
Operasi Dirga berjalan lancar. Semua orang yang ada di sana mengucap syukur. Dirga kini telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Lestari dan Dian memaksa Dhatu kembali ke rumah ditemani oleh Rina dan juga Krisna untuk membersihkan dir dan sedikit beristirahat. Awalnya Dhatu menolah dan bersikeras untuk tetap tinggal, namun ayahnya melarang, meminta Dhatu memikirkan anak mereka. Mau tak mau Dhatu pun menurut.
"Maaf karna aku selalu merepotkan kalian," ucap Dhatu begitu sampai di rumahnya dan mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk.
Sedari tadi, tak ada pembicaraan yang mewarnai kebersamaan mereka. Sesekali Rina menyampaikan kata-kata penyemangat dan memeluk erat tubuh Dhatu. Setidaknya, hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini.
"Kami nggak pernah sekalipun merasa direpotkan. Ya kan, Mas?" Rina menoleh pada Krisna yang dibalas dengan senyum dan anggukkan.
"Yang terpenting sekarang Pak Dirga sudah dalam keadaan stabil dan kamu pun harus kuat untuk bisa merawatnya," ucap Krisna mengelus lengan Dhatu.
Dhatu memeluk keduanya secara bergantian dan mengucapkan terima kasih. Dhatu meminta keduanya untuk duduk dan buat dir mereka seakan di rumah sendiri, sementara Dhatu mulai berjalan ke kamar, menyiapkan pakaiannya untuk dibawa ke rumah sakit, lalu segera membersihkan diri.
Tidak lama menunggu, Dhatu sudah kembali dengan tas jinjing di tangannya. Krisna segera mengambil tas itu dari Dhatu.
"Baiknya kamu tidur aja dulu, Tu," ucap Rina menatap iba sahabatnya. Lingkaran hitam pada mata Dhatu menandakan jika wanita itu kurang beristirahat.
Rina pun melihat sendiri bagaimana Dhatu selalu berjaga di sisi Dirga, tidur di sofa dekat ranjang lelaki itu dengan tidak nyaman dan sesekali terbangun. Entah mengapa di dunia ini ada cinta yang begitu gila, hingga rela menyakiti orang lain, dan sebagian lagi rela membuang wakt istirahatnya untuk terus menanti orang yang ia sayangi. Cinta terlalu rumit untuk dimengerti. Kita yang sedang jatuh cinta dapat menjadi seorang pahlawan super dan begitupun sebaliknya, bisa berubah menjadi seorang pengecut yang lemah.
Dhatu menggeleng. "Aku mau segera melihat Mas Dirga. Aku janji, akan tidur di sana. Ada sofa yang bisa kutempati untuk tidur," ucap Dhatu sembari menatap sahabatnya memohon. Ia tak akan merasa aman dan nyaman sebelum melihat suaminya. Ia ingin menemani lelaki itu hingga ia membuka mata, Dhatu ingin menjadi orang pertama yang lelaki itu lihat begitu ia membuka mata. Dirinya pun tak ingin Dirga merasa khawatir saat tak menemukannya. Ia merindukan suaminya. Dhatu ingin menggenggam tangan lelaki itu erat-erat.
Krisna menggengam lengan Rina dan menggeleng, memberikan kode agar Rina tak lagi memaksa Dhatu. Apa yang mereka lakukan hanya akan membuat Dhatu semakin tak tenang.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit, tapi janji nanti istirahat dulu ya," pinta Krisna lembut. Dhatu tersenyum dan menanggukkan kepala dengan antusias.
Menit demi menit telah berlalu, Dhatu melebarkan langkah, tak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya. Ia membuka pintu dan menemukan Dirga masih terbaring lemah di ranjang, mata lelaki itu masih terpejam, sama seperti kondisi saat ia meninggalkan lelaki itu. Darma dan Sanjaya menyambut mereka bertiga dan menceritakan tentang kondisi Dirga saat ini pada Dhatu. Lestari dan Dian diminta pulang, kedua para lelaki paruh baya itu yang akan bergantian jaga.
Dhatu segera menarik kursi dan duduk di samping suaminya. Semua yang ada di sana, menatap wanita itu penuh iba.
"Tu ... kamu tidur aja dulu, biar papa yang berjaga," ucap Sanjaya yang kini sudah berdiri di samping Dhatu.
Dhatu menggeleng. "Aku akan berjaga, papa istirahat aja dulu, biar kita gantian nanti."
Darma menatap putri semata wayangnya, ia tahu jika Dhatu menginginkan waktu berdusa saja dengan suaminya, lalu menepuk pelan lengan sahabatnya. "Kita makan dulu, biar Dhatu yang berjaga."
Sanjaya yang seakan mengerti maksud sahabatnya itu mengangguk pelan. "Kalau gitu, kami tinggal dulu. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi kami," ucap Sanjaya yang dibalas dengan anggukkan oleh Dhatu.
Krisna dan Rina izin pergi dan meninggalkan Dhatu. Kini ruangan itu hanya diisi oleh Dhatu dan juga Dirga. Dhatu tersenyum dan mengusap pelan wajah suaminya.
"Mas ... nggak capek tidur mulu?" Dhatu tersenyum miris.
"Maaf karna aku melupakanmu. Mendengar kisah masa lalu tentang kita, membuatku merasa bodoh karna melupakanmu. Tapi, takdir itu memang ajaib. Walau kita sudah dijauhkan, pada akhirnya, dia membawa kita kembali," Dhatu menempatkan kepalanya pada dada bidang Dirga dan menautkan jemarinya di sela jemari lelaki itu. Ditatapnya genggaman tangan mereka dengan senyum lembut, hatinya menghangat. Ia menyukai takdirnya, bertemu dan kembali jatuh cinta.
"Ternyata, bukan hanya kenangan yang bisa membuat sepasang manusia jatuh cinta. Buktinya tanpa kenangan kita kembali menemukan. Lagi dan lagi menjatuhkan hati pada orang yang sama. Bukankah takdir ini sungguh manis, Mas?"
__ADS_1
Kini air mata Dhatu mengalir, dadanya sesak bukan main. Ia merindukan lelaki itu. Suaranya, gelak tawa, dan kehangatan yang serinh lelaki itu bagi untuknya. Dhatu memeluk suaminya dan menangis terisak.
"Aku sangat merindukanmu, Mas."
"Bekas tembakannya ternyata masih sakit, Tu."
Dhatu terperanjat mendengarkan suara yang begitu familiar di telinganya. Cepat-cepat Dhatu melepaskan pelukannya dan menatap lelaki yang kini tersenyum lembut padanya. Bukannya menghentikan air mata, justru tangisnya semakin menjadi-jadi. Dirga yang panik mencoba mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Dhatu, namun seluruh tubuhnya terasa lemah, hingga dirinya tak bisa menghilangkan getaran pada tangannya.
Dhatu yang menyadarinya segera menggenggam tangan Dirga, menunduk dan membiarkan tangan lekaki itu menyentuh wajahnya. Dirga tersenyum dan menatap Dhatu dalam-dalam.
"Kamu jelek banget kalau lagi nangis."
"Biarin aja. Semua ini karnamu, Mas. Jangan pernah melakukan hal berbahaya seperti itu lagi. Jantungku seakan diremas dan kamu nggak tahu apa yang tekah kulalui, Mas. Aku nggak mau merasakan ketakutan seperti itu lagi." Air mata Dhatu mengalir semakin deras.
Dirga tersenyum menenangkan dan mengusap air mata wanita itu. "Aku nggak mau berjanji untuk nggak melindungimu. Aku bisa mati jika hal buruk terjadi padamu, Tu. Aku telah mencibir udara, menjadikanmu satu-satunya alasanku untuk terus bernapas, jadi aku nggak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu."
"Aku nggak mau kamu kenapa-napa, Mas," Dhatu meraung bagai anak kecil dan memeluk Dirga. Dirga mengusap-usap lembut punggung wanita itu dan senyum menghiasi wajah tampannya.
"Gimana kalau kita berjanji untuk saling menjaga aja. Bersama selamanya dan nggak akan pernah bosan satu sama lainnya."
Senyum Dhatu mengembang. "Aku akan menjadi beban hidupmu untuk selamanya, Mas. Kita akan memamerkan pada orang, jika abadi itu memang ada dan perasaan kitalah yang abadi."
__ADS_1
Dhatu melepaskan pelukan mereka, menangkup wajah Dirga dengan kedua tangannya. Mencium kening, hidung, dan berakhir pada bibir lelaki itu. Selamanya mereka akan selalu bersama. Mengarungi suka dan duka hingga ajal menjemput.