher hotel, agar nanti saya bantu proses check in nya."
Dhatu merogoh tas tangan, lalu mengulurkan amplop putih pada Abra. "Terimakasih. Mari, saya bantu bawakan kopernya."
__ADS_1
"Saya bisa bawa punya saya sendiri. Kamu bisa bantu membawa koper Dhatu," ucap Dirga sembari melirik Dhatu sekilas. Abra mengangguk mengerti dan segera mengambil koper Dhatu.
Dirga menatap lelaki yang berjalan di hadapan mereka dengan curiga. Takut-takut lelaki itu bukan sekedar tour guide, melainkan mata-mata ibunya guna menyelidiki kedekatan mereka di Bali. Dirga segera membawa tangan Dhatu ke dalam genggamannya, sedang wanita itu menatap tangan mereka yang saling bergenggaman dan Dirga secara bergantian. Dhatu benci pada dirinya, pada jantungnya yang kerap berdegub kencang hanya karna tangan mereka saling bergenggaman. Berulang kali ia mengingatkan dirinya sendiri, jika lelaki itu bukan miliknya. Ada wanita lain yang mengisi benak maupun hati lelaki di sampingnya.
Dirga yang dapat merasaka kegugupan wanita di sampingnya menghentikan langkah, lalu berbisik. "Maaf, aku takut dia mata-mata Mama."
Dhatu mengangguk mengerti. "Ya, aku tahu."
Padahal ia tak tahu dan terbuai dalam kesemuan yang tercipta di antara mereka. Dirga tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Sesekali Dhatu mencuri pandang ke arah Dirga. Hatinya berdesir hangat. Mungkin karna genggaman tangan lelaki itu, atau senyum yang lelaki itu persembahkan. Semua ini terlihat begitu nyata, walau kesemuan bersembunyi di antara kebersamaan mereka.
Dirga membukakan pintu untuk Dhatu, sementara dirinya membantu Arba yang memasukkan barang bawaan mereka ke dalam bagasi mobil. Sedetik kemudian, Dirga menyusul Dhatu, lalu duduk di samping wanita itu. Mereka saling bertukar senyum.
"Udah," ucap Dirga singkat.
Perjalanan menuju hotel mendadak hening, Dhatu terhanyut dengan pemandangan di luar jendela. Sementara Dirga sibuk dengan ponselnya, mengirimkan pesan pada Kana tentang keberadaan dan juga kegiatannya. Ia sengaja tak memberitahu Kana tentang alasan sebenarnya ia pergi ke Bali, hanya mengatakan ada urusan bisnis yang tak bisa ditunda. Ia ingin menjaga hati Kana, agar tak terluka dan berpikir aneh karna memikirkan kebersamaannya bersama Dhatu yang sebenarnya tak perlu dikhawatirkan. Sesungguhnya, ia merasa bersalah karna menyembunyikan kebenaran dari Kana, akan tetapi, ini semua dilakukannya untuk kebaikan wanita itu.
Perkataan Dhatu kembali terlintas di benaknya. Mencintai itu harus dibarengi dengan tanggungjawab. Arti lain, jika mencintai seseorang, harusnya ia berani mempertanggungjawabkan perkataannya dan maju walau dunia menentang. Aneh, cinta yang dirasakannya pada Kana tak sebesar itu atau memang dirinya yang terlalu menyombongkan cinta yang ada? Mengatakan cinta dengan mudah, tanpa mengerti arti dari perkataan itu.
__ADS_1
"Setelah check in dan meletakkan barang-barang. Jadwal kita adalah mengunjungi The Keranjang Bali," Abra mencairkan keheningan di mobil itu.
"Bisa kita mulai jadwalnya besok? Aku dan istri, mau istirahat di hari pertama kami di sini. Perjalanan singkat ini cukup menyita tenaga kami."
Dirga tak mau pergi keluar di hari pertama kedatangan mereka. Ia mau menikmati hal yang tak pernah ia dapatkan di Jakarta, yaitu beristirahat. Lagipula, ia yakin jika Dhatu lelah. Ia tahu, jika semalaman wanita itu tak tidur. Tubuh Dhatu yang menggeliat resah ke sana-ke mari di sampingnya kemarin malam turut membuatnya terjaga, hingga ia butuh tidur yang pulas hari ini. Mungkin, kebersamaan mereka selama seminggu ini membuat Dhatu khawatir, hal yang sebenarnya mengganggu benaknya juga.
"Baik kalau begitu, Pak. Saya akan datang kembali besok pagi, jam delapan pagi. Silahkan beristirahat," ucap lelaki itu menatap Dirga sekilas melalui spion tengah, lalu kembali memfokuskan pandangan ke jalanan di depannya.
"Kamu butuh istirahat, Tu," ucap Dirga karna tak merima respon apa pun dari Dhatu. Ia tahu, tak seharusnya ia mengambil keputusan sepihak, namun ia yakin jika Dhatu adalah wanita yang sulit menolak. Dhatu menoleh, lalu mengangguk pelan.
Begitu banyak tanya yang mengganggu benak Dhatu, sehingga ia lebih memilih terdiam. Memikirkan pernikahan dan kebersamaan mereka membuat dadanya sesak bukan main. Mereka hanya tengah mengukir kenangan bersama tanpa bisa merasakan nikmatnya kebersamaan mereka itu. Mungkin, hanya dirinya yang diam-diam larut dalam sandiwara yang tengah mereka pertunjukkan.
Menit demi menit berlalu, Abra memberikan key card pada Dirga, lalu berpamitan. Dirga dan Dhatu mengucapkan terimakasih. Keduanya berjalan menuju kamar dengan menjaga keheningan di antara mereka. Sungguh, sikap diam Dhatu menyiksa Dirga. Ia berulang kali memikirkan apa yang telah terjadi pada wanita itu beberapa menit lalu hingga wanita itu betah berdiam diri di sampingnya? Apa dirinya ada salah berucap?
Pintu lift terbuka, keduanya keluar. Dirga mencari-cari nomer kamar yang tertera di pintu, sedang Dhatu memilih menunduk dan mengikuti Dirga dalam diam. Kata-kata cinta Dirga yang diucapkan untuk wanita lain itu, hingga kini terus terlintas dibenaknya, mengantarkan rasa pedih yang tak bisa ditolerir.
Dirga yang berhenti secara tiba-tiba membuat Dhatu menabrak punggung lelaki itu. Dengan cepat, Dirga membalikkan tubuh saat merasakan Dhatu yang menabraknya, terlalu tiba-tiba, hingga membuat Dhatu cemas dan kehilangan keseimbangan. Beruntung Dirga dengan cepat menangkap tubuhnya. Dhatu yang tadinya memejamkan mata, bersiap menerima sakit yang akan menerpa bokongnya pun membukanya perlahan saat merasakan tangan yang berhasil menangkap tubuhnya.
__ADS_1
Mata keduanya saling bertatapan saat Dhatu membuka mata, jarak di antara wajah mereka begitu tipis, hingga Dhatu bisa merasakan deru napas memburu lelaki itu di wajahnya. Jantung Dhatu berdegub liar. Dirga semakin mendekatkan wajahnya dan tatapan Dhatu turun pada bibir lelaki itu, membayangkan kelembutan bibir lelaki itu saat bersentuhan dengan bibirnya. Kerja jantung yang begitu kencang membuat tubuh Dhatu semakin lemah. Mungkinkah ia jatuh cinta?